
Amir terus mengejar Aminah hingga diluar halaman. Namun saat Amir sudah melihat Aminah yang ingin menyebrang, tiba-tiba sebuah mobil melintas dengan kencang dan menabrak tubuh Aminah, hingga Aminah terpental.
"A......!!" teriak Minah dengan nada panjang.
Amir diam tak bergerak, persendiannya terasa mati. Begitu pula dengan orang-orang yang berada di belakang Amir.
Mereka semua berlari ke arah Aminah yang terkapar di aspal.
"Aminah!!!!" teriak mereka semua
Amir yang terlebih dahulu sudah berada di dekat Aminah, langsung memangku kepala Minah di pahanya.
"Minah! Aminah sayang bangun..." Amir menepuk pipi Aminah pelan diiringi tetesan air mata.
"Aminah... Jangan meninggalkan ku, kita sebentar lagi akan menikah.. Bangun Minah bangun!!!" Amir menangis melihat keadaan menyedihkan Aminah. Kepala dan hidung yang mengeluarkan darah.
"A.. Aresha!!!" Silva berjongkok lesu di samping tubuh Aminah.
"Aresha!!! Bangun nak... Mami tidak ingin kehilangan kamu untuk yang kedua kalinya, bangun Aresha.. Hiks.." Silva menggoyangkan pundak Aminah.
Amir menghapus air matanya. Dia menoleh ke arah Leon, dan menatap Leon tajam. Amir meletakkan kepala Minah di tangan Silva, dan dia berdiri kemudian mendekat ke arah Leon.
"Apa yang anda pikirkan sekarang, Tuan? Apa anda puas? HAH! ANDA PUAS!!" bentak Amir di hadapan wajah Leon.
Leon diam saja, matanya berembun dan dia tetap menatap lurus ke arah Aminah. Seorang gadis yang sangat dia cintai, saat ini tengah terluka di depan matanya.
"Dengarkan saya, Tuan Richard! Jika terjadi apa-apa dengan calon istri saya. Maka saya, Amir Arsalaan bersumpah tidak akan memaafkan anda dan akan membuat perhitungan kepada anda! Ingat itu." Amir menekan setiap katanya dengan wajah emosi, dan dia kembali menuju ke arah Aminah.
Amir mengangkat tubuh Aminah, dan membawanya masuk ke mobil.
"Ayo, Pa! Kita bawa Minah ke rumah sakit."
Shidiq menganggukkan kepala, dan mengikuti langkah Amir.
"Tuan dan Nyonya! Kalian semua bisaa ikut, maafkan Amir yang sedang emosi dan khawatir." Karin berbicara sopan kepada tamunya.
Sam menganggukkan kepala.
"Baik, Nyonya! Kami akan menyusul nanti menggunakan mobil kami sendiri."
__ADS_1
Karin mengangguk dan dia pergi meninggalkan Sam, Iva dan juga Leon.
Samuel mendekat ke arah Silva.
"Ayo, Va. Kita ke rumah sakit,"
"Sam, aku takut terjadi sesuatu dengan Aresha. Aku tidak ingin kehilangan putri kita lagi Sam.." Silva terisak di dalam pelukan Samuel.
"Sudah, jangan menangis. Kita doakan saja tidak terjadi apa pun dengan Aresha," Sam mengelus lembut pucuk kepala Silva.
"Leon, ambil mobil dan kita langsung berangkat ke rumah sakit!" perintah Sam kepada Leon.
Leon hanya menganggukkan kepala lesu, dan dia berjalan gontai mengambil mobilnya.
'Jika terjadi sesuatu dengan Aresha, maka aku tidak akan memaafkan diriku sendiri. Dasar Leon bodoh, bodoh, bodoh..' Batin Leon memaki dirinya sendiri.
Mobil Amir dan kedua orang tuanya sudah pergi terlebih dahulu, dan tak lama kemudian mobil Leon juga pergi mengikuti mobil Amir.
•
•
•
•
Anindira tengah berada di ruang rawat. Dari beberapa hari yang lalu dia belum sadarkan diri. Silvi sang bunda dengan setia menemaninya setiap hari di ruangan itu.
"Aw,,," suara lirih dan pelan keluar dari bibir Nindi.
Silvi tersenyum dan terus menatap wajah pucat putri tunggalnya itu.
"Nindi sayang,,," panggil Silvi lembut.
Perlahan mata Anindira terbuka, dan dia melihat sekelilingnya.
"K.. Kak Leon," kalimat pertama yang Nindi ucapkan.
Silvi meneteskan air mata. Pasalnya, Leon tidak pernah menemani Anindira, jangankan menemani, menjenguk saja Leon tidak pernah. Mungkin karena Leon masih kecewa dengan Nindi, Silvi juga sudah tahu semua kejahatan putrinya itu dari Leon.
__ADS_1
"Nak.. Ini Bunda," ujar Silvi pelan sambil mengelus lembut kepala Nindi.
"Bu..Bunda,, Dimana kak Leon?" ucap Nindi lirih
"Leon sedang mencari keberadaan Aresha. Dia sudah menemukan Aresha, dan saat ini Leon, Om, juga Tante kamu sedang menemuinya." Silvi masih meneteskan air mata.
Nindi berusaha untuk duduk, namun sebelah kakinya terasa kebas dan berat.
"Bun.. Ada apa dengan sebelah kaki Nindi? Kenapa seperti mati rasa?" Nindi memegang kakinya sendiri.
"Nak.. Dokter bilang, kamu mengalami kelumpuhan di sebelah kaki kanan kamu. Dan.. Kamu juga keguguran, dokter mengatakan bahwa kamu sulit untuk hamil lagi. Sebab benturan yang sangat kuat dari tangga.." Silvi tidak tega menyampaikan kabar buruk itu kepada putri tunggalnya.
"A..Apa!" Nindi sangat terkejut. Air mata menetes di pipi Nindi..
"Bunda.. Kenapa semua ini terjadi kepada Nindi.. Nindi gak mau lumpuh, Nda.. NINDI GAK MAU!!!!!" Nindi berteriak seraya memukuli sebelah kakinya yang lumpuh. "Anakku,,," Nindi berbicara lirih sambil terisak, dia juga memegangi perutnya yang terasa perih.
"Sabar, Nak.. Anggap saja ini adalah teguran dari tuhan karena semua perlakuan jahat kamu.." Silva memeluk tubuh Nindi dari samping. "Mungkin kamu seperti Bunda dulu, Bunda juga seorang pembunuh nak..."lanjut ucapan Silvi diiringi tangisan
"Bunda... Maafkan Nindi... Nindi menyesal, Nindi ingin bertobat..."
"Semua sudah terlambat nak, menyesal juga tidak ada gunanya. Nyawa seseorang yang kamu bunuh juga tidak akan bisa kembali lagi.. Tapi kamu memang harus bertobat,, Jangan pernah ulangi kejahatan apa pun lagi.. Ayah kamu juga marah besar, tapi dia tidak marah di hadapan kamu.. Dan untung saja kakek juga nenek kamu di luar negeri, jika mereka berada di sini.. Bunda tidak tahu apa yang mereka rasakan dan pikirkan.." Silvi berbicara masih sambil menangis.
Ibu dan anak itu berpelukan dan menangis.
•
•
•
•
•
Halo guys..
Happy Reading..
Mom akan crazy up untuk penutupan cerita ini..
__ADS_1
Jangan lupa selalu berikan dukungan dan jejaknya.. Sampai jumpa di part selanjutnya, Bye bye 😘😘