
Aresha sedang berbincang dengan para pegawai butik nya.
"Kak Rere,,!!" panggil Nindi dari kejauhan, melambaikan tangannya pada Resha.
Resha hanya menanggapi dengan anggukan kepala dan mengacungkan jari jempol nya.
"Bentar ya semua ? aku ke sana dulu,," Resha menunjuk ke arah Nindi yang sedang berdiri.
Para pegawai butik pun hanya menganggukkan kepala saja. Aresha berjalan ke arah Anindira..
"Gue hitung dari sekarang, satu, dua, tiga !!" Nindi berbicara melalui earphone kecil di telinganya. Tidak ada yang tahu jika Nindi memakai earphone saat ini, karena earphone tersebut tertutup oleh rambut panjang Nindi.
"Aresha,, awas!!!!" teriak seseorang mendorong tubuh Aresha dari belakang
"Aaaaa..!!!" Aresha tersungkur ke lantai dan berteriak kaget
Lampu gantung di rumah tersebut jatuh dan hancur lebur, hingga membuat suaranya terdengar nyaring di telinga.
"Kak Susi !!!!" Aresha langsung berdiri dan berlari menghampiri Susi yang terduduk di lantai sambil memegangi kaki nya.
"Kak ?? Astaga, kaki kakak terluka. Ini pasti terkena pecahan lampu!!" seru Resha kaget saat melihat darah yang mengalir dari betis kaki Susi .
__ADS_1
"Aww,,!!" Susi merintih memegangi kaki nya yang sakit, "Kamu gak papa kan Re??'' bukannya memikirkan dirinya sendiri, Susi malah bertanya keadaan Aresha .
"Ya ampun kak, kenapa kakak malah bertanya pada ku ? lihat lah, kakak yang terluka, bukan aku !!"
Aresha mengedarkan mata, "Kak Adzriel ??" Aresha memanggil Adzriel yang sedang berjalan menuruni anak tangga.
Adzriel terlihat berjalan biasa saja.
"Ada apa sih dek ?" tanya Adzriel santai saat sudah berada di kerumunan orang-orang yang melihat keadaan Susi .
"Bantu menggendong kak Susi dong, bawa dia ke kamar Rere!!" Resha menatap kesal pada Adzriel yang terlihat biasa saja .
Leon berlari ke arah Aresha . .
"Aku gak papa kak, tapi kak Susi ! kaki nya terluka," mata Aresha sudah berembun, Leon menoleh ke arah Susi yang sedang memegangi kaki nya sendiri.
"Dzriel, buruan lo gendong tuh cewek. Kasihan darah nya gak berhenti mengalir, kalau gak segera di obati nanti bisa titanus,,"
"Manja banget sih, tinggal di papah aja apa susah nya ?" Adzriel bergumam pelan, namun masih terdengar di telinga Aresha .
Plak !!
__ADS_1
Aresha memukul lengan kakak nya, wajah yang tadi sedih berubah menjadi kesal. "Kamu ini keterlaluan banget ya kak! bukannya kasihan, malah dikatain pula,,"
Adzriel mengelus lengan nya, dan mendekat ke arah Susi yang tengah terduduk di lantai, darah pun tidak berhenti mengalir dari kaki Susi.
"Maka nya, sekali lagi jangan sok-sok'an menjadi pahlawan kesiangan !!" ujar Adzriel saat ia sudah berjongkok di samping Susi .
"Agh, jika anda tidak berniat menolong saya, tidak masalah tuan. Dalam keadaan saya yang seperti ini, anda masih bisa menyalahkan saya ?" Susi menatap benci pada Adzriel, begitu pun sebalik nya . Entah kenapa jika bertemu Susi, Adzriel ingin sekali menghina dan memarahi wanita tersebut.
"Kak, cepetan dong.. Kok malah bengong sih ?" Resha menyenggol bahu Adzriel .
"Ck, iya-iya sabar !!" Adzriel pun mulai mengangkat Susi di dalam gendongannya . Dapat Susi hirup, wangi maskulin yang keluar dari dalam tubuh Adzriel . Wangi nya sungguh memabukkan, tapi tidak untuk Susi seorang..
Susi masih meringis kesakitan, sesekali memegangi kaki nya yang sedang terluka itu. Sedangkan Adzriel, ia hanya memandang lurus ke depan sambil terus berjalan menuju kamar Aresha .
**Jangan di marahin terus dong Dzriel, ntar kamu bucin loh ama mbak Susi ππ
...
HAPPY READING GUYS β€
__ADS_1
SEE YOU NEXT PART TOMORROW, BYE BYE ππΌππΌ
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK πβ€π¨**