
Excel dan Nindi telah sampai di Restauran, yang menjadi tempat janjian Ex dan sang klien.
"Ex.. Aku malu," ujar Nindi sambil berjalan di samping Excel.
Excel menggenggam tangan Nindi.
"Come on sweetu.. Kenapa kamu harus malu?" tanya Excel heran.
'Sweetu adalah panggilan kesayangan Excel untuk Anindira,' * Note.
Nindi hanya diam saja, dia tidak menggubris pertanyaan dari Excel.
"Nomor berapa mejanya?" Nindi bertanya kepada Ex.
"05," sahut Excel singkat.
Mereka berdua mengedarkan mata mencari nomor meja 05.
"Nah.. Itu mejanya," Excel menunjuk salah satu meja, dan sudah ada seorang pria yang memakai setelan kemeja di sana. Namun Ex belum tau pasti, itu kliennya atau bukan. Sebab, pria yang duduk itu membelakangi arah Excel berjalan.
"Ayo kita ke sana," Excel melingkarkan tangan Nindi di tangannya. Mereka berdua berjalan menuju meja itu.
Setelah hampir dekat. Nindi merasa gugup, sebab dia seperti mengenal style orang di hadapannya saat ini.
'Kenapa sangat mirip dengan kak Leon, jika dari belakang? Tapi tidak mungkin kak Leon. Aku juga tadi lupa bertanya dengan Ex siapa nama kliennya,' batin Nindi dalam hati.
"Maaf, Tuan! Saya sedikit terlambat," ujar Ex, saat sudah berada di belakang tempat duduk Leon.
Leon berdiri dan menghadap ke belakang. Betapa terkejutnya dia, saat melihat siapa wanita yang bersama Excel.
"Nindi.." gumam Leon pelan
Mata Nindi membulat dengan sempurna. Nindi mengeratkan pegangan tangannya yang melingkar di tangan Ex.
"Sweetu.. Kenapa kamu mencengkram tanganku?" tegur Excel.
Nindi hanya menoleh sekilas ke arah Excel, tanpa mengendurkan pegangan tangannya. Dia menatap Leon dengan tatapan sedih, cinta, dan juga penyesalan.
__ADS_1
Excel yang melihat Nindi dan Leon hanya saling tatap, langsung bingung.
"Kenapa kalian berdua diam saja? Apa kalian saling kenal?" Excel menatap Leon dan Nindi bergantian.
"Kami-" ucapan Nindi terpotong, karena Leon dengan cepat menyelanya.
"Tidak, Tuan! Saya tidak mengenalnya. Apa dia calon istri anda?" Leon bertanya dengan nada yang terdengar santai. Namun, dia masih menyimpan kebencian kepada Nindi.
Excel menatap wajah Nindi. "Doakan saja, Tuan." sahut Excel, "Oh ya. Dia Anindira, Tuan! Anak sahabat Papa saya," ujar Excel.
"Leonardo Richard," Leon mengulurkan tangannya ke arah Nindi.
Betapa sakitnya hati Nindi, kala pria yang selama ini dia rindukan, mengatakan tidak mengenalnya.
'Sebegitu bencinya kamu padaku kak?' batin Nindi pilu.
Excel yang melihat Nindi hanya diam saja, langsung menyenggol tangan Nindi pelan.
"Sweetu, Tuan Leon mengajakmu berkenalan." ujar Excel.
Nindi tersadar dari lamunannya. Dia tersenyum tipis, dan mencoba menetralkan kesedihannya itu.
Jabatan tangan pun terlepas.
"Baiklah. Mari duduk!" ajak Leon.
Mereka bertiga pun duduk di kursi.
"Maaf, Tuan. Saya tadi menunggu sweetu.. Eh.. Maksud saya Anindira. Saya tadi menunggu dia, karena itu saya sedikit terlambat." ujar Excel minta maaf. Pasalnya, dialah yang tidak suka menunggu lama, dan juga tidak suka dengan orang yang tidak tepat waktu. Tapi sekarang, malah dia yang terlambat.
"It's oke Tuan Excel. Saya sudah terbiasa menunggu seperti ini," sahut Leon dengan senyum tipis. Senyum yang sangat Nindi rindukan.
Leon menatap Anindira.
"Nona, Anindira. Apa anda tinggal di negara ini juga?" Leon bertanya pura-pura tidak kenal.
Nindi yang tadinya menunduk langsung mendongak menatap wajah sang mantan suami.
__ADS_1
"Saya baru beberapa bulan tinggal di negara ini, Tuan." ujar Nindi seadanya.
Leon hanya mengangguk saja.
"Apa Tuan Leon sudah memesan makanan?" Excel bertanya kepada Leon.
"Belum. Saya hanya meminum wine saja tadi."
"Kalau begitu, biar saya panggilkan waiters," Ex langsung memanggil waiters di Restauran itu, menggunakan kode tangan.
Sang waiters pun datang. Kemudian, mereka memesan menu makan malam sesuai selera masing-masing.
Ya, Nindi saat ini tinggal di Jerman, karena Zein yaitu Ayah Nindi. Memberikan Nindi tugas, untuk mengurus cabang perusahaannya yang berada di Jerman. Silvi juga sudah satu minggu berada di kediaman Nindi, Silvi sangat merindukan putri tunggalnya itu.
Nindi juga sudah pulih dari lumpuh yang dia alami. Zein juga Silvi, memberikan semangat serta memberikan pengobatan terlengkap untuk Nindi agar bisa berjalan lagi. Nindi juga sudah melupakan masa kelam nya, dia benar-benar telah bertobat. Namun, hanya melupakan Leon yang sulit. Hingga kedatangan Excel, perlahan mampu membuat Nindi lupa akan sosok Leon. Dan saat ini, masa lalu yang sangat sulit di lupakan datang menghampirinya.
.....
Apa yang akan Nindi lakukan?
**Ada yang kangen dengan Anindira gak nih?? 🙈
.....
Halo selamat sore guys..
Gimana idul Adha nya?
Tentu pada jalan-jalan dong ya..
Yang di rumah aja jangan sedih, baca novel dari Mom jamin gak akan suntuk deh..
Happy Reading 🤗
See you next part 😘
__ADS_1
Jangan lupa untuk memberikan jejak dan dukungannya ya 🤗
terimakasih ❤❤**