Hasrat Sepupu (Pengkhianatan)

Hasrat Sepupu (Pengkhianatan)
Operasi


__ADS_3

Amir memangku kepala Aresha, dia juga melihat darah segar yang mengalir dari pangkal paha Aresha.


"Aresha bangun.. ARESHA!!!!!" teriak Amir histeris dengan air mata yang menetes di pipinya.


Sedangkan Mora, yang menyebabkan Aresha seperti itu langsung pergi dari tempat kejadian.


Beberapa warga membantu membawa Aresha ke rumah sakit, dan ada juga yang memapah Amir, karena Amir sepertinya sangat shock.


Lima belas menit kemudian.


Aresha sudah berada di ruang operasi, karena janinnya yang memang harus terpaksa di operasi.


Amir duduk di kursi depan ruang operasi sambil menangis dan tertunduk.


"Aku tidak akan melepaskan Mora! Aku juga tidak akan memaafkan mu jika terjadi apa-apa dengan istri dan bayi ku.." geram Amir.


Dari kejauhan terlihat Sam, Iva, dan kedua orang tua Amir berjalan menghampiri Amir.


"Amir!!" teriak Silva saat sudah hampir dekat dengan tempat duduk Amir.


Amir menoleh dan berdiri. Dia menghapus air matanya.


Saat keluarganya itu sudah dekat, Amir langsung memeluk sang Mama.


"Maa... Aresha Ma.." lirih Amir mengingat kecelakaan yang terjadi pada Aresha.


Karin mengelus punggung Amir.


"Nak.. Sabar, berdoa terus untuk keselamatan dan kesehatan istri serta bayi kamu.." Karina mencoba memberi semangat kepada Amir.


"Ma.. Amir gak mau kehilangan Aresha Ma.."

__ADS_1


"Sst!! Jangan bicara seperti itu. Pamali! Aresha dan bayi kamu tidak akan kenapa-kenapa, mereka semua pasti akan baik-baik saja.." Karin meneteskan air matanya.


Amir terus menangis di dalam pelukan Karin.


Silva juga sudah terisak.


"Pi.. Aresha Pi.." Silva memeluk tubuh Samuel sambil terus memandangi pintu ruang operasi.


"Kita berdoa saja untuk putri dan cucu-cucu kita Mi.." Sam mengelus pundak Aresha.


Sam menatap Amir.


"Bagaimana semua ini bisa terjadi?" Sam berbicara dengan nada datar.


Amir melepaskan pelukannya pada tubuh Karin.


"Semua ini kesalahan Amir Pi.." ujar Amir lirih.


"Pi.. Sudahlah, ini bukan waktunya menyalahkan siapapun.. Ini semua musibah Pi, tidak ada yang menduganya.." ujar Iva menenangkan Sam masih sambil menangis.


Sam diam dan menatap Amir dengan tajam.


"Jika terjadi apa-apa dengan putri dan cucu-cucu saya, maka kamu yang akan saya beri pelajaran terlebih dahulu."


"Sudahlah besan, kenapa kamu malah menyalahkan putra kami? Disini Amir juga tidak tahu kecelakaan itu akan terjadi.." ucap Karin tidak terima, karena sang putra di sudut kan. "Kami juga khawatir dengan menantu dan cucu-cucu kami. Saya mohon jangan menambah beban pikiran Amir.."


Mereka semua terdiam dan terus menatap pintu ruang operasi, yang lampunya masih terus menyala.


Beberapa jam kemudian.


"Kenapa lama sekali??" Amir mondar mandir di depan pintu ruangan.

__ADS_1


"Nak! Duduklah.." ucap Silva lembut, agar tidak membuat Amir semakin risau.


Cklek!


Pintu ruang operasi terbuka, begitupun dengan matinya lampu yang berada di atas pintu ruangan.


"Dokter, bagaimana keadaan istri saya Dok??" Amir langsung bertanya saat melihat Dokter wanita itu keluar dari ruang operasi.


"Huft.." terdengar helaan nafas berat dari mulut Dokter itu. Dengan wajah yang sulit di artikan, Dokter tersebut menatap satu persatu anggota keluarga pasiennya.


"Saya ingin menyampaikan kabar. Ada kabar buruk, dan ada kabar baik." ujar Dokter itu.


Semua anggota keluarga pun menatap Dokter dengan rasa penasaran.






**TBC.


APA KIRA-KIRA KABARNYA YA??


HAPPY READING..


SEE YOU NEXT PART BYE BYEEE..


JANGAN LUPA UNTUK MENINGGALKAN JEJAK DAN DUKUNGANNYA 🙏🏻.

__ADS_1


TERIMAKASIH 😘**


__ADS_2