
Dua minggu kemudian.
Di kediaman Richard telah ramai dengan begitu banyaknya tamu undangan yang datang di pesta pernikahan Leon dan juga Lidia.
Lidia saat ini tengah berada di kamar, dia sedang di make up oleh MUA.
"Kamu cantik sekali Nona. Beruntungnya bisa mendapatkan pria seperti Tuan Richard," ujar MUA itu.
Lidia hanya tersenyum tipis.
"Sempurna." MUA itu telah selesai mendandani Lidia.
"Bagaimana dengan hasilnya Nona? Apa anda suka?" MUA tersebut melihat wajah Lidia dari pantauan cermin.
"Aku sangat suka.." sahut Lidia tersenyum.
Cklek!
Pintu kamar terbuka.
"Lidia.. Apa kamu sudah selesai??" Rahma masuk ke dalam kamar.
Lidia melihat Rahma dari pantauan cermin.
"Sudah Tante,"
Rahma berjalan mendekati Lidia.
"Jangan panggil saya Tante. Panggil saya Mama.."
Lidia tersenyum ke arah Rahma.
"Baik, Ma."
"Ya sudah, ayo kita turun. Penghulu sudah datang.."
Lidia dan Rahma turun ke lantai bawah. Sedangkan Paman dan Bibi Lidia, mereka menunggu di bawah.
Sesampainya di lantai bawah, Leon menatap Lidia tidak berkedip.
'Jika di make up seperti ini, Lidia ternyata cantik juga ya. Meskipun sedikit bar bar,' batin Leon.
Bibi Lidia menghampiri Lidia.
"Kamu cantik sekali nak.. Bibi tidak menyangka, kamu akan menikah secepat ini.." Bibi Lidia yang bernama Sarah memeluk tubuh Lidia.
"Lidia juga gak nyangka akan menikah di usia muda Bi. Padahal usia Lidia masih 20tahun, tapi mau bagaimana lagi, jodoh Lidia memang cepat," ucap Lidia saat pelukan sudah terlepas.
"Ayo nak," ujar Rahma.
Mereka berdua melangkah menuju Leon dan penghulu. Rahma mendudukkan Lidia di samping Leon.
"Apa mempelai pria dan wanita sudah siap? Agar ijab kabul bisa segera di mulai." ujar penghulu itu.
Leon dan Lidia mengangguk bersamaan.
"Baik Tuan Leon. Jabat tangan saya.." penghulu mengulurkan tangan sebelah kanannya.
Leon pun menerima uluran tangan penghulu tersebut.
"Ananda Leonardo Richard bin Gilang Richard, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Lidia Kusumawati binti Maslan dengan mas kawin sebuah apartemen dan satu paket perhiasan diBAYAR TUNAI!"
__ADS_1
"Saya terima nikah dan kawinnya Lidia Kusumawati binti Maslan dengan mas kawin tersebut TUNAI!" Leon mengucapkan dengan satu kali tarikan nafas.
"Bagaimana para saksi?Sah?"
Sah
Sah
Akhirnya Leon dan juga Lidia telah resmi menjadi pasangan suami istri.
Leon menyematkan cincin di jari manis Lidia, Lidia mencium punggung tangan Leon dan Leon mencium kening Lidia.
Penghulu menyerahkan buku nikah Leon dan Lidia.
"Selama ya, semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warrahmah." ujar sang penghulu.
"Terimakasih pak," sahut Leon dan Lidia.
Para pengantin baru sungkeman dengan orang tua mereka.
Setelah selesai, sesi pemotretan pun berlanjut.
Dari kejauhan, Nindi tersenyum bahagia melihat mantan suaminya itu, yang ternyata memang benar-benar mudah melupakannya.
Sepasang pengantin baru itu sudah naik ke atas pelaminan.
Excel datang menghampiri Nindi.
"Honey.. Ayo kita berikan selamat kepada mantan suami kamu.."
Nindi melirik Excel.
"Ex.. Jangan mulai,"
"Ayo,"
Mereka berdua naik ke atas pelaminan.
Sebelum sampai ke atas pelaminan, Aresha datang menghampiri Nindi dan juga Excel.
"Dek!" seru Aresha.
Nindi menoleh.
"Kakak," ujarnya.
Amir dan juga Aresha berjalan mendekat ke arah Nindi.
"Kalian berdua mau memberikan selamatkan? Bareng yuk.." ujar Aresha.
Nindi mengangguk.
"Ayo kak,"
Mereka berempat naik ke atas pelaminan.
Lidia yang melihat mantan-mantan Leon langsung merasa kikuk.
Nindi memberikan selamat terlebih dahulu, dia menatap wajah Leon yang berada di depannya. Wajah pria yang dulu selalu membuatnya tergila gila dan terobsesi.
"Selamat ya kak, semoga kakak selalu bahagia. Maafkan kesalahan ku selama ini.." Nindi berbicara dengan air mata yang sudah menetes di pipinya. Dia tidak tahan untuk membendung air mata itu.
__ADS_1
Leon tersenyum tipis.
"Terimakasih.. Aku juga sudah memaafkan kesalahan mu. Mungkin ini semua sudah rencana yang maha kuasa.."
Nindi memeluk tubuh Leon, hatinya lega sekali mendengar penuturan jujur yang Leon ungkapkan.
"Terimakasih," ujar Nindi.
Leon membalas pelukan Nindi, dan mengelus punggung Nindi.
"Ehem ehem.." Excel yang berada di samping Nindi pun berdehem.
Pelukan langsung terlepas.
Nindi bergantian memberikan selamat kepada Lidia.
Excel yang berada di depan Leon menjabat tangan Leon.
"Selamat ya Tuan.. Saya sudah mengetahui semuanya, dan.. Anda hari ini menang banyak,"
Leon hanya tertawa mendengar ucapan Excel.
Sekarang bergantian Aresha yang berdiri di hadapan Leon.
"Selamat ya kak," Aresha tersenyum ke arah Leon.
"Terimakasih ya Re.."
Leon dan Aresha saling berpelukan. Leon sangat merindukan pelukan ini, pelukan yang selalu dia dapatkan saat kebersamaannya dengan Aresha dulu.
"Emm.. Maaf! Jangan terlalu lama pelukannya, kasihan bayi ku yang berada di dalam perut istriku," ujar Amir yang berada di samping Aresha.
Pelukan pun terlepas, Aresha tertawa begitupun dengan Leon.
"Maaf Tuan! Aku sangat merindukan pelukan itu," gurau Leon di sela sela tawanya.
Lidia mencubit pinggang Leon.
"Mas.. Jangan keterlaluan, kamu mau nanti malam tidur di luar??" gertak Lidia kesal.
"Maaf sayang.." Leon nyengir ke arah Lidia.
Setelah sesi ucapan selamat, mereka berfoto bersama. Senyum bahagia yang terbit di bibir mereka, akhirnya masalah terselesaikan dan mereka sudah mempunyai pasangan masing-masing.
•
•
•
•
•
•
HAPPY READING..
SEE YOU NEXT PART BYE..
JANGAN LUPA MENINGGALKAN JEJAK DAN DUKUNGANNYA..
__ADS_1
TERIMAKASIH 😘
SEE