
Amir dan Aminah sudah sampai di kediaman kedua orang tua Amir.
"Ayo, Minah! Kita masuk," Amir mengajak Aminah, yang hanya diam saja di samping sepeda motor milik Amir.
Aminah menatap Amir sekilas, "Mas! Saya grogi,"
Amir terkekeh mendengar ucapan Aminah.
"Grogi? kenapa?. Orang tua saya tidak suka makan daging manusia, Minah... Jadi, kamu tidak perlu takut. Ayo!" Amir menarik tangan Aminah, dan Aminah pun hanya bisa mengikuti langkah Amir.
Amir membuka pintu rumah tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
"Assalamualaikum.. Ma!! Pa!!!" teriak Amir saat sudah sampai di dalam rumah.
Terlihat kedua orang tua Amir berjalan menuruni anak tangga.
"Eh... Anak Mama datang..." ujar Karina senang
Amir dan Aminah berdiri di lantai bawah dekat tangga terakhir. Genggaman tangan Amir pada Aminah pun Amir lepaskan, karena tidak ingin kedua orang tuanya berpikiran negatif.
"Anak Mama..." Karin memeluk tubuh Amir, dan Amir pun membalasnya. Setelah itu, Amir memeluk tubuh Papa nya sebentar.
"Gimana kabar Papa, sehatkan?" setelah pelukan terlepas, Amir langsung bertanya tentang kesehatan Papanya.
"Alhamdulillah sehat, Nak.." Papa Shidiq tersenyum ke arah Amir.
Lalu Amir melirik Aminah sekilas, kemudian dia menatap kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Oh ya, Amir hampir lupa. Pa, Ma, ini Aminah. Calon istri Amir," Amir tersenyum bahagia
Dahi Karin mengerut.
"Calon istri? Gak salah?"
Amir menatap sang Mama.
"Ma, maksud Mama gimana?"
"Dia calon istri kamu? Apa pendidikan dan keahliannya? Mama penasaran. Karena, di lihat-lihat dari penampilannya, dia itu hanya gadis desa biasa." ujar Karin terlihat tidak suka.
Aminah tersenyum miris. Ini lah yang dia takutkan, perbedaan status yang akan menghalangi hubungannya dan juga Amir.
Aminah mengulurkan tangan, guna mencium punggung tangan orang tua Amir. Shidiq mengulurkan tangannya, dan Aminah pun mencium takzim punggung tangan milik Shidiq.
"Saya Shidiq, Papanya Amir. Ternyata, kamu gadis yang sopan ya?" Shidiq tersenyum ramah, dan di balas ramah juga oleh Aminah.
Aminah beralih mengulurkan tangan kepada Karina. Akan tetapi, Karin mengulurkan tangan tanpa melihat wajah Aminah.
"Hai Tante.." ujar Aminah singkat, diiringi senyum ramah.
"Hm," Karina hanya berdehem saja menjawab sapaan dari Minah.
Setelah selesai sesi perkenalan. Amir, Aminah, dan kedua orang tua Amir duduk di sofa ruang tamu.
"Aminah, saya ingin bertanya kepada kamu. Kamu tinggal di desa, pekerjaannya apa? Dan kamu anak dari siapa? Lalu, lulusan apa?" Karina memberikan pertanyaan berurut kepada Aminah.
__ADS_1
Aminah hanya diam dan tersenyum tipis, dia bingung harus menjawab apa.
"Ma! Kalau nanya itu satu-satu dong. Aminah jadi bingung menjawab nya," Amir mengerti akan kebingungan Aminah. Amir heran, mengapa reaksi Mama nya seperti ini saat bertemu dengan Aminah.
"Pertama, saya bekerja di gudang pertambangan Mas Amir, sebagai asisten pribadi. Dan pendidikan, saya tidak tahu. Saya anak angkat dari Ibu Juleha," Aminah menjawab setiap pertanyaan Karina tadi
Karin menatap sinis ke arah Aminah, di selingi senyum miring.
"Pendidikan tidak tahu, dan kamu hanya anak angkat? Bagaimana bisa?" Karina menggelengkan kepala.
"Ma! Sudah, jangan seperti itu. Tidak baik bicara begitu mengenai hal pribadi yang kurang bermanfaat. Tidak masalah jika Aminah pendidikannya rendah, dan dia anak angkat. Yang terpenting, Aminah adalah gadis yang baik, sopan, dan juga pengertian. Dia mencintai Amir bukan hanya karena harta, atau materi. Benarkan nak?" Shidiq berbicara santai.
"Iya, Om. Saya sama sekali tidak peduli dengan harta dan materi yang Mas Amir punya. Saya hanya mencintai dia setulus hati saya, saya tidak peduli kekayaannya atau apa pun." sahut Minah yakin.
"Halah.. Omong kosong!" bantah Karina
"Oh ya, tadi kamu bilang kamu anak angkatnya Ibu Juleha, bukan? Seorang wanita, yang suaminya dulu suka mabuk-mabukan, berjudi, dan anak perempuannya yang sangat nakal, dan hanya menjadi pengangguran lalu suka ke klub malam. Benarkan?" tanya Karina kepada Minah
Aminah menatap tidak percaya pada orang tua Amir itu.
"Tante, saya tidak tahu pasti bagaimana kehidupan Ibu angkat saya selama ini. Yang pasti, saya tidak pernah menganggap buruk tentang masalah kehidupan Ibu dan Kakak angkat saya itu.." Minah berbicara lembut, namun terdengar berani.
....
Happy Reading guys🤗
See you next part tomorrow..
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak dan berikan vote untuk Aminah 😘😘 terimakasih 🙏🏻🤗