Hasrat Sepupu (Pengkhianatan)

Hasrat Sepupu (Pengkhianatan)
Menginap,


__ADS_3

Setelah Salma memanggil Abi dan Umi nya, akhirnya Leon dan Rendy di ijinkan untuk menginap di rumah Abi Abdullah. Saat ini mereka sedang berada di meja makan, sebab jam sudah menunjukkan pukul 19.00 wib.


"Maaf, Tuan. Kami merepotkan kalian," ujar Leon sopan, saat mereka akan mulai makan malam bersama.


"Tidak masalah, Nak. Kami memang sering begini, menolong orang yang ingin bermalam di desa kecil ini." ujar Abi Abdullah


"Kalau boleh tahu, siapa nama anak Tuan itu?" Rendy langsung bertanya nama Salma.


Leon melirik tajam ke arah sekertaris nya itu.


Sedangkan Rendy, dia hanya tersenyum lebar.


Abi Abdullah menatap Rendy, dan kemudian dia menatap Salma yang sedang mengambil sayur di dapur.


"Oh.. Itu putri sematawayang saya, nama nya Salma.." Abi tersenyum tipis, "Nak, jangan panggil saya Tuan.. Panggil saja Abi. Semua warga di sini juga memanggil saya dengan sebutan Abi," lanjut ucapan Abi Abdullah.


"Baik, Abi." Rendy tersenyum ramah.


Salma dan Umi datang ke meja, dan mereka memulai makan bersama di selingi obrolan ringan.


Setelah selesai makan, mereka berkumpul di ruang tamu. Begitupun dengan Umi dan Salma.


"Nak, sepertinya kalian berdua ini bukan orang sembarang?" Umi langsung bertanya, dari pada dia penasaran dengan tamu yang menginap di rumahnya ini.


"Maksudnya bagaimana, Nyonya?" Leon bertanya heran, sebab dia tidak mengerti dengan apa yang Umi ucapkan.


"Pertama, jangan panggil saya Nyonya. Panggil saja saya Umi! Dan maksud saya tadi, sepertinya kalian orang penting. Karena terlihat dari gaya berpakaian dan gaya bicara kalian sangat berbeda dengan orang biasa."


Leon tersenyum tipis sebelum menjawab pertanyaan dari Umi.

__ADS_1


"Kami memang orang penting, Nyonya. Saya Leon Richard, anak pemilik perusahaan telekomunikasi Richard Grup. Dan dia, sekertaris sekaligus tangan kanan saya, namanya Rendy." Leon menunjuk Rendy. Sedangkan Rendy, dia malah terus mencuri-curi pandang ke arah Salma dan sesekali tersenyum sendiri.


Umi dan Abi menganggukkan kepala.


"Apa kami boleh tau, mengapa kalian datang ke desa kami?" tanya Abi kepada Leon


"Iya, Abi. Kami datang ke desa ini, karena ingin bertemu dengan pemilik pertambangan di sini. Kami berencana ingin bekerjasama membangun puskesmas di sini, agar jika sakit atau ada apa-apa, warga desa tidak perlu jauh-jauh ke kota." ujar Leon menjelaskan


"Pemilik pertambangan? Amir Arsalaan?" Umi bertanya gantian.


Leon menganggukkan kepala.


"Benar, Umi. Apa anda tahu rumahnya? "


Abi dan Umi menganggukkan kepala.


"Jika Abi atau Umi berkenan, bisa tidak besok mengantarkan kami berdua ke rumah Amir Arsaalan? Sebab, tadi kami menelepon nomornya tidak aktif.."


"Terimakasih, Abi."


Abi menganggukkan kepala dan tersenyum tipis.


Mereka melanjutkan obrolan kembali.




__ADS_1



Amir mengantarkan Aminah pulang, sebab mereka berdua baru pulang dari Mall.


"Makasih ya, Mas! Seharusnya Mas Amir tidak perlu repot-repot membelikan Minah barang-barang ini." ucap Minah merasa tidak enak hati.


"Tidak masalah, Minah.. Kamu tidak perlu risau, kamu kan calon istri ku! Tinggal menunggu hasil bujukan ku nanti, dan kita akan segera menikah," Amir tersenyum.


Aminah tersenyum malu.


"Ya sudah! Aku pulang dulu ya?" ujar Amir berpamitan.


"Hati-hati ya, Mas.."


Amir menganggukkan kepala, "Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam," sahut Minah melambaikan tangan kepada Amir, yang sudah menaiki moge nya.


Aminah masuk ke dalam rumah, namun baru saja sampai di depan pintu, Romlah sudah berdiri di ambang pintu dengan tangan yang diletakkan di pinggang.


...


Kenalan dengan sekertaris Rendy yuk... 🤗🤗



**Rendy Singh.


...

__ADS_1


Happy Reading Guys..


Jangan lupa tinggalkan jejak dan dukungannya 😘**


__ADS_2