
2 hari kemudian .
Hari sudah menjelang pagi, terlihat SHIDIQ, KARINA dan AMIR sedang berada di meja makan untuk sarapan bersama . Keadaan Shidiq sudah pulih, sebab beban yang selama ini ia pikirkan tentang putra sulung nya itu telah terselesaikan .
"Amir,,!!" panggil Shidiq pada putra sulung nya
Amir pun mengangkat kepala menatap wajah Shidiq .
"Ada apa pa ?"
"Papa ingin bertanya dengan kamu ." Shidiq meletakkan sendok yang ia pegang ke atas piring nya .
Amir hanya menganggukkan kepala saja . Ia tetap melanjutkan sarapannya seraya mendengarkan ucapan Shidiq.
"Papa dengar, kamu sedang dekat dengan gadis di desa BANGKO PERMATA," Shidiq menatap Amir .
Amir yang kala itu ingin menyuapkan kembali nasi yang sudah berada di sendok nya ke mulut, tidak jadi karena mendengar perkataan dari papa nya . Amir pun menatap wajah Shidiq
"Dekat ? dengan gadis di desa Amir ? papa tau dari mana ?" Amir bertanya heran
"Teman papa yang memberitahu."
Amir hanya menggelengkan kepala dan tersenyum tipis..
"Tidak pa, Amir tidak dekat dengan siapa pun ."
"Kamu yakin ?" tanya Shidiq sekali lagi memastikan
"Hm. " ucap Amir sambil mengedikkan bahu nya
"Tapi yang papa tau gadis itu bernama Salma, putri satu-satu nya dari pak Abdullah ."
"Amir hanya berteman dengannya pa, tidak lebih !" jawab Amir tidak nyaman dengan topik pembicaraan saat ini
"Ya sudah, papa tidak akan ikut campur dengan keputusan kamu tentang mencari pasangan . Tapi papa dan mama berharap, agar kamu mendapatkan gadis baik, serta sopan seperti Salma ."
"Hm, nanti Amir akan mencari wanita yang sifat nya seperti Salma . Tapi tidak dengan Salma ya pa ? karena Amir sama sekali tidak tertarik dengannya ."
Shidiq hanya mengangguk-anggukkan kepala saja .
'Tapi papa harap kamu berjodoh dengan Salma nak, sepertinya dia gadis baik, shalihah dan juga sopan,,' Batin Shidiq berdoa
'Aku akan mencari pasangan yang mempunyai sifat seperti itu pa, tapi jika tidak dapat . Maka Amir akan menikah dengan gadis yang sesuai dengan kriteria wanita idaman Amir, dan yang pasti tidak dengan Salma . Tidak !!" Batin Amir tertunduk menatap piring nya yang berada di meja makan.
Di kediaman **Maheswari**.
Anindira sudah selesai pergi ke kantor..
Ia berjalan menuruni anak tangga dan menuju meja makan, untuk sarapan bersama dengan kedua orang tua nya .
"Pagi Yah, Bun..!!" sapa Nindi pada Zein dan Silvi yang sudah berada di meja makan
__ADS_1
"Pagi sayang.." sahut Nindi seraya tersenyum kepada Nindi
Nindi menarik kursi dan segera duduk di kursi tersebut . ia mengoleskan roti yang audah berada di piring nya dengan selai cokelat ..
"Sayang.." panggil Silvi pada Nindi yang sedang menyantap sarapannya
"Hm, ada apa bun ?" sahut Nindi dengan masih mengunyah roti yang berada di dalam mulut nya
"Bunda mau bicara sama kamu, tapi jangan tersinggung ya nak ?" Silvi berbicara lembut pada Anindira
"Katakan saja bun," setelah selesai menghabiskan sarapannya, Nindi langsung meminum susu putih buatan Silvi
Sebelum berbicara, Silvi melirik sekilas ke arah Zein, suami nya . Terlihat Zein menganggukkan kepala.
"Kenapa bunda diam ?" tanya Nindi heran, dengan mengelap mulut, bekas susu yang ia minum tadi menggunakan tisu .
"Hah ? Menikah ?" sahut Nindi terkejut,
"Menikah dengan siapa bun ? bunda ngaco deh ! Nindi itu belum punya pasangan atau pun kekasih.." Nindi terlihat kesal
"Maaf jika perkataan bunda sudah membuat kamu kesal," Silvi memutuskan untuk tidak membicarakan hal itu lagi, ia tidak ingin putri sematawayang nya merasa tersudutkan.
Nindi menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan secara perlahan .
"Bunda gak usah minta maaf, bunda gak salah kok . Tapi usia Nindi masih muda bun, Nindi belum ada pikiran untuk menikah."
"Bunda kamu hanya takut, jika kamu ingin seperti Aresha .." sahut Zein bergantian
"Seperti kak Rere ?" Nindi tersenyum tipis
"Nindi gak pernah kepikiran buat ikutan menikah muda seperti kak Rere sekarang ini ." Nindi menggelengkan kepala
__ADS_1
"Menikah muda ? usia Rere itu sudah 23 tahun, dan kamu 22 tahun . Jadi sudah sepantas nya menikah di usia segitu nak, karena kalian perempuan .. Lalu kamu ingin menikah di usia berapa ? 30 tahun ? kamu akan di cap sebagai perawan tua nak !!" ucap Zein memberikan ceramah
Tidak ada sahutan yang keluar dari bibir Nindi.
"Ayah dan Bunda sudah selesai bicaranya ? Nindi harus berangkat, keburu siang pergi ke kantor." Nindi bangkit dari duduk nya, lalu menyambar tas jinjing nya dan mencium sebelah pipi Silvi .
Ia melangkahkan kaki berjalan keluar rumah menuju mobil nya .
Setelah melihat Nindi pergi, Silvi meneteskan air mata .
"Yah, apa Nindi tidak akan merasa terbebani dengan pertanyaan dan perkataan kita tadi ?" ujar Silvi pada Zein
"Enggak sayang, kamu tenang aja . Putri kita adalah wanita yang kuat, dan dia pasti akan menuruti keinginan kita supaya lekas mencari pasangan !!" Zein memeluk tubuh Silvi dari samping, ia mencoba meyakinkan Silvi bahwasannya Nindi tidak tersinggung atau pun terbebani ..

\*\*Ayah Zein Maheswari 😍😍
....
HALO SEMUA NYA SELAMAT MALAM 🤗🤗
UDAH PADA MAKAN MALAM BELUK NIH GUYS ?? 😊
SELAMAT MEMBACA UNTUK KALIAN SEMUA 😘
SEE YOU NEXT PART, BYE BYE 😍😍
JANGAN LUPA BERIKAN DUKUNGAN DENGAN MENINGGALKAN JEJAK SEPERTI, LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORIT NYA . 🤗🤗\*\*
__ADS_1