
Jessi membuka pintu kamar mandi. Betapa terkejutnya Leon, saat melihat Jessi yang keluar hanya menggunakan kimono handuk sebatas paha.
"Tuan!" ujar Jessy pada Leon.
"Nona! Kenapa-?" ucapan Leon terpotong karena Jessi melewatinya dan berjalan menuju lemari pakaian.
"Ada apa kamu memanggilku?" Leon bertanya tanpa menoleh ke arah Jessi.
"Aku hanya ingin minta tolong, agar Tuan melihat keran air di kamar mandi," Jessi mengambil pakaiannya. "Apa Tuan ingin melihatku berganti pakaian?" Jessi menegur Leon yang hanya diam saja.
"Eh, tidak! Aku akan melihat kerannya dulu," Leon langsung melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
Jessi tersenyum licik.
5Menit kemudian. Leon keluar dari kamar mandi.
"Sudah sele-" ucapan Leon terpotong, karena melihat Jessi yang sedang bersantai di atas kasur, sambil membaca majalah.
"Tuan!" Jessi tersenyum ke arah Leon.
Terlihat jakun Leon naik turun, melihat pemandangan indah di depannya.
"Nona! Kenapa kamu harus memakai pakaian seperti itu?" Leon terus menatap Jessi, yang malah semakin terlihat menggoda Leon.
"Apa ada yang salah?" Jessi memperhatikan pakaiannya. Saat ini, dia tengah memakai hotpants pendek di atas lutut yang sangat ketat, juga hanya memakai tantop yang memiliki leher rendah.
"Tuan! Mengapa diam saja?" Jessi berdiri dari kasur, dia berjalan ke arah kulkas yang berada di dalam kamar.
Leon yang hanya lelaki biasa dan normal, tidak mampu menahan hasrat yang dia pendam selama ini.
Leon berjalan ke arah Jessi, yang sedang mengambil air minum di dalam kulkas.
Saat sudah sampai tepat di belakang Jessi, Leon langsung menarik tubuh Jessi agar menghadap dirinya. Jessi pura-pura terkejut, padahal dalam hati saat ini dia sangat bahagia, sebab rencananya sekarang pasti akan membuahkan hasil.
"A...!" pekik Jessi kaget. "Tu...Tuan!" Jessi berbicara pelan sambil menatap wajah Leon.
"Apa kamu sengaja menggodaku, hm?" Leon menyibakkan anak rambut milik Jessi.
"Menggoda? Aku tidak bermaksud seperti itu," Jessi pura-pura gugup.
"Dari tadi malam kamu menggodaku, Jessi.. Akan tetapi, tadi malam aku bisa menahan hasrat ku. Dan sekarang, kamu seperti ini, dengan cara berpakaian seksi di hadapanku. Aku adalah pria normal, jadi jangan salahkan aku, jika kamu akan melayaniku saat ini," Leon menatap wajah cantik Jessi dengan deru nafas yang terlihat memburu.
Jessi senang bukan main, inilah tujuannya. Tapi, dia harus berpura-pura jual mahal di depan Leon.
"Tuan.. Apa yang anda katakan? Saya tidak-" Jessi menggantung ucapannya, karena Leon dengan cepat mengecup bibir Jessi.
"Tidak perlu berbohong dan ber basa basi. Kita lakukan sekarang?" tanpa menunggu jawaban dari Jessi, Leon langsung ******* bibir mungil milik Jessi.
Leon sedikit mengigit bibir Jessi, agar dia bisaa dengan mudah bermain di dalam sana. Jessi akhirnya membuka mulut, dan Leon dengan cepat memasukkan lidahnya ke dalam mulut Jessi. Leon mengabsen setiap inci dalam mulut Jessi. Jessi pasrah, dia tidak menolak, karena dia juga sudah lama tidak melakukan hubungan intim. Tentu saja dia sangat menginginkannya. Mereka berdua saling ******* dan saling bertukar saliva.
Beberapa waktu kemudian, entah siapa yang terlebih dahulu memulai, saat ini Leon dan Jessi sudah dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun. Leon memulai permainan, dan dialah yang memimpin permainan kuda-kuda'an itu.
"Tubuhmu nikmat sekali baby," gumam Leon di sela permainannya. Sedangkan Jessi, dia hanya men**sah saja di bawah Leon sambil mengucapkan kata-kata romantis.
Menit berikutnya, Leon membalikkan tubuh Jessi, dan saat ini, Jessi lah yang berada di atas Leon kemudian memimpin permainan kuda itu. Leon sangat menikmati permainan Jessi, benar-benar membuatnya melayang. Jessi meneruskan tugasnya, mereka berdua mendesah satu sama lain, dan membuat suasana kamar menjadi panas.
Pagi hari ini, Leon awali mulai dari hal yang mampu membuatnya terbang ke angkasa.
__ADS_1
•
•
•
•
Di kediaman Amir.
"Sayang!!" teriak Amir menuruni anak tangga.
"Iya, Mas!!" sahut Aresha dari dapur.
Amir berjalan menghampiri Aresha.
"Masak apa sih?" ucap Amir memeluk tubuh Aresha dari belakang.
"Aku buatin kamu sarapan nasi goreng seafood,"
"Eum.. Sepertinya enak," Amir mencium aroma masakan Aresha.
"Tentu saja enak. Aku yang memasaknya," Aresha tetap melakukan kegiatan memasaknya, dengan di temani Amir yang terus memeluk tubuhnya dari belakang.
Amir menghirup rambut Aresha, dia mengecup leher belakang milik istrinya itu.
"Mas,,," peringatan dari Aresha.
"Aku sepertinya sudah menjadi kecanduan," Amir tersenyum manis sambil meletakkan dagunya di pundak sebelah kanan Aresha.
Aresha tertawa pelan.
Amir terdiam seraya menatap masakan Aresha.
"Kita sering melakukannya, semoga saja, penerus Arsalaan segera tumbuh di sini," Amir mengelus perut rata Aresha.
"Amin," sahut Resha. Jujur, Aresha juga sudah sangat menginginkan seorang anak.
"Ya sudah, kamu tunggu di meja makan. Aku akan menyiapkan sarapannya,"
Amir melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang ramping Aresha. Dia mencium pucuk kepala Aresha, kemudian berlalu menuju meja makan.
Aresha dengan cekatan memindahkan nasi yang berada di kuali ke mangkuk. Dia berjalan membawa mangkuk itu ke meja makan.
Setelah itu, Aresha menyendokkan nasi untuk Amir, kemudian untuk dirinya.
"Mas!" panggil Aresha saat Amir menyuapkan nasi ke dalam mulut.
"Hm?" sahut Amir sambil mengunyah sarapan pagi nya.
"Kita jadi hari ini berangkat ke Jerman kan?"
"Jadi dong,"
"Aku sudah mengabari semua pegawai di butik. Mereka bilang, akan ketemuan di bandara saja dengan kita," Aresha berkata sambil mengunyah sarapannya.
"Ya sudah. Tidak papa! Kita nikmati dulu masa-masa libur sebelum sibuk bekerja,"
__ADS_1
Aresha tersenyum manis ke arah Amir. Dia tidak menyangka bahwa Amir adalah jodohnya. Padahal, Aresha dulu membayangkan bahwa Leon lah yang akan menjadi imamnya..
Selesai sarapan. Mereka langsung bersiap membereskan barang-barang, yang ingin di bawa ke Jerman.
"Sudah semua kan?" Amir bertanya, saat dirinya dan Aresha sudah berada di teras rumah, dengan beberapa koper.
"Sudah!"
"Ayo kita berangkat,"
Aresha mengangguk, mereka berdua melangkahkan kaki menuju mobil Aresha. Pintu sudah di kunci, dan Cctv juga sudah terpasang di rumah mereka.
Mobil melaju meninggalkan pekarangan rumah.
Di dalam mobil.
Aresha menelepon Susi.
"Halo, kak.." sapa Aresha
"Halo, Re. Kalian udah dimana?" sahut Susi bertanya.
"Aku dan Mas Amir sedang berada dalam perjalanan. Apa kakak dan semua pegawai sudah di bandara?"
"Iya! Aku dan para pegawai yang lainnya sudah berada di bandara. Kalian tidak akan lama kan?"
"Tidak! Paling sekitar 20menit lagi kami sampai,"
"Ya sudah. Kami menunggu kalian,"
"Aku matikan teleponnya ya kak?"
"Iya. Hati-hati di jalan, bye.." ucap Susi
"Bye.." Aresha langsung mematikan sambungan telepon.
Aresha meletakkan ponselnya di dalam tas.
"Apa mereka sudah sampai di bandara?" Amir bertanya, setelah melihat Aresha sudah siap.menelepon.
"Sudah, Mas. Mereka sedang menunggu kita,"
Amir hanya mengangguk dan tetap fokus menyetir.
****
Yeay... Honeymoon ke Jerman ❤❤
**Kak Susi 😍
....
Happy Reading guys..
See you next part ❤..
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak dan dukungannya 😘
terimakasih 🙏🏻😍**