
Leon terus menatap Aminah, dan menceritakan semua hal yang bersangkutan dengan Aresha. Aminah mencoba mengingat-ingat kehidupan sebelum dirinya amnesia.
"Aw,,," Aminah memegangi kepala yang terasa pusing.
Dengan cepat Amir memapah tubuh Minah.
"Minah, Minah kamu kenapa?" Amir terlihat khawatir.
"Kepala Minah pusing, Mas.." Aminah berbicara lirih.
Amir menatap Leon dengan tatapan tidak suka.
"Sudah saya bilang, tidak perlu menceritakan hal yang bersangkutan dengan calon istri anda itu, Tuan! Dia Aminah, calon istri saya, bukan calon istri anda yang hilang!"
Aminah memegang lengan Amir.
"Mas!! Sudah jangan terlalu di perpanjang, Minah gak papa kok. Kepala Minah hanya pusing, mungkin kelelahan." Aminah mencoba menenangkan Amir.
Amir menatap wajah Aminah.
"Ya sudah. Kamu pulang saja! Tidak perlu bekerja hari ini, Hm!" Amir mengelus pucuk kepala Minah.
Leon dan Salma sama-sama bersedih melihat orang yang mereka cintai berinteraksi mesra seperti itu.
"Tunggu dulu! Saya ingin mengantar calon istri saya keluar."
Aminah keluar dari ruang kerja, dengan dipapah oleh Amir.
Leon terdiam saja, menatap punggung belakang Aminah yang sudah hilang di balik pintu.
"Karena kalian.berdua sudah bertemu Mas Amir. Saya pamit pulang dulu. Permisi!" Salma langsung bergegas keluar dari ruangan Amir. Dia tidak sanggup melihat pria yang sudah lama dia cintai, bermesraan dengan gadis lain.
Di dalam ruangan saat ini hanya ada Leon dan Rendy.
"Ren! Itu Aresha Ren. Calon istri gue!"
Rendy mendekat ke arah sahabatnya.
"Calon istri? Mantan kali Le. Istri lo kan Anindira!" Rendy menepuk pelan pundak Leon.
Leon menatap Rendy dengan tatapan tajam.
"Santai aja, bro." Rendy tersenyum tipis.
"Tapi gue rasa dia itu memang Aresha. Secara, dari gestur tubuh, wajah, dan juga rambut, sangat mirip. Hanya nama dan cara berbicara saja yang berbeda." ujar Rendy yakin.
"Lo juga berpikiran seperti gue kan, Ren? Gue harus cari tahu tentang gadis itu. Feeling gue meyakinkan, kalau dia itu memang Aresha.." Leon bertekad bulat. Dia juga berpikiran akan memberitahu kepada seluruh keluarganya.
__ADS_1
Amir kembali masuk ke dalam ruangan.
Dia mendudukkan diri di kursi kebesarannya.
"Silahkan duduk, Tuan!" Amir berbicara sopan. Karena biar bagaimanapun, dia harus menjaga etika dengan tamu.
Leon dan Rendy duduk di sebrang kursi Amir.
Leon melirik Amir.
"Maaf, Tuan! Saya tadi tidak bermaksud untuk membuat keributan." ujar Leon mencoba untuk tetap tenang.
"Tidak masalah, Tuan! Saya mengerti bagaimana rasanya kehilangan seorang wanita yang sangat kita cintai. Baiklah, mari langsung kita bicarakan saja tentang kerja sama kita ini."
Leon, Rendy, dan Amir langsung berdiskusi tentang proyek bersama mereka.
•
•
•
Di kediaman Anindira.
Suara deru mobil berhenti di halaman rumah milik Leon dan Nindi.
"Gak tau. Ayo masuk saja!"
Mereka berdua pun berjalan ke teras rumah.
Ting tong.
Silvi memencet bel.
Tok tok tok..
"Nindi!! Anindira!!" Silvi mengetuk pintu sambil memanggil nama putrinya.
Zein mencoba membuka pintu.
Ceklek.
Silvi dan Zein saling pandang.
"Gak di kunci, Nda!" ucap Zein menatap pintu di depannya.
Lalu, mereka berdua bergegas masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Nindi!! Leon!!" setelah sampai di dalam, Silvi memanggil nama anak dan menantunya.
"Coba kita liat ke kamar. Barangkali masih tidur,"
Mereka berdua menaiki anak tangga menuju kamar Nindi.
Sesampainya di depan kamar, Silvi mengetuk pintu kamar itu.
Tok tok tok.
"Anindira sayang... Bunda datang, Nak!" Silvi berbicara sambil terus mengetuk pintu kamar.
"Kok gak ada sahutan, Yah?" Silvi terlihat khawatir.
"Biar aku saja yang mengetuk," Zein bergantian mengetuk pintu kamar, namun tetap tidak ada sahutan.
"Nindi.. Ayah dan Bunda masuk ya?" teriak Zein sambil memegang handel pintu. Lalu dia memutar handel pintu, dan pintu kamar Nindi terbuka.
Zein dan Silvi melangkah masuk ke dalam kamar, namun baru saja sampai di ambang pintu, mata Silvi melotot saat melihat sang putri tergeletak di lantai.
"Nindi!!!" teriak Silvi dengan berlari ke arah Anindira, di ikuti oleh Zein di belakangnya.
"Nindi.. Bangun, Nak.." Silvi menepuk pelan pipi Anindira. Air mata pun menetes di pipi Silvi.
"Biar aku gendong!" Zein mengangkat tubuh Nindi, dan meletakkannya di atas ranjang.
"Zein, segera hubungi dokter. Aku takut, Nindi dan bayi nya kenapa-napa," ujar Silvi menangis, dan dia berusaha membangunkan Nindi dengan memberi minyak kayu putih di hidung Nindi.
Zein pun menelepon dokter agar datang ke kediaman putri nya.
**Papa Zein sedang khawatir. Ada yang kangen gak nih??? 🤗🤗
..
Happy Reading ..
See you, Bye bye...
Jangan lupa untuk meninggalkan jejak dan berikan dukungan 😘😘**
...
Mampir ke karya temen Mom yuk. Barangkali suka 🤗
__ADS_1