
Satu bulan kemudian.
Aresha tengah berada di halaman rumah dengan kedua bayinya. Dia bermain sambil berjemur dengan sang bayi yang berada di dalam Stroller.
"Ciluk.. Ba..." Aresha menutup wajahnya lalu membuka guna bersenda gurau dengan sang putra.
Kedua putra Aresha hanya tertawa saja.
"Unch.. Lucu cekali anak Mama, emes.."
Amir berjalan menuju mobilnya.
"Mas!!" teriak Aresha saat melihat Amir yang seperti tengah terburu-buru.
Amir menghentikan langkahnya dan menoleh.
"Sayang.." gumam Amir, lalu dia berjalan menuju ke arah Aresha dan kedua putranya.
"Kamu mau kemana?" Aresha bertanya saat Amir sudah sampai di dekatnya.
"Aku ada urusan sebentar." sahut Amir sambil mencium pipi kedua putranya.
"Urusan? Sepenting apa hingga kamu tidak melihat aku dan anak-anak yang berada di sini?" Aresha menatap Amir.
Amir berhenti menciumi pipi kedua putranya, dia sekarang menatap wajah Aresha.
"Yang pasti tidak sepenting dirimu dan anak-anak. Kalianlah paling terpenting dari apapun.." Amir mendekat kan wajahnya ke arah Aresha.
Aresha dengan cepat menghentikan gerakan Amir.
"Jangan macam-macam Mas! Kita lagi di tempat terbuka,"
Amir memundurkan wajahnya dan terkekeh pelan.
"Apa kita harus melanjutkan nya di dalam sebelum aku pergi?" Amir menaik turunkan alisnya.
"Kamu ih.. Ngaco!" Aresha tersipu malu.
Amir pun tertawa melihat ekspresi Aresha.
"Ya sudah, nanti malam kita akan melanjutkannya. Aku pergi dulu ya?"
Aresha mengangguk.
__ADS_1
Amir pun langsung berdiri dari duduknya dan dia berjalan menuju mobilnya.
"Dah Papa.." seru Aresha.
Mobil Amir pun melaju pergi.
•
•
•
Di sebuah apartemen.
"Aku harus segera pergi dari sini. Jika tidak, maka Amir pasti akan membalas perbuatan yang aku lakukan pada istrinya." ujar Mora bergegas memasukkan semua pakaiannya ke dalam koper.
Ya, Amir tadi malam menelepon Mora dan mengatakan bahwa akan membalas semua perbuatan Mora kepada Aresha.
Mora telah selesai bergegas, dia buru-buru keluar dari apartemen.
Namun baru juga berbalik, Amir sudah berada di depannya.
"M-Mas Amir!" seru Mora terkejut. "K-kamu sejak kapan berada di sini?" tubuh Mora gemetaran karena risau.
Amir tersenyum miring.
Mora menggeleng cepat.
"Tidak Mas! Kenapa aku harus kabur??" Mora menggenggam erat kopernya.
"Benarkah? Lalu kenapa anda membawa koper?" Amir melirik koper Mora.
"Aa! Itu.. Aku, aku ada pekerjaan di luar negeri," ujar Mora berbohong.
"Oh ya? Baiklah.. Sebelum anda pergi, saya ingin memberikan hadiah kepada anda! Hadiah yang mungkin akan anda ingat jika sudah berada di luar negeri nanti, bahkan mungkin seumur hidup." ucap Amir serius.
Mora terdiam mematung.
"A-apa yang akan kamu lakukan Mas? Jika kamu mau meniduri ku, ayolah. Aku akan menerimanya dengan senang hati, dan aku akan melayani mu." ujar Mora tanpa rasa malu. Karena dia pikir, Amir akan berbalas dendam dengan cara menidurinya.
Amir tertawa.
"Meniduri mu? Cih! Murahan sekali!. Saya tidak akan sudi menyentuh mu walaupun hanya seujung kuku!"
__ADS_1
Mora semakin menciut. Dia menebak-nebak apa yang akan dilakukan Amir.
"M-mas.." Mora berkata pelan.
Amir menepuk tangannya.
Tak lama kemudian, beberapa orang pria berjalan ke arah Mora dan Amir.
"Mas! Apaan ini? Siapa mereka?" Mora berkata dengan bingung dan takut.
"Anda akan mendapatkan balasan karena sudah berani mencelakai istri saya, hingga dia koma dan anak saya lahir prematur. Untung saja istri dan anak saya sehat, jika terjadi sesuatu dengan mereka. Maka habislah anda MORA!!" Amir menatap Mora tajam.
Para pria itu semakin dekat dengan Mora dan Amir.
"Nona Mora Angelica, kami dari petugas kepolisian ingin menangkap anda karena tuduhan pembunuhan. Sudah ada bukti juga dari cctv, jadi anda tidak bisa menolak. Silahkan ikut kami ke kantor!" ucap pria dengan memakai baju serba hitam memegang pergelangan tangan Mora.
"Apa-apaan ini? Mas Amir, kamu tidak bisa melakukan ini semua padaku Mas. Lepas! LEPASKAN AKU!!" teriak Mora memberontak.
Kedua petugas kepolisian tidak memperdulikan teriakan Mora, mereka terus membawa Mora.
Amir menghela nafas lega.
"Semoga anda jera Mora. Jangan memaksakan kehendak mu, dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya."
Amir langsung pergi dari apartemen Mora. Selesai sudah urusannya untuk memberi pelajaran kepada sang mantan kekasih.
•
•
•
**TBC.
SEMOGA KALIAN SEMUA PUAS DENGAN EXTRA PART DI BAB INI. 🤗
TERIMAKASIH 🙏🏻
SAMPAI JUMPA...
SAMBIL MENUNGGU SEASON SELANJUTNYA, MAMPIR KE KARYA OTHOR YANG SATU INI YUK. CERITANYA DI JAMIN BERBEDA, KARENA MENCERITAKAN TENTANG RUMAH TANGGA DAN PERSELINGKUHAN. YANG TIDAK SUKA DENGAN ALURNYA BISA SKIP 🙏🏻🙏🏻.
__ADS_1
**