Hasrat Sepupu (Pengkhianatan)

Hasrat Sepupu (Pengkhianatan)
Malam kedua,


__ADS_3

Leon hanya menatap kepergian Nindi, yang setengah berlari menaiki anak tangga menuju kamar. Leon menghela nafas kasar, dan ia berjalan ke sofa lalu mendudukkan bokongnya di sofa tersebut. Leon mendongakkan kepala dengan memejamkan matanya sejenak. Ia bingung harus bagaimana, membiarkan Nindi atau menjelaskan kepada Nindi tentang kejadian di restoran tadi siang.


Setelah Leon sudah mengambil keputusan, ia segera melangkahkan kaki menuju kamar guna menemui Anindira. Leon berjalan menaiki anak tangga satu persatu. Sesampainya di depan kamar, ia membuka pintu kamar itu tanpa mengetuk terlebih dahulu. Dan pintu pun terbuka, untung saja tidak di kunci oleh Nindi. Leon terus masuk ke dalam kamar, dan tujuannya saat ini adalah membersihkan diri dahulu. Leon pun masuk ke dalam kamar mandi tanpa menghiraukan Nindi yang sedang terisak di atas ranjang.


15Menit kemudian. Leon sudah selesai membersihkan diri, ia keluar dari kamar mandi, hanya menggunakan celana bokser pendek dan baju tanpa lengan. Leon menoleh ke arah Nindi yang masih betah menangis di atas ranjang. Perlahan, Leon berjalan mendekati Anindira. Sesampainya di dekat Nindi, ia mengelus lembut pucuk kepala Nindi.


"Maaf,," hanya satu kata yang keluar dari bibir Leon.


Nindi berhenti menangis dan ia menoleh menatap wajah tampan suaminya itu.


"Kakak barusan berkata apa??" Nindi pura-pura tidak dengar


"Maaf!" ujar Leon untuk kedua kalinya, dan perkataan yang barusan Leon lontarkan, mampu membuat sudut bibir Nindi terangkat dan membentuk sebuah senyuman.


"Kakak.." Nindi memeluk tubuh tegap milik Leon.


"Kak, aku mohon jangan perlakukan diriku seperti ini.. Aku sangat mencintaimu, dan aku rela melakukan apa pun untuk mu kak," Nindi masih betah mendekap tubuh suaminya.


Leon tidak membalas pelukan Anindira, entah mengapa walaupun sudah satu bulan menikah dengan Nindi, dan pernah menyentuh Nindi, tidak membuatnya bisa mencintai Anindira.


Nindi melepaskan pelukannya di tubuh Leon, ia menatap manik mata abu-abu milik Leon lekat-lekat, dan Leon juga menatap manik mata hitam bening milik Anindira.

__ADS_1


"Kak, aku mohon sekali lagi. Cobalah buka hati kakak untukku, jangan membuat ku menderita seperti ini.. Aku tidak bisa melihat kakak dengan wanita lain, aku tidak sanggup kak..." Nindi berkata lirih, dengan air mata yang menetes membasahi pipi mulusnya.


Leon belum bisa mencintai Nindi, namun ia tidak tega jika melihat Nindi terus-terusan menangis dan tersiksa batin karena dirinya. Perlahan tangan Leon terangkat, ia menghapus air mata yang berada di pipi Nindi dengan lembut. Leon sudah bertekad untuk membuka hati untuk Nindi, dan itu harus bisa ia lakukan. Meskipun nama Aresha tidak akan pernah pudar di dalam hatinya.


"Maafkan aku, Anindira.. Kamu tersiksa batin seperti ini karena kelakuan ku. Kamu sudah tau bukan, jika aku sama sekali tidak menginginkan pernikahan kita ini." Leon berkata dengan nada pelan dan lembut.


Nindi pun menyadari perubahan sikap Leon ini. Ia menggenggam tangan Leon yang masih berada di pipi nya.


"Kak!! Aku yakin, jika kakak berusaha dengan benar untuk belajar mencintaiku, pasti suatu saat nanti kakak memang bisa mencintaiku dengan tulus.." Nindi dan Leon masih menatap manik mata satu sama lain.


Leon menundukkan pandangan dengan tangan yang masih berada di pipi Nindi.


"Baiklah.. Hari ini aku berjanji, bahwa aku akan mencintaimu dengan tulus, Anindira.. Tapi kamu harus tau satu hal, nama Aresha tidak akan pernah bilang dari hatiku. Dan jika kamu memaksa supaya aku melupakan Aresha, maka aku tidak bisa. Aku tidak bisa melupakan Aresha,," Leon masih menundukkan kepala.


'Sial! sulit sekali menyingkirkan nama Aresha saja. Hem, mungkin saat ini kamu belum bisa melupakan Aresha, kak Leon.. Tapi lihat saja nanti jika aku sudah mengandung anak mu, pelan tapi pasti kamu akan tunduk pada ku dan menuruti setiap perkataan ku.' Nindi tersenyum miring, dan ia menangkup wajah Leon agar menatap nya.


"Lihat aku kak, tatap mata ku! Aku tidak akan memaksa kakak untuk melupakan kak Rere, tapi aku ingin kakak mencintaiku, dengan tulus.."


Leon tersenyum tipis, ia menganggukkan kepala pelan.


Nindi bahagia melihat anggukan kepala dari Leon.

__ADS_1


"Nah, untuk membuktikan jika kakak benar-benar ingin belajar mencintaiku dan menerima ku. Aku ingin kita melakukan nya malam ini..." Nindi menaikkan sebelah alisnya


Leon mengerutkan dahi dan bertanya, "Melakukan? melakukan apa maksud kamu?"


Nindi hanya tersenyum tipis dan mengalungkan kedua tangannya di leher Leon.


"Melakukan, seperti yang di hotel bulan lalu,"


Leon tersenyum tipis, dan ia akan mencoba untuk benar-benar menerima Nindi sebagai istrinya. Leon mulai mengikis jarak pada wajah Nindi. Ia mengecup bibir Nindi sejenak, dan semakin lama semakin mengulum. Mereka berdua saling bertukar saliva, dan ciuman itu makin lama semakin menuntut meminta lebih. Lalu terjadilah malam kedua, sesudah honeymoon di hotel bulan lalu..



**Maafin babang Leon ya, Re.. 🀧🀧


....


HAPPY READING 🌹


SEE YOU NEXT PART TOMORROW😍😍


JANGAN LUPA BERIKAN DUKUNGAN 😘😘

__ADS_1


terimakasih β€πŸ€—**


__ADS_2