
2bulan kemudian.
Pukul 21.00 wib.
Aresha masuk ke dalam kamar mandi dengan perasaan yang tidak enak.
"Hoek.. Hoek.." Aresha memuntahkan seluruh isi perutnya di dalam closet.
"Astaga.. Kenapa rasanya ingin mual terus?" Aresha memijit pelipisnya.
"Hoek.." Aresha muntah lagi.
Amir yang mendengar suara Aresha dari arah kamar mandi,.langsung berlari.
"Sayang.. Kamu kenapa?" Amir bertanya saat sudah berada di belakang tubuh Aresha.
Aresha menoleh sejenak, kemudian berkata. "Gak tau, Mas. Aku mual terus. Masuk angin mungkin,"
Amir memijit tengkuk leher Aresha.
"Aku akan memijit mu. Ayo kita ke kasur,"
Amir menuntun Aresha, yang berjalan gontai ke arah kasur. Aresha merebahkan tubuhnya di sana.
"Kamu makan apa tadi? Kenapa bisa masuk angin seperti ini?" tanya Amir kepada Aresha, sambil memijit pundak Aresha pelan.
"Aku gak ada makan makanan yang aneh, Mas. Ini semua karena kamu," ujar Resha kesal.
"Aku? Memangnya aku kenapa?''
"Kamu sih, kalau kita selesai main gak mau memakaikan pakaian ku lagi. Ujung-ujungnya aku masuk angin seperti ini," gerutu Aresha.
"Sayang.. Kok kamu jadi nyalahin aku? Bukannya setiap main kita terus tidur menggunakan selimut tebal ini?" Amir menunjukkan selimut kepada Aresha. "AC juga aku matikan. Jadi ngaruhnya dimana?" tanya Amir lembut masih dengan memijit pundak Aresha.
Aresha menoleh ke belakang sekilas.
"Jadi Mas menyalahkan ku, begitu?" Aresha menurunkan tangan Amir yang berada di pundaknya.
"Bukan gitu sayang.. Aku akan cuma menjelaskan," ucap Amir sangat lembut, agar Aresha tidak marah padanya.
"Sudahlah, aku ingin tidur." Aresha membaringkan badannya, dan dia tidur dengan memunggungi Amir.
Amir menghela nafas. Entah mengapa, Aresha sangat beda beberapa minggu ini. Mudah sekali marah, menangis, dan juga manja. Amir heran dengan semua sikap Aresha yang berubah-ubah setiap waktu.
Amir membaringkan badannya, dan dia mendekati Aresha.
"Jangan mendekatiku!!'' seru Aresha menarik selimut hingga batas kepala.
Amir hanya pasrah, dan dia pun tidur dengan menatap punggung belakang istrinya itu.
__ADS_1
•
•
•
•
Di tempat lain.
Leon sedang berada di sebuah cafe bersama dengan Jessi.
"Tuan.. Lihat ini, aku membawakan anda segelas wine. Jangan terlalu banyak pikiran, kita nikmati saja malam ini," Jessi menyodorkan wine itu kepada Leon.
"Terimakasih," ucap Leon.
"Ayo diminum," Jessi tersenyum misterius. Ya, dia sudah memberi obat perangsang di wine milik Leon. Semenjak pulang dari Jerman, Leon tidak mau lagi Jessi ajak bermain kuda-kudaan.
Tanpa curiga, Leon menenggak habis wine itu.
"Bagaimana?" tanya Jessi sambil tersenyum.
"Lumayan.." sahut Leon santai.
Mereka mengobrol bersama, hingga beberapa menit kemudian, Leon merasakan aneh pada tubuhnya.
"Kenapa gerah sekali?'' gumam Leon pelan sambil melihat sekeliling.
Jessi mengangguk. Saat melihat Leon telah pergi, Jessi bersorak riang.
"Yes... Akhirnya berhasil," gumam Jessi bahagia.
Dia berdiri dan ingin mengikuti Leon. Namun, baru juga melangkah, seseorang sudah terlebih dahulu mencekal lengan Jessi.
Jessi terkejut saat melihat siapa orang yang berani mencekal nya.
"Ro.. Robert," gumam Jessi gugup.
"Halo Baby.. How are you?'' ujar Robert dengan senyum sinis.
"Lepaskan aku!" Jessi memberontak.
Tanpa mempedulikan ucapan Jessi, Robert langsung menarik tangan Jessi keluar dari cafe.
"Robert lepaskan aku, atau aku berteriak!'' ancam Jessi, tetapi tidak di gubris oleh Robert.
Robert menghempaskan tubuh Jessi di samping mobilnya, hingga Jessi terbentur pintu mobil.
"Akh..." ringis Jessi memegangi punggungnya.
__ADS_1
"Berani sekali kau mengancam ku? Dan berani sekali kau kabur dari ku, JESSI!" bentak Robert dengan mata menyala.
"A-apa mau mu?" ucap Jessi takut.
"Ikut aku!" Robert memaksa agar Jessi masuk ke dalam mobilnya.
"Tidak.. aku tidak mau!" Jessi menolak ajakan Robert.
"Bagiku, tidak ada kata tidak mau! Kau harus ikut. Cepat!" Robert membuka pintu mobil, dan mendorong tubuh Jessi agar masuk ke dalam mobilnya.
Robert dengan cepat masuk ke dalam mobil juga, kemudian mobil melaju meninggalkan area cafe.
Di dalam toilet.
Leon merasakan gerah pada bagian tubuhnya.
"Astaga.. Kenapa ini? Apa Jessi melakukan sesuatu? Junior ku gatal sekali, badan ku juga gerah," Leon membuka dua kancing atas kemejanya.
"Sial!" decak Leon kesal.
Juniornya sudah berkembang ingin masuk ke dalam sangkar.
"Pasti ini ulah Jessi. Dia memasukkan sesuatu ke dalam wine tadi. Bodoh! Kenapa aku sama sekali tidak curiga?" gumam Leon sambil menahan rasa gatal di bagian juniornya.
Leon keluar dari toilet, guna mencari pelampiasan. Dia tidak peduli siapa yang akan menjadi lawan mainnya, yang terpenting, junior Leon terpuaskan. Pikiran Leon sudah gelap. Dia melihat seorang wanita berjalan ingin ke toilet wanita. Dengan cepat, Leon menarik tangan wanita itu, dan membawanya keluar dari toilet.
"Hei! Apa-apaan ini?'' ucap wanita itu sambil menarik tangannya agar terlepas dari cengkraman Leon.
Leon tidak peduli dengan omelan wanita yang bersamanya. Dia terus saja menarik tangan wanita itu, meskipun sang wanita memberontak.
"Hei Tuan! Lepaskan saya tolong,,"
Leon mengenali suara itu. Dia tidak peduli, dan mereka berdua masuk ke dalam mobil Leon.
.....
Apa yang akan terjadi selanjutnya?? 🙈
Bonus visual. Terakhir kali Jessi berada di sini 🤧.
**Jessi Oktavia 🙈
...
Happy Reading guys..
See you next part bye..
__ADS_1
Jangan lupa untuk memberikan jejak dan dukungannya😘
terimakasih 🤗**