Hasrat Sepupu (Pengkhianatan)

Hasrat Sepupu (Pengkhianatan)
Emosi yang menggebu,


__ADS_3

Hari sudah menjelang siang. Anindira baru bangun dari tidurnya.


"Argh.." Nindi duduk dan meletakkan kepalanya di kepala ranjang.


"Kepala ku pusing sekali," gumam Nindi pelan sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit.


Tiba-tiba, Nindi menutup mulut dengan kedua tangannya.


"Perut ku, kenapa rasanya mau mual terus?" Nindi melirik susu yang berada di atas meja. Dia mengambil gelas dan meminum susu itu, meskipun sudah tidak hangat.


Setelah susu di gelas habis setengah, Nindi langsung memakan roti yang berada di piring.


"Semoga saja, setelah ini rasa mual nya berkurang!" Nindi menghabiskan roti dan susu yang tadi berada di nampan.


"Akh, kenyang.." Nindi mengelus perutnya pelan karena kekenyangan. Namun, dia lagi-lagi menutup mulutnya sebab merasa mual.


"Argh!!!" Nindi turun dari ranjang, dan berlari kecil menuju kamar mandi.


"Hoek.. Hoek..." Setelah sampai di dalam kamar mandi, Nindi memuntahkan seluruh isi perutnya.


"Astaga... Ada apa dengan ku?" Nindi bersandar di dinding kamar mandi, dan memegangi kepalanya yang masih terasa berdenyut.


Setelah di rasa sudah tidak mual, Nindi berjalan perlahan menuju ranjang.


Nindi mengambil ponsel dan mencari nomor kontak milik Leon. Saat ingin menghubungi nomor Leon, Nindi mengingat kembali tentang Jessi. Alhasil, dia tidak jadi menghubungi nomor Leon.


"Wanita murahan itu sepertinya ingin bermain-main dengan ku! Lihat saja, apa yang akan gue lakukan, karena lo udah berani menantang Anindira.." Nindi berbicara dengan senyum devil.




Di kamar apartemen.



Pukul 12.00 wib. Jessi baru saja selesai membersihkan diri.



"Akh,,, Lega sekali rasanya.." Jessi mengeringkan rambutnya yang basah menggunakan handuk. Saat ini, Jessi sedang duduk di depan cermin meja rias. Dengan menggunakan dress selutut, Jessi terlihat sangat menggoda.



Tok Tok Tok



Pintu apartemen di ketuk dari luar.



Ceklek..



Jessi membuka pintu, dan dia tersenyum melihat siapa yang datang.



"Tuan Leon.." Jessi memasang senyum termanisnya.



"Hai, Nona! Boleh saya masuk?" Leon berusaha ramah dengan Jessi.



"Oh iya, aku hampir lupa mempersilakan anda masuk. Mari, Tuan!". Jessi memberi jalan masuk kepada Leon



Leon masuk diiringi senyum tipis. Jessi pun menyusul Leon masuk ke dalam apartemen.


Mereka berdua duduk di sofa ruang tamu.


__ADS_1


"Nona! saya bawakan makanan untuk anda." Leon memberikan satu bungkus besar plastik kresek kepada Jessi.



"Wah, terimakasih Tuan. Harusnya tidak perlu repot-repot begini." Jessi menerima bawaan dari Leon.



"Tidak masalah, Nona." Leon mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru apartemennya.



"Apartemen ini terlihat bersih karena ada yang menempatinya.."



Jessi tersenyum senang.



''Tentu Tuan! aku yang membersihkannya setiap waktu," ujar Jessi antusias



Leon hanya menganggukkan kepala dan tersenyum tipis. Kemudian, mereka berdua mengobrol santai.



Tak



Tak



Tak



Suara hentakan heels terdengar menggema di sepanjang lorong gedung apartemen.




Tok tok tok



Suara ketukan pintu yang kuat, membuat atensi mata Leon dan Jessi mengarah ke pintu. Mereka berdua menghentikan obrolan.



"Tuan! Siapa yang mengetuk pintu kencang sekali begitu?" Jessi terus menatap ke arah pintu, yang mana seseorang di luar sana terus mengetuk dengan kencang.



"Entahlah. Saya akan melihatnya, tunggu di sini!" Leon member perintah kepada Jessi. Jessi pun menganggukkan kepalanya patuh.



Leon berjalan ke arah pintu, dan dia membuka pintu apartemen.



Ceklek..



Pintu terbuka, dan Leon terkejut dengan siapa yang saat ini berada di hadapannya.


Tanpa di persilakan masuk, Nindi langsung menerobos masuk ke dalam apartemen, hingga tubuh Leon terhuyung ke samping.



"Nindi!!" seru Leon mengikuti langkah Nindi.

__ADS_1



"DIMANA WANITA \*\*\*\*\*\* ITU?" teriak Nindi emosi sambil berjalan masuk ke dalam ruang tamu.



Sesampainya di ruang tamu, Jessi terkejut dengan datang nya Anindira.



"Nyo..Nyonya.." seru Jessi gugup, sambil berdiri dari duduknya.



"Oh.. Ini dia wanita \*\*\*\*\*\* murahan itu!" dengan wajah merah padam akibat emosi, Nindi berjalan menghampiri Jessi..



"Argh.." Jessi meringis, karena Nindi dengan cepat menarik rambutnya, saat sudah berada di hadapannya.


"Sakit, Nyonya.. Lepaskan rambut saya.." ujar Jessi lirih



"Melepaskan rambut mu? tidak akan! dasar \*\*\*\*\*\* murahan!!! LO INGIN MEREBUT SUAMI GUE YA? HAH!" Nindi berteriak tepat di depan wajah Jessi



"Ti..Tidak, Nyonya! saya tidak punya maksud jelek seperti itu.. Tolong lepaskan rambut saya!" Jessi memohon kepada Nindi



"Rasain lo!! hm?" Nindi semakin menarik kuat rambut Jessi.



Leon bingung bagaimana melerainya.


Dia berjalan mendekat ke arah Nindi dan Jessi.



**Apa yang akan Leon lakukan? πŸ™ˆ**



![](contribute/fiction/4477360/markdown/23506968/1655648181219.jpg)



**Anindira



Vs**



![](contribute/fiction/4477360/markdown/23506968/1655648181214.jpg)



**Jessi πŸ™ˆπŸ™ˆ



....



Hai selamat memulai aktivitas kembali, sahabat πŸ€—


Gak terasa weekend sudah berlalu ❀



Happy reading πŸ€—

__ADS_1


See you next part, bye bye πŸ’ƒπŸΌπŸ’ƒπŸΌ


Jangan lupa tinggalkan jejak dan dukungannya ,😘**


__ADS_2