
Amir dan seluruh keluarga menatap Dokter wanita itu dengan rasa penasaran.
"Katakan Dokter! Apa kabarnya? Jika kabar buruk, semoga saja masih bisa di tangani." ucap Amir.
"Huft!" Dokter menghela nafas pelan. Dia menatap anggota keluarga pasiennya itu satu persatu. "Pertama, saya akan katakan kabar baiknya dulu. Nyonya sudah melahirkan bayi kembar yang berjenis kelamin laki-laki, dan Alhamdulillah bayi nya sehat tanpa kekurangan apa pun. Saat ini, bayi Tuan sedang ada di inkubator, karena lahirnya prematur di usia delapan bulan, maka harus mendapatkan perawatan.." ucap Dokter tersebut.
"Lalu, bagaimana keadaan istri saya Dok? Tidak terjadi apa-apa dengannya kan?" Amir bertanya dengan rasa khawatir yang menyelimuti hatinya.
Dokter menundukkan kepala.
"Nyonya sedang dalam masa kritis. Beliau terlalu banyak mengeluarkan darah.." ucap Dokter dengan sedih.
Deg!
Jantung Amir seperti ingin berhenti berdetak. Dia berjalan mundur ke belakang sambil menatap ruang operasi.
"Aresha.." seru Amir lirih dengan air mata yang menetes di pipinya.
Seluruh keluarga menangis saat mendengar kabar tentang Aresha.
"Tidak mungkin.." Amir menggeleng.
Para suami menenangkan istri mereka masing-masing dengan cara memeluk.
"Mi.. Sabar Mi.. Kita harus yakin, bahwa putri kita bisa melewati masa kritisnya. Rere kita adalah wanita yang kuat, dia pasti akan segera sadar.." lirih Sam dengan mengelus pundak Silva.
"Pi.. Putri kita.." Silva meraung di dalam pelukan Sam.
"Pa... Kenapa ini terjadi pada putra dan menantu kita?? Kedua bayi mereka masih kecil.. Semoga menantu kita segera sadar.." Karin terisak di dalam pelukan Shidiq.
Shidiq mengelus rambut Karin.
__ADS_1
"Ma.. Kita berdoa saja untuk kebaikan menantu kita, semoga dia segera sadar, jangan berpikiran buruk dulu.."
Amir seperti orang linglung. Dia menangis dan berlari menuju ruang inkubator.
Amir menghapus air matanya.
"Sus! Dimana kedua putra saya?" Amir bertanya kepada perawat yang kebetulan lewat.
"Dengan Tuan Amir Arsalaan?" ujar perawat itu.
Amir mengangguk.
"Silahkan ikut saya.." perawat tersebut mengajak Amir menuju ruang inkubator.
Amir menatap kedua putranya dari ruang berkaca itu.
"Putra ku.." Amir menangis menatap kedua putranya dari luar.
"Aresha.. Lihatlah putra kita, dia sepertinya sangat mirip dengan mu.." lirih Amir. Dia menatap perawat yang masih berada tak jauh dari tempatnya berdiri.
Suster pun berjalan mendekat ke arah Amir.
"Ya Tuan, ada apa?"
"Bisa saya masuk ke dalam sana?" Amir menunjuk ruang inkubator.
"Saya ingin mengadzani anak saya.." ujar Amir
"Tentu!" suster membukakan pintu ruangan berkaca itu.
Amir masuk ke dalam ruangan tersebut dengan hati yang tidak karuan. Sedih, bahagia, hancur, dan putus asa menjadi satu di dalam hatinya.
__ADS_1
"Putraku.." Amir menggendong salah satu putra kembarnya. Dia pun mengadzani putranya itu, setelah itu dia bergantian mengadzani putra yang satunya.
Selesai mengadzani, suster menyuruh Amir agar keluar dari ruangan tersebut. Sebelum keluar, Amir menyempatkan menatap kedua putranya.
"Doakan Mama kalian agar cepat sadar ya nak?? Pasti dia akan sangat bahagia, melihat kalian berdua yang sangat mirip sekali dengannya.." Amir tersenyum sendiri menatap kedua putra kembarnya.
Dia keluar dari.ruangan itu.
Amir berjalan gontai ke arah ruang ICU. Ruangan dimana Aresha sudah di pindahkan.
Amir menatap tubuh Aresha yang terbaring di atas ranjang melalui kaca.
"Sayang.. Bangun.." lirih Amir sambil menghapus air matanya.
Dari belakang, Karin datang dan mengelus pundak Amir.
"Kamu yang tabah ya nak.. Doakan agar istri kamu cepat sadar.." Karin berbicara sambil menangis.
Amir memeluk tubuh Mamanya, dan Karin pun mengelus kepala Amir dengan sayang..
'Aku akan memberikan pelajaran padamu Mora! Lihat saja!' batin Amir.
•
•
•
•
**TBC.
__ADS_1
HAPPY READING..
TERIMAKASIH YANG SUDAH MEMBACA NOVEL RECEHAN KARYA MOM 🤗 SATU LIKE SAJA SANGAT BERARTI UNTUK MOM. ❤❤**