
Di desa Bangko Permata.
Amir sedang duduk di kursi ruang tamu rumahnya. Dia masih memikirkan apa yang orang tuanya katakan.
"Bisa-bisa nya Salma nekat, supaya menjadi istri ku." Amir menghela nafas kasar.
Amir sekarang sedang berpikir, apakah sang gadis idaman mau menjadi calon istri nya atau tidak?. Baru memikirkannya saja, jantung Amir sudah berdegup kencang.
"Besok, aku harus menemuinya." Amir bangkit dari tempat duduk, menuju kamarnya untuk tidur sebab hari sudah larut.
Keesokan harinya. Dengan pakaian yang simpel, yaitu kemeja lengan panjang di padu dengan celana jeans dan sepatu. Membuat aura ketampanan Amir pagi ini terlihat cerah, tentu saja secerah hatinya. Dia tidak menyangka, akan mengatakan perasaannya pada sang gadis pujaan.
"Huh," Amir menghembuskan nafas pelan, dengan mengibaskan kemeja dan merapikan rambutnya.
"Ayo Amir, kamu pasti bisa. Dan yakin lah, dia akan menerima mu.." Amir memberi semangat kepada dirinya sendiri.
Amir segera keluar dari rumah, menuju motornya untuk segera pergi ke pertambangan ikan miliknya.
10 Menit kemudian.
Amir sudah sampai di pertambangan ikan. Dia terus berjalan menyusuri laut dan menikmati keindahan laut di pagi hari. Sungguh sejuk udaranya. Saat Amir sudah hampir sampai di gudang.
"Mas Amir,,!!" seseorang yang mampu membuat jantung Amir berdegup, berlari kecil ke tempat saat ini Amir berdiri.
"Aminah?" seru Amir saat Aminah sudah berada di dekatnya. Amir berbicara dengan nada pelan dan santai. Dia harus bisa menetralkan kegugupannya di hadapan Aminah.
__ADS_1
"Assalamualaikum, Mas.." Aminah memberikan salam kepada Amir
"Waalaikumsalam," sahut Amir, diiringi senyum manisnya. Amir menoleh kebelakang tubuh Aminah, dia mengerutkan dahi, sebab tidak menemukan Ibu Romlah. Biasanya, Aminah pergi bekerja bersama dengan Ibunya.
"Minah, kemana Ibu kamu? sepertinya tidak kelihatan.." dari pada penasaran, Amir langsung bertanya kepada Aminah.
Aminah menoleh kebelakang sebentar.
"Oh, Ibu.. Iya, Mas! Ibu izin gak masuk kerja, beliau sedang tidak enak badan," Aminah berkata sopan
Amir hanya menganggukkan kepala menjawab ucapan Aminah.
"Ya sudah, Minah. Mari kita bersama-sama ke gudang," Amir mempersilakan Aminah untuk jalan. Dan mereka berdua jalan beriringan, dengan jarak yang terbentang di antara mereka.
"Mas,,,!!" Salma memanggil dari belakang tubuh Amir dan Aminah.
Kompak, Amir dan Minah menolehkan kepala mereka kebelakang.
"Salma, Mbak Salma?" Amir dan Minah bicara bersamaan.
Salma berjalan ke arah Amir dan Minah, dengan tatapan tajam yang dia tujukan ke Minah.
"Assalamu---" belum selesai Minah berbicara, Salma yang sudah berada di hadapan Minah, dengan di penuhi amarah dan emosi. Langsung menampar pipi Minah kasar.
__ADS_1
*Plak*...
Amir terkejut dengan apa yang Salma lakukan, "Salma!" teriak Amir kaget karena tanpa berbicara apa pun, Salma malah menampar pipi Minah.
Aminah hanya memegangi pipinya yang di tampar oleh Salma. Pipinya saat ini terasa perih dan kebas.
"BERANI-BERANINYA KAMU MENDEKATI CALON SUAMI KU YA, MINAH?!!!!?" Salma berbicara dengan setengah berteriak. Hingga beberapa nelayan yang lewat memperhatikan ke arah mereka bertiga.
"Salma! kamu ini apa-apaan? calon suami, siapa yang kamu maksud?" Amir menatap tajam ke arah Salma. Salma yang berada di hadapannya saat ini, bukanlah Salma yang dia kenal dulu.
Salma menatap Amir dengan tatapan tidak percaya...

**Neng Salma lagi emosian 🙈🙈**
....
**HAI SELAMAT MALAM SEMUANYA...
HAPPY READING GUYS 🤗🤗
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK DAN DUKUNGAN..
__ADS_1
TERIMAKASIH 😘😘**