Hasrat Sepupu (Pengkhianatan)

Hasrat Sepupu (Pengkhianatan)
Merayakan kerjasama


__ADS_3

Pukul 19.30 GMT.


Di sebuah Restauran yang megah. Leon sudah duduk sendiri di meja nomor 05. Dia sedang menunggu rekan kerjanya yaitu Excel.


"Kenapa lama sekali?" gumam Leon melihat jam yang melingkar di tangannya. Pasalnya, Leon dan Excel janjian pukul 19.00 GMT, namun sekarang, sudah pukul 19.30 GMT. Excel terlambat 30menit dari waktu yang sudah di tentukan.


Di tempat lain.


"Nindi!!!" Silvi mengetuk pintu kamar Anindira.


"Iya Bun!!! Sebentar!!!" Nindi berteriak dari dalam kamar.


Ceklek


Nindi membuka pintu kamarnya.


Silvi terpukau melihat penampilan sang putri.


"Kamu cantik sekali sayang," ujar Silvi.


"Nindi kan memang cantik Bun," Nindi tersenyum lebar.


"Sudah sudah.. Ayo turun, Ex sudah menunggu kamu."


Silvi dan Nindi berjalan turun ke lantai bawah.


"Ex..." sapa Nindi saat sudah berada di dekat sofa yang Excel duduki.


Excel menoleh ke arah Nindi.


'Cantik,' satu kata yang langsung keluar dari mulut Excel.


"Ex, kenapa diam saja?" Nindi bertanya sambil menepuk pundak Excel pelan.


"Eh.. Maaf sweetu. Kenapa kamu lama sekali? Rekan kerja ku pasti sudah menunggu.


Nindi menoleh ke arah Silvi yang hanya menahan tawanya.

__ADS_1


"Em.. Bunda permisi ya," Silvi yang sadar jika sang putri ingin bicara dengan Excel, langsung berlalu pergi.


"Ex.. Apa kita akan menemui rekan kerja mu itu?"


Excel berdiri dari duduknya.


"Tentu saja. Aku dan dia sudah resmi bekerja sama, jadi kami ingin merayakan kerja sama ini."


"Tapi Ex.. Aku tidak mau,"


"Why? Bukankah kamu sudah setuju, untuk makan di luar malam ini?" Excel mengerutkan dahinya.


"Aku memang mau. Tapi jika harus bertemu dengan klien mu juga, rasanya aku malu."


Bola mata Excel melebar. "Kamu malu karena diriku?" Excel salah paham.


"Bukan.. Aku bukan malu karena berpasangan denganmu. Tapi aku belum PD Ex.. Kamu sempurna, tampan, mapan, bijaksana, sedangkan aku, aku tidak sebanding denganmu." ujar Nindi merendah.


"Hei.. Kamu mengakui kelebihan ku? tapi, kenapa kamu tidak mau menikah dengan ku? Hm!" Ex menaik turunkan alisnya.


"Sudahlah! Kenapa jadi membahas itu? Aku memang belum mau menikah," Nindi berjalan meninggalkan Excel yang mematung heran.






Di hotel Aresha dan Amir.


"Mas,,," Aresha mendesah di bawah kuasa Amir.


"Sebentar lagi sayang.. Aku akan mengeluarkannya di dalam," ucap Amir dengan nafas memburu.


"Em.." Aresha mengangguk nikmat.

__ADS_1


Amir mengerang panjang, dan tersembur-lah lahar putih di dalam rahim Aresha. Tubuh Amir ambruk di atas tubuh polos Aresha.


"Terimakasih sayang..." ungkap Amir dengan penuh cinta. Dia mengecup lembut kening Aresha.


"Sama-sama," sahut Aresha dengan mengatur nafasnya.


Amir membaringkan tubuh di samping Aresha.


Aresha menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka berdua.


"Sayang.. Lusa kita pulang, besok kita akan belanja oleh-oleh," Amir berkata sambil mengelus lembut rambut Aresha.


"Iya, Mas. Aku akan memberitahu kak Susi dan semua para pegawai," sahut Aresha.


"Apa kamu lelah?'' Amir menatap wajah Aresha yang bersandar di pundaknya.


"Heem," Aresha mengangguk. "Kenapa?" lanjut Aresha bertanya heran.


"Aku menginginkannya lagi," ucap Amir tanpa merasa lelah.


"Astaga Mas.... Aku lelah, besok lagi saja," Aresha menyembunyikan wajahnya di curuk leher Amir.


Amir hanya tersenyum melihat tingkah istrinya. Dia memeluk tubuh Aresha, kemudian mereka berdua tertidur bersama.


.....



**Peluk Mommy dong Mas 😍😍.


....


Happy Reading guys..


See you next part 🤗


Jangan lupa untuk meninggalkan jejak dan.dukungannya.😘

__ADS_1


terimakasih 🤗**


__ADS_2