Hasrat Sepupu (Pengkhianatan)

Hasrat Sepupu (Pengkhianatan)
Bertanggungjawab


__ADS_3

Leon berdecak kesal di dalam kamar. Dia berlari membuka pintu kamar , lalu keluar untuk segera menyusul Lidia.


"Dimana dia? Kenapa cepat sekali menghilangnya?" gumam Leon saat Lidia sudah tidak kelihatan di sekitaran apartemennya.


Leon terus mengedarkan mata ke seluruh penjuru halaman apartemen.


"Sial! Padahal aku ingin mengatakan sesuatu hal yang serius, dan pasti akan membuatnya bahagia." decak kesal Leon. Dia berlari ke arah mobil, dan masuk ke dalam mobilnya. Lalu mobil pun melaju meninggalkan area apartemen.


Hari semakin cerah. Matahari sudah sedikit mengintip dari ufuk timur. Lidia berjalan sambil memeluk tubuhnya sendiri, diselingi isak tangis yang keluar dari mulutnya.


"Hiks... Aku harus bagaimana? Apa aku harus pergi dari kota ini?" Lidia sesegukan. "Aku tidak ingin bertemu dengan Leon. Dia sudah menghancurkan hidupku, dan dia juga tidak berniat sedikitpun untuk bertanggung jawab.." Lidia menghapus air matanya kasar.


Dia menyebrangi sebuah jembatan. Lidia menghentikan langkahnya, dan menatap kosong ke arah pinggiran jembatan. Lidia mendekat ke pinggir. Dia dapat melihat air, yang sangat deras dari atas tempatnya berdiri.


Lidia terus menatap kosong ke arah bawah jembatan.


Leon tengah menyelusuri setiap jalan yang dia lewati, agar tau keberadaan Lidia.


"Kemana Lidia?" gumam Leon pelan.


"Argh!" Leon memukul stir mobilnya.


Leon terus melihat ke sekeliling jalanan, dia terkejut saat melihat ada seorang wanita, yang sedang berada di pinggiran jembatan.


"Lidia!" gumam Leon sambil terus melakukan mobilnya pelan ke arah wanita yang sedang berdiri itu.


Leon menajamkan penglihatannya, "Itu memang Lidia," Leon langsung turun dari mobilnya, setelah dekat dengan jembatan.


Setelah turun dari mobil.


"Lidia!!!" teriak Leon menatap Lidia dari kejauhan. Dia berlari cepat ke arah Lidia.


"Tuan Leon," gumam Lidia pelan, saat melihat pria yang sudah merusak hidupnya. Lidia membalikkan badan ingin pergi, namun Leon lebih dulu mencekal lengan Lidia.


"Lidia tunggu!" ucap Leon memohon.


Lidia menatap wajah Leon dengan tajam.


"Mau apa lagi anda, Tuan Leon?? Apa anda ingin memberikan ku uang, agar aku tidak mengadukan perbuatan anda ini, dan juga aku harus menjauhi hidup anda. Begitu?" tebak Lidia.


"Lid.. Lidia.. Apa yang kamu pikirkan itu?? Kamu salah paham Lidia!! Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku ingin berbicara dengan mu, ini penting dan aku mohon tolong berikan aku kesempatan untuk menjelaskannya.." Leon masih memegang pergelangan tangan Lidia.


Lidia menggeleng, dengan cepat dia menghempaskan tangan Leon kasar.


"Sudah cukup, Tuan! Tidak ada lagi yang harus di bicarakan." Lidia kembali membalikkan badan ingin pergi.


"Apa kamu ingin mengakhiri hidupmu?''


Lidia menghentikan langkah kakinya, dan dia berbalik menatap Leon lagi.


"Bunuh diri? Haha.. Apa anda gila? Anda benar-benar tidak waras Tuan.."


"Aku tadi melihatmu ingin melompat dari jembatan ini," Leon terus saja menatap wajah Lidia.

__ADS_1


"Melompat? Saya masih waras Tuan. Saya juga masih ingin hidup, dengan.." Lidia tidak meneruskan ucapannya. Dia langsung terdiam, dengan kata-kata menggantung yang belum terselesaikan.


"Dengan apa?" Leon berjalan mendekat ke arah Lidia.


"Tidak!" sahut Lidia gugup, sebab, saat ini wajah Leon sangat dekat dengannya.


"Jawab aku Lidia. Dengan apa?" Leon berbicara lembut kepada Lidia.


"Dengan anakku nanti!" sahut Lidia tajam.


Leon terdiam.


'Anak? Apa.. Apa maksud Lidia? bukankah dia masih perawan? Aku menyaksikannya sendiri, darah keperawanan Lidia menempel di sprei.' batin Leon bingung.


"Anak? Anak siapa?"


"Tentu saja anakku. Apa Tuan sudah lupa? Tadi malam, Tuan terus menanamkan benih Tuan di dalam rahimku. Bagaimana jika aku nanti hamil? Aku tidak akan membunuh bayiku, dengan cara mengakhiri hidupku sendiri "


Leon terdiam dan terperangah mendengar perkataan dari Lidia.


Jujur, dia juga sangat menginginkan seorang anak.


"Aku akan bertanggungjawab, Lidia.. Aku akan menikahi mu, dan percayalah, aku akan menerima dirimu dan anak kita nanti,"


Lidia tertawa sumbar. "Tuan.. Memang seharusnya anda bertanggungjawab dengan apa, yang sudah terjadi kepada diri saya saat ini!!'' Lidia meneteskan air matanya.


Leon hanya terdiam menyaksikan kesedihan Lidia. Dia sangat tidak tega melihat Lidia seperti ini, ingin sekali rasanya Leon memeluk tubuh Lidia, dan menenangkan Lidia.


"Kamu tidak perlu merisaukan apa pun. Aku akan bertanggungjawab, dan kita akan secepatnya menikah. Aku akan menjadi ayah, sekaligus sosok suami yang selalu menjaga mu dan juga anak-anak kita nanti," ucap Leon tulus. Leon sudah memutuskan tekadnya, agar menikahi Lidia. Lagi pula, menurut Leon, Lidia adalah gadis yang sangat sederhana, baik, dan juga cantik.


Lidia melongo, dia menatap tidak percaya ke arah Leon. Lidia menatap manik mata milik Leon. Di sana memang hanya ada ketulusan, tidak ada kebohongan sedikitpun.


Di Jerman.


Excel, Nindi, dan juga Zaky telah berada di meja makan.


"Ky.. Kamu mau makan pakai menu yang mana? Biar Mommy ambilkan," ucap Nindi lembut, sambil menegang piring milik Zaky.


"Yang ini aja Mom.. Kesukaan Zaky," Zaky menunjuk sop daging sapi.


"Baiklah. Akan Mommy ambilkan," dengan cekatan, Nindi mengambilkan menu makan malam sesuai keinginan Zaky.


"Ini!" ucap Nindi meletakkan piring Zaky di hadapan Zaky.


"Thank you Mommy," Zaky tersenyum manis ke arah Nindi.


"Sama-sama," sahut Nindi tulus.


Mereka semua makan bersama, Excel hanya menatap interaksi antara Anindira dan juga Zaky putranya. Ex akan sangat bahagia, jika waktu saat ini, akan setiap hari dia lihat.


Selesai makan.


"Boy! Kamu naik ke atas dulu. Pergi ke kamar, dan tidur," perintah Excel kepada Zaky.

__ADS_1


"Oke Dad," Zaky mencium pipi Excel, kemudian lanjut mencium pipi Nindi.


"Good Night Boy. See you,"


"See you too Mommy," Zaky segera menaiki anak tangga, guna menuju kamarnya.


Setelah Zaky ke kamar. Excel menatap Anindira, yang terus menatap Zaky hingga anak kecil itu menghilang di balik pintu kamarnya. Nindi tersenyum tipis.


"Honey," Ex memanggil Anindira lembut, menggunakan panggilan kesayangan.


"Hm?" Nindi mengalihkan matanya menatap Excel. "Ada apa?" Nindi bertanya heran, sebab Excel terus menatapnya.


"Ex, apa kamu baik- baik saja? Mengapa menatapku seperti itu?" teguran dari Anindira untuk Excel.


"Eh.. Ya, aku baik." Excel menjadi salah tingkah. "Em.. Nindi, aku ingin membicarakan sesuatu kepadamu,'' Excel mengajak Nindi duduk di sofa. Nindi pun mengikuti langkah Ex dari belakang.


"Katakan?" ujar Nindi penasaran, saat mereka sudah duduk di sofa.


"Nin.. Maukah kamu menjadi ibu sambung untuk Zaky? Maafkan aku jika menurutmu aku sedikit memaksa. Aku sangat bahagia, saat melihat Zaky tersenyum terus seperti tadi. Dia sangat dekat denganmu, dia sangat menyayangimu..'' Excel berbicara dengan nada serius.


"Tapi Ex.. Aku-" ucapan Nindi terpotong oleh Excel.


"Kamu belum mau menikah?" Excel sudah bisa menebak alasan Nindi.


"Ex.. Aku punya alasan untuk itu semua.." ucap Nindi lirih dan sendu.


"Cerita kepadaku, Nindi.. Aku bersedia mendengarkannya, dan aku juga akan memberikan saran, jika menurutku kamu memang membutuhkannya.." ujar Ex tulus.


Nindi menatap wajah Excel yang tengah duduk di sampingnya. Nindi mulai menarik nafas dan membuangnya pelan.


"......" Nindi.


****


Hayo Nindi bicara apa itu? 🙈



**Peluk online dong Ex 😭😭


..


Hai semuanya..


Apa kabar??


Happy Reading..


See you next part bye bye ❤❤


Berikan dukungan dan tinggalkan jejaknya untuk karya Mommy yuk 😍. terimakasih 😘**


Jika berkenan, mampir ke karya temen Mom juga ya guys 🤗🤗.

__ADS_1



__ADS_2