Hasrat Sepupu (Pengkhianatan)

Hasrat Sepupu (Pengkhianatan)
Gara-gara bubur


__ADS_3

Amir sudah sampai di depan rumahnya, dengan membawa lima bungkus bubur ayam pesanan Aresha.


Ya, Aresha tadi menelepon Amir dan mengatakan bahwa dirinya menginginkan lima bungkus bubur ayam.


Amir masuk ke dalam rumah dengan sedikit berlari.


"Sayang!!!" Amir berteriak memanggil Aresha.


Terlihat Aresha berjalan menuruni anak tangga, sambil menatap ke atau Amir dengan tatapan tajam.


"Kenapa lama sekali?" ujar Aresha kesal dan terus berjalan menghampiri suaminya itu.


"Maaf yank.. Tadi itu rame banget. Jadi Mas bubur nya keteteran," sahut Amir jujur.


Aresha mendudukkan diri di kursi meja makan.


Amir menyusul Aresha, dia meletakkan lima bungkus bubur ayam itu di atas meja.


"Sayang.. Makan ya? Mas kan cuma terlambat beberapa menit doang," Amir berbicara lembut sambil menggenggam kedua tangan Aresha.


"Ya udah. Aku ambil mangkuk dulu," Aresha berdiri dari duduknya, dia mengambil mangkuk kaca dan membawanya ke meja makan.


Aresha mulai membuka satu bungkus bubur ayam, dia melahapnya dengan penuh penghayatan.


"Eum... Enak Mas.." Aresha tersenyum.


Amir tersenyum melihat Aresha menikmati bubur ayam itu.


"Habisin ya,"


Terdengar suara sendawa keluar dari mulut Aresha.


"Mas.. Aku tiba-tiba ingin mual memakan bubur nya," Aresha mendorong mangkuknya, agar menjauh dari hadapannya.


"Loh.. Terus sisanya ini buat siapa?" Amir bertanya dengan heran.


Aresha tersenyum ke arah Amir. Sedangkan Amir, perasaannya sudah merasa tidak enak.


"Jangan bilang Mas yang harus menghabiskan ini semua.." Amir menebak senyuman misterius Aresha.


"Mas Amir pinter banget deh.." Aresha menggenggam tangan Amir.


"Makan ya Mas.. Sayang loh kalau di buang, kan jadi mubazir," ujar Aresha memohon.


Amir hanya terdiam dan menatap empat bungkus bubur ayam yang berada di hadapannya.


'Baru melihat bungkusnya saja sudah membuatku ingin mual. Apalagi jika harus menghabiskannya..' batin Amir tersiksa.


"Mas!" Aresha menggoyangkan tangan Amir.


"Hah?" Amir terkejut dan tersadar dari lamunannya.


"Mas Amir ih..." rengek Aresha kesal. "Jadi mau gak Mas menghabiskan bubur ayam ini?"


Amir langsung mengangguk.


Aresha tersenyum senang. Dia berdiri dari duduknya, dan mengambil mangkuk lagi.

__ADS_1


"Ini," Aresha menyodorkan mangkuk ke hadapan Amir.


Dengan berat hati, Amir mengambil satu bungkus bubur ayam dan mulai membukanya, kemudian dia tuang kedalam mangkuk kosong itu.


'Ayo habiskan Amir.. Demi istri tercintamu' Amir menyemangati dirinya sendiri.


Aresha menatap Amir yang sudah mulai menyuapkan bubur ayam masuk dalam mulut.


Saat sendok masih baru menyentuh bibir..


Tok


Tok


Tok


Pintu rumah di ketuk.


Amir dan Aresha saling pandang. Mereka menatap ke arah pintu bersamaan.


"Biar aku buka!" ujar Amir ingin bangkit dari duduknya.


"Tunggu!" Aresha mencegah Amir. "Biar aku saja yang membukanya. Mas Amir duduk saja di sini, dan habiskan buburnya.." Aresha tersenyum. Dia berdiri dan berjalan menuju ke arah pintu utama.


Ting tong


Sekarang bel lah yang berbunyi.


"Sebentar!!!" teriak Aresha saat sudah hampir sampai di depan pintu.


Ceklek


Aresha menautkan alisnya, saat tahu siapa yang bertamu ke rumahnya.


"Kak Leon.." Aresha beralih menatap seseorang yang berada di samping Leon. "Lidia.." ujar Aresha pelan.


"Hai Mbak.. Maaf jika kami menganggu," ujar Lidia sopan.


Aresha menerbitkan senyum.


"Oh tidak! Ayo masuk,"


Mereka bertiga masuk ke dalam rumah.


"Kok sepi Mbak? Mas Amir nya kemana?" Lidia mengedarkan matanya.


"Kamu datang ke sini mau melihat Mas Amir??" Aresha langsung bertanya. Ya, bertanya tanda cemburu. Sifat Aresha saat ini sangat cemburuan, berbeda dengan beberapa bulan yang lalu.


"Eh.. Tidak kok. Saya kan hanya bertanya saja," Lidia tertawa sumbar.


Amir yang masih menyantap bubur ayamnya, tersenyum saat melihat Aresha, Lidia dan juga Leon berjalan ke arahnya.


"Akhirnya.. Aku bisa selamat dari hukuman hari ini," Amir merasa lega. Dia sudah memiliki ide saat ini, untuk menghabiskan bubur ayam itu.


"Nah.. Itu Mas Amir," Aresha menunjuk ke arah meja makan, mereka pun berjalan bersama menghampiri Amir.


Sesampainya di meja makan.

__ADS_1


"Hai Bro.. Apa kabar?" Amir tersenyum ramah. Senyuman ada udang di balik bakwan πŸ™ˆ. Eh, di balik batu πŸ™πŸ»πŸ˜‚.


Leon terkejut dengan sikap Amir saat ini, dia hanya mengerutkan dahi kemudian menerima uluran tangan kanan Amir. Mereka pun berjabat tangan dan Amir memeluk Leon ala pria.


"Baik.." sahut Leon saat pelukan terlepas.


"Ayo duduk," Aresha mempersilakan tamunya duduk.


Mereka semua pun duduk di kursi meja makan.


"Kalian berdua mau minum apa? Biar aku buatkan," Aresha memberikan tawaran.


"Tidak perlu Mbak! Jangan repot-repot. Kami hanya sebentar saja di sini," Lidia mencegah Aresha.


"Apa kalian berdua sudah sarapan?" ucap Amir memulai rencananya.


"Sudah Mas," sahut Lidia dengan ramah.


"Oh ya. Ini masih ada beberapa bungkus bubur ayam lagi. Kalian makan saja kalau mau," ujar Aresha kepada Lidia dan Leon.


"Tidak usah Mbak. Kami sudah kenyang," Lidia tersenyum. "Kami datang ke sini hanya-" ucapan Lidia terpotong karena Amir menyelanya.


"Kenapa harus buru-buru? Makan saja dulu bubur ini," Amir menyodorkan dua bungkus bubur ayam ke hadapan Leon dan Lidia.


"Eh.. Tidak perlu Mas, kami beneran udah kenyang," ucap Lidia lagi.


"Hanya satu bungkus. Kalian juga kan jarang bertamu ke sini.." Amir memaksa.


Aresha mengerti akal busuk Amir.


"Mas..." Aresha memanggil Amir dengan nada seram.


Amir hanya tersenyum saja.


Aresha kembali menatap Lidia dan juga Leon.


"Jika kalian sudah kenyang tidak papa. Suamiku yang akan menghabiskan bubur ayam ini sendirian. Benarkan Mas?" Aresha berbicara dengan bola mata yang seperti ingin keluar.


Amir hanya mengangguk pasrah. Ternyata Aresha sangat cerdik sekali. Begitulah sekiranya yang Amir pikirkan.


"Menghabiskan? Empat bungkus? Kenapa banyak sekali?" Leon bertanya dengan berturut-turut.


"Begini kak.. Tadi aku sepertinya ingin sekali makan bubur ayam, dan aku menyuruh Mas Amir agar membeli lima bungkus. Tapi saat aku memakan satu bungkus bubur ayam, rasanya itu ingin mual. Aku tidak mood lagi memakannya. Karena itulah,, Mas Amir yang akan menghabiskan semua bubur ayam ini. Daripada mubazir, ya gak?"


Amir hanya mampu melemaskan tulang-tulang nya. Rencananya meminta bantuan kepada Leon dan Lidia gagal sudah.



**Akang bewok dan gondrong 😭. Gemes liatnya 😍.


...


Happy Reading guys..


Selamat malam mingguan πŸ€—πŸ€—..


See you next part bye bye..

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak dan dukungannya😘.


terimakasih πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»**


__ADS_2