
Nindi menatap wajah Leon dengan raut yang penasaran.
"Kakak mengenalnya? siapa?"
"Jessi!" Leon berkata pelan .
Mata Nindi melotot..
"Apa? Jessi?!"
Leon hanya menganggukkan kepala biasa saja.
"Menyebalkan!" Nindi bangkit dari duduknya, dan dia membaringkan tubuh di atas ranjang tanpa mempedulikan Leon.
"Nin! apa kamu tidak ingin bertanya mengapa Jessi bisa berada di sini,?" Leon memiringkan badan menatap tubuh Nindi yang sudah memakai selimut hingga batas kepala.
"Tidak!" sahut Nindi singkat tanpa membuka selimut yang menutupi kepalanya.
Leon hanya bisa menghembuskan nafas pelan, dia berdiri dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Tubuh nya saat ini lelah dan lengket.
Setelah mendengar Leon menutup pintu kamar mandi, Nindi membuka selimutnya.
"Kurang ajar sekali wanita ****** itu. Berani-beraninya dia mengikuti kami hingga pulang ke Indonesia! Cih, dasar murahan, wanita menjijikkan!" umpat Nindi kasar , dan dia kembali memakai selimut nya hingga kepala, tak lama kemudian Nindi tertidur tanpa menunggu Leon terlebih dahulu.
10 Menit kemudian, Leon sudah selesai mandi. Dia naik ke atas ranjang, dan langsung memejamkan mata tanpa membujuk Nindi terlebih dahulu.
•
__ADS_1
•
•
Keesokan paginya, Pukul 06.00 wib.
Nindi berlari ke arah kamar mandi dengan memegangi perut dan menutup mulut menggunakan telapak tangannya sendiri.
"Hoek.." Nindi memuntahkan seluruh isi perutnya ke dalam closet.
"Akh, kenapa aku? apa masuk angin? rasanya ingin mual terus.." Nindi berbicara sendiri sambil memijit pelipisnya yang berdenyut.
"Hoek.." Nindi kembali mual lagi, namun hanya air saja yang dia muntah kan.
Leon yang mendengar suara Nindi dari kamar mandi,.langsung terbangun dan menghampiri Anindira.
"Nin!" seru Leon dari belakang tubuh Nindi
"Kamu kenapa?" tanya Leon dengan berdiri di samping tubuh Nindi.
"Gak tau nih, kak.! Aku mual terus, pengen muntah tapi gak bisa. Kepala ku juga pusing dan berdenyut, mungkin masuk angin kali ya?"
Leon memegang bahu Nindi yang tampak lemas.
"Sudah selesai mual nya?" tanya Leon lembut
Nindi hanya menganggukkan kepala lesu. Saat ini wajah nya pucat seperti orang sakit.
__ADS_1
Leon memapah tubuh Nindi, dan mengajak Nindi agar berbaring di atas ranjang lagi.
"Kamu tidur aja, jangan kemana-mana!" perintah Leon, dan Nindi hanya bisa menganggukkan kepala patuh.
Leon berjalan ke arah pintu kamar, dia ingin membawakan sarapan untuk Nindi. Leon merasa bersalah, karena mungkin sebab dia tadi malam lah Nindi menjadi sakit seperti ini.
5 menit kemudian. Leon kembali ke kamar dengan membawa segelas susu dan roti bakar yang dia letakkan di atas piring. Leon meletakkan nampak berisi susu dan roti itu di atas meja. Dia memandangi wajah Nindi yang terlihat lemas dan pucat. Saat ini Nindi sedang tidur.
"Maafin aku Nin, begitu cintanya kamu pada ku. Dan aku baru bisa membalasnya beberapa hari ini. Aku tidak tega melihat mu tersiksa terus karena ku! kamu sudah berbaik hati rela mengorbankan hidup mu, hanya demi nama baik keluarga kita.." Leon berbicara pelan sambil mengelus kepala Nindi lembut.
Leon mengecup kening Nindi sejenak. Lalu dia menyelimuti tubuh Nindi, dan menutupi susu yang tadi dia buat. Kemudian, dia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, dan bergegas pergi ke kantor..
•
•
•
•
**Happy Reading guys 🤗
Sampai jumpa di part besok 😘
Jangan lupa tinggalkan dukungan dan jejak kalian.❤❤
...
__ADS_1
Siapa tahu berkenan, mampir ke karya temen aku yuk 🤗**