Hasrat Sepupu (Pengkhianatan)

Hasrat Sepupu (Pengkhianatan)
Ingatan yang pulih,


__ADS_3

3 hari kemudian.


Amir selalu setia menemani Aminah yang berada di ruang rawat.


"Ya allah, semoga Aminah segera sadar," Amir berdoa terus, saat ini dia sedang duduk di kursi depan ruang rawat.


Dari kejauhan terlihat rombongan Leon, Samuel, Silva, dan juga kedua orang tua Amir.


"Nak,,," Karin memegang pundak Amir


Amir menoleh ke arah sang Mama. Karina sedih melihat keadaan putra nya yang sangat tidak terurus. Rambut acak-acakan, kantung mata terlihat, dan juga badan sedikit menyusut. Mungkin Amir tidak merawat badannya sendiri, dan tidak makan teratur.


"Kamu sudah makan, Nak?" Karin memegang pundak Amir


Amir menggelengkan kepalanya.


Silva pun berjalan mendekat ke arah Amir. Jika memang Aminah itu adalah Aresha, maka dia sangat beruntung putrinya mempunyai calon suami seperti Amir.


"Amir,, Makanlah sedikit saja. Kamu juga harus menjaga kesehatan mu, agar jika Aminah sadar dia tidak merasa bersalah dan bersedih melihat keadaan kamu saat ini," Silva memberikan sekotak makanan dan juga aqua.


Amir menatap nasi kotak yang Silva bawa, lalu dia menatap wajah Silva.


Perlahan tapi pasti, tangan Amir menerima pemberian dari Silva. Setelah itu dia duduk di kursi dan membuka nasi kotak itu. Amir melahap makanannya dengan cepat. Memang dari kemarin malam dia belum makan, sampai saat ini sudah pukul 10.00 Wib.


Dokter datang untuk memeriksa kembali kondisi Aminah.


"Permisi! Saya ingin memeriksa keadaan pasien," Dokter wanita setengah baya itu pun masuk ke dalam ruang rawat.


Di dalam ruang rawat Aminah.


"K..Kak Leon,," ucapan lirih keluar dari bibir mungil Aminah.


Dokter dengan cepat memeriksa keadaan Aminah, beliau tersenyum dan langsung memberi kode kepada suster agar mereka keluar dari ruangan itu.


Sesampainya di luar.


"Apa di antara kalian ada yang bernama Leon?" tanya Dokter itu sembari menatap semua orang yang berada di depan ruang rawat Aminah.


"Saya, Dok!" Leon langsung unjuk diri semangat dan senang.


"Pasien sudah sadar, dan sedari tadi pasien memanggil nama anda saja, Tuan! Silahkan masuk, dan yang lainnya mohon menunggu di luar. Sebab keadaan pasien belum pulih total," Dokter tersenyum dan pamit undur diri.


Setelah Dokter pergi, Leon dengan semangat masuk ke dalam ruang rawat Aminah. Sedangkan Amir, dia hanya diam mematung menatap punggung belakang Leon yang sudah hilang di balik pintu ruang rawat.


'Apa mungkin Aminah itu benar Aresha? Itu tandanya, Aminah tidak akan menikah dengan ku,' Batin Amir putus asa.

__ADS_1


Amir duduk di kursi dan menundukkan kepalanya. Shidiq dan Karin sedih melihat keadaan putra mereka.


Di dalam ruangan, Leon tengah duduk di kursi yang berada di pinggir ranjang.


"Aresha... Ini aku," Leon membelai wajah pucat Aminah dengan lembut.


"Kak Leon.." gumam Aminah lirih, dan kelopak mata Aminah pun terbuka perlahan.


"Aresha..." Leon berbinar melihat Aminah yang sudah membuka matanya.


Aminah hanya diam saja. Dia melihat sekitar ruangan.


" Aku dimana?" ucap Minah lirih


"Rere!! Kamu di rumah sakit, sayang," sahut Leon lembut.


Aminah menoleh ke arah Leon.


"Kak Leon," Aminah tersenyum


Leon membalas senyuman Aminah.


"Apa kamu sudah mengingat semuanya?" Leon mengelus lembut pucuk kepala Aminah.


Aminah mengangguk dan memegang kepalanya sejenak.


"Ceritanya panjang. Jika kamu sudah sembuh nanti, aku akan menceritakan apa yang terjadi dengan mu, Hm! Lebih baik sekarang kamu istirahat," Leon mengelus pipi Aminah.


Aminah menganggukkan kepala. Bayangan dirinya akan menikah, dan Nindi yang sudah mencelakainya. Ya, Nindi! Aresha tidak menyangka, bahwa Nindi bisa setega itu terhadap dirinya hanya karena sebuah obsesi, iri dan dendam.


Leon yang melihat Aresha terdiam pun langsung mencolek pipi Resha.


"Hei, apa yang sedang kamu pikirkan? Apa kamu masih tidak ingat dan lupa dengan nama mu sendiri?"


"Maksudnya? Mana mungkin aku melupakan nama ku, dan mengingat nama kakak.." Aresha terkekeh pelan. Dia masih berbicara dengan mada lirih dan pelan akibat baru sadar.


"Memangnya siapa nama kamu?" Leon bertanya dengan menaik turunkan alisnya.


"Kak,, Please jangan konyol. Aku ini Aresha, Aresha Raiqa Nugraha, putri bungsu dari Papi Samuel dan Mami Silva. Aku mempunyai kakak bawel bernama Adzriel. Benarkan?" Aresha menoleh ke arah Leon yang terlihat menyunggingkan senyum manis.


"Benar sekali!" Leon menarik gemas hidung Aresha.


"Dokter bilang, kamu harus banyak istirahat, makan sayur dan buah agar cepat pulih. Jika kamu pulih, maka kamu akan cepat keluar dari ruangan dengan bau tidak menyedapkan seperti ini." Leon memberikan gurauan kepada Aresha.


Aresha tertawa pelan, "Kakak ada-ada saja. Ya sudah, Aku mau istirahat. Kakak keluar ya? Bilangin sama Papi dan Mami jika aku jangan di ganggu dulu," Aresha tersenyum tipis.

__ADS_1


"Siap, Nyonya!" Leon memberikan hormat kepada Aresha.


Aresha hanya tertawa melihat kekonyolan Leon, dan Leon pun keluar dari ruangan itu.


Setelah Leon keluar, Aresha bergumam. "Nindi,,," Aresha terdiam dan melihat ke arah atap ruangannya. Entah apa yang sedang dia pikirkan saat ini.


Leon keluar dari ruangan, dan setelah di luar.


"Bagaimana keadaan Aminah?" Karina langsung bertanya penasaran


"Keadaanya sudah sadar, tapi dia belum pulih total seperti yang dokter katakan tadi." sahut Leon tenang


"Apa dia mengingat masa lalunya?" Silva gantian bertanya.


"Tentu, Tante. Rere mengingat namanya dan juga keluarganya. Tapi Rere masih banyak melamun, mungkin dia sedang berpikir tentang apa yang terjadi padanya. Saya sudah mengatakan bahwa dia harus banyak istirahat agar cepat pulih dan bisa pulang ke rumah. Tadi Rere juga berpesan, bahwa Om dan Tante jangan menemuinya dahulu, dia sedang ingin sendiri dan tidak ingin di ganggu," Leon menjelaskan semua yang Rere katakan tadi.


Sam dan Iva menganggukkan kepala.


"Pi, Aku seneng banget akhirnya putri kita benar-benar sudah kembali," Silva berkata dengan nada bahagia.


Berbeda dengan Sam, Iva, dan juga Leon yang terlihat bahagia.


Amir malah terlihat murung dan sedih, Aminah nya sama sekali tidak mengingatnya.


'Apa ini semua akhir dari kisah asmara ku dengan Aminah?' gumam Amir dalam hati.


Dia berdiri dari duduknya dan berjalan gontai pergi meninggalkan ruang rawat Aresha. Kedua orang tua Amir pun berpamitan kepada kedua orang tua Aresha, mereka mengikuti langkah Amir yang sudah menghilang di balik tembok.


...



**Ngopi yok Mas Amir.🙈🙈





Halo selamat pagi semua...


Ada yang mau nemenin Mas Amir ngopi gak nih?? 🙈


Ayo berikan kopi untuk temennya kopi Mas Amir 😊

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak dan dukungannya ❤❤**


__ADS_2