
Pukul 16.00 Wib. Leon tengah duduk di kursi belakang mobilnya.
"Bagaimana ini Ren? Sepertinya pemilik pertambangan ikan itu suka sekali mengulur waktu. Sudah sangat lama kita menunggunya!"
Leon terus saja mengomel sedari tadi. Pasalnya, pukul 1 siang mereka janjian, akan tetapi sekarang sudah pukul 4 sore.
"Sebentar lagi hari hampir gelap. Bagaimana kita harus meninjau lokasi untuk membangun puskesmas di desa itu?" Leon tidak henti-hentinya mengomel. Hingga Rendy bingung harus bagaimana.
"Berisik benget sih lo, Le.. Panas kuping gue dengerin ocehan lo mulu!" Rendi menggosok-gosok telinganya sendiri.
Plak.
Leon memukul kepala Rendy dari belakang.
"Yang sopan lo sama bos!."
"Halah.. Di kantor lo bos gue, kalau sekarang lo cuma sahabat gue. Gak ada tuh yang namanya bawahan dan atasan!" Rendy mengusap kepala belakangnya yang di pukul Leon.
"Sakit pala gue, Le.. Sial lo! kuat banget mukulnya."
Leon hanya terkekeh, dan dia meninju pelan punya belakang milik Rendy. Sebab, Rendy saat ini duduk di kursi kemudi.
"Sorry, Bro. Gak sengaja kekuatan tadi mukulnya." Leon mengelus kepala Rendy
Rendy memajukan kepalanya ke depan, menghindari tangan Leon.
"Gak usah gitu juga, Le.. Ntar ada yang lewat dikira kita gay lagi." Rendy bergidik ngeri sendiri..
"Ck! Amit-amit." sahut Leon kesal.
__ADS_1
Rendy adalah anak dari mantan tangan kanan Gilang, Papa Leon. Maka dari itu, Leon dan Rendy sudah seperti saudara. Karena, Gilang menganggap Ayah Rendy yaitu Bani seperti adik kandungnya sendiri. Ayah Rendy sudah meninggal dunia, akibat kecelakaan yang dilakukan oleh rekan bisnis Gilang, tentu rekan bisnis itu mempunyai dendam kepada Gilang. Maka nyawa Bani lah yang terancam.
"Gue punya ide! Gimana kita menginap saja di sini? Lo telepon Nindi supaya tidak khawatir. Nanti gue bantuin ngomong juga.." Rendy memberikan saran, agar tidak bolak balik datang ke desa itu.
Leon terdiam sejenak, dan tak lama kemudian dia menganggukkan kepalanya.
"Oke. Gue setuju, tapi gue gak mau tidur di mobil. Kita tanya ke warga sekitar, dimana biasanya penginapan jika ada pendatang yang ingin bermalam di desa ini,"
Rendy mengangguk, dan dia melajukan mobil masuk ke desa.
"Kita sekian tanya dimana rumah pemilik pertambangan itu. Nomor ponsel tidak aktif, jangan sampai dia ternyata hanya membohongi perusahaan kita saja!" ujar Leon sambil mengotak-atik ponsel nya. Dia mengirimkan pesan kepada Anindira, bahwa dirinya hari ini tidak pulang.
"Iya... Tenang aja deh lo! Gue udah mikirin semuanya. Lo gak perlu bingung." Rendy sangat bosan dari tadi mendengarkan kekesalan bos sekaligus sahabatnya itu.
Beberapa menit kemudian.
Mobil Leon dan Rendy sudah sampai di salah satu rumah warga.
"Iya nger.. Sabar!" Rendy melepaskan sabuk pengaman, dan dia turun dari mobil.
Rendy menghampiri seorang gadis yang usianya kira-kira 18tahun.
"Permisi.. Boleh saya numpang tanya?" ujar Rendy sopan
Gadis yang tadinya sedang bermain ponsel itu mengangkat kepalanya. Dan dia tersenyum saat melihat wajah tampan Rendy.
"Ada apa ya, Mas?"
"Saya mau tanya, di sini tempat penginapan dimana ya?"
__ADS_1
"Penginapan? Mas pendatang?" gadis itu meletakkan ponselnya, dan menatap Rendy dari atas sampai bawah.
'Sepertinya dia dari kota. Penampilannya aja rapi begini. Kayak pekerja kantoran' Batin gadis itu.
Rendy menatap heran gadis muda di hadapannya.
"Maaf, Nona!.Apa anda bisa menjawab pertanyaan saya tadi?" Rendy menepuk pelan kedua telapak tangannya.
Gadis itu terkejut dan kemudian tersadar dari lamunannya.
"Eh.. Iya Mas, maaf!" sang gadis tersenyum malu.
"Jika ingin menginap, biasanya di rumah---" sebelum gadis itu menyelesaikan ucapannya, seseorang dari dalam menghentikan perkataan gadis itu.
"MELLA!!!!!"
.....
Menginap dimana kira-kira Leon dan Rendy ya?? 🙈
**Leonardo Richard 😍 (LEON).
...
Happy Reading Guys..
See you next part, Bye Bye..
__ADS_1
Jangan lupa berikan dukungan dan tinggalkan jejaknya ❤❤**