
Amir terus menatap layar monitor yang berada di hadapannya.
"Dok, ini kenapa titik kecil nya ada dua ya?" Amir mengucek matanya.
Dokter memperhatikan layar monitor.
"Benar Tuan. Titik kecilnya ada dua, karena Nyonya sedang hamil anak kembar," ujar sang Dokter.
"Kembar?" Amir dan Aresha bertanya bersamaan.
"Benar sekali.." Dokter membantu Aresha bangun dari berbaring nya. "Karena itu, janin Nyonya harus di jaga dengan ketat. Sebab hamil kembar ini agak sedikit sulit dan rentan,"
Mereka bertiga kembali menuju meja kebesaran Dokter.
"Saya akan buatkan resep vitamin untuk Nyonya." Dokter mulai menuliskan resep tersebut.
"Ini! Tuan bisa menebusnya di apotik. Saya ingatkan lagi, jaga kesehatan, makan yang cukup, jangan terlalu lelah, dan harus menjaga kandungan Nyonya dengan ketat.." Dokter memberikan selembar kertas kecil kepada Amir.
"Terimakasih Dok," ucap Amir dan Aresha bersamaan.
"Kami permisi," Mereka berdua keluar dari ruangan Dokter itu.
Di luar ruangan.
"Sayang... Kamu hamil," Amir memeluk Aresha dengan perasaan yang sangat-sangat bahagia.
Aresha membalas pelukan Amir. "Aku bahagia banget Mas.. Akhirnya, kita akan segera mempunyai anak. Penerus Arsalaan," Aresha mengelus perut ratanya.
"Kita harus mengabari seluruh keluarga.." Amir melepaskan pelukannya.
Aresha hanya mengangguk saja. Mereka berdua berjalan keluar dari rumah sakit.
Amir dan Aresha sudah berada di dalam mobil, dan mobil pun melaju menuju ke kediaman Nugraha.
Beberapa menit kemudian.
Mobil sudah sampai di halaman rumah orang tua Aresha.
Mereka berdua langsung berjalan masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Mami!!!!!!" Aresha berteriak memanggil Silva.
"Sayang... Kenapa harus teriak-teriak sih? Kasihan bayi kita,'' ucap Amir polos.
"Astaga Mas Amir.... Anak kita baru juga titik kecil. Mana mungkin terganggu dengan teriakan ku,"
Amir hanya terdiam dan tersenyum manis.
"Sayang nya Mami....." Silva berjalan dari arah dapur.
"Mami..." Aresha berjalan pelan ke arah Silva.
"Sayang... Tumben kalian berdua datang kesini? Apa suami kamu tidak kerja?" Silva mencium seluruh wajah putri kesayangannya.
"Mas Amir libur, Mi.." Aresha mencium kedua pipi sang Mami, dan memeluk Mami nya dengan manja.
Amir berjalan mendekat ke arah istri dan ibu mertuanya.
"Mi.." Amir mencium takdzim punggung tangan Silva.
"Apa kabar nak Amir?"
"Alhamdulillah baik, Mi.." Amir tersenyum ramah.
"Ada. Papi kamu sedang di halaman belakang.." sahut Silva .
Aresha langsung berjalan ke halaman belakang rumah, diikuti oleh Amir juga Silva.
"Mi.. Kok Papi liatin ke atas pohon mangga terus?" Aresha heran, karena melihat sang Papi dari kejauhan, yang terus menatap ke atas pohon mangga.
"Iya.. Tadi sewaktu Mami duduk di kursi yang berada di bawah pohon mangga, Mami melihat ada mangga yang sudah matang. Karena itu, Mami menyuruh Papi kamu agar mengambilnya. Mami pengen buat puding mangga. Tapi dari tadi sepertinya Papi kamu hanya melihat ke atas saja, tidak berusaha untuk mengambilnya," ujar Silva menjelaskan.
"Papi!!!'' Silva berteriak dari tempatnya berdiri. Terlihat Samuel menoleh kebelakang.
Samuel dapat melihat Amir, Aresha dan juga istrinya yaitu Silva.
"Ada Amir.. Kebetulan," Samuel tersenyum senang. Karena dia akan menyuruh Amir, agar mengambil buah mangga itu. Karena dari tadi Sam bingung harus bagaimana mengambilnya.
Sam berjalan menghampiri istri, anak beserta menantunya.
__ADS_1
"Aresha..." Sam memeluk tubuh Aresha.
"Papi.." Aresha membalas pelukan Sam.
Pelukan pun terlepas.
"Apa kabar Pi?" Amir mencium takdzim punggung tangan Sam.
"Kabar Papi sehat," Sam tersenyum tipis.
"Pi.. Mana mangga nya? Mami dari tadi nungguin di dapur loh," Silva menghampiri sang suami.
"Hehe.. Itu Mi.. Papi bingung ngambilnya bagaimana.." Sam tersenyum manis.
"Tinggal di panjat Pi.. Atau gak di ambil pakai galah. Apa susahnya?"
Sam hanya nyengir kuda.
"Eh.. Berhubung ada menantu Papi di sini, kamu aja yang mengambil ya Mir?" Sam tersenyum ke arah Amir.
"Saya?" Amir menunjuk dirinya sendiri.
'Aduh gawat.. Sepertinya aku datang di saat yang tidak tepat.. A!!!!' Amir berteriak pilu dalam hati.
"Iya kamu. Mau kan?"
"Em..." Amir berpikir.
"Ayolah Mas.. Kamu ambil saja, aku juga mau. Yang muda ya?" tanpa sengaja, Aresha telah menjadi pendukung Samuel.
"Baiklah.. Aku akan mengambilnya," Amir hanya bisa pasrah dan berjalan menuju pohon mangga guna mengambilkan mangga untuk mertua dan istrinya.
**Papi Sam dan Mami Iva numpang lewat ๐. Siapa tahu ada yang kangen ,๐.
โโโโโโโโ
Happy Reading..
__ADS_1
See you next part tomorrow๐ค..
Jangan lupa tinggalkan jejak dan dukungannya๐ terimakasih ๐๐ป**