Hasrat Sepupu (Pengkhianatan)

Hasrat Sepupu (Pengkhianatan)
Ketulusan


__ADS_3

Lidia menatap kedua bola mata Leon.


"Saya tidak ingin menikah dengan Anda!," ujar Lidia yakin.


Leon terkejut, dia mengerutkan dahinya.


"Kenapa? Kenapa Lidia? Apa kurangnya aku? Aku sudah mau mempertanggung jawabkan kesalahan ku. Apa kamu tidak memikirkan bagaimana perasaan orang tua mu nanti, jika memang benar kamu hamil, dan anak kamu tidak memiliki ayah?"


Air mata Lidia kembali menetes.


"Aku.. Aku sudah tidak mempunyai orang tua. Aku anak yatim piatu.."


Leon terdiam sambil terus menatap wajah Lidia. Dengan memberanikan diri, Leon mendekat ke arah Lidia, dan memeluk Lidia.


"Maafkan aku," hanya perkataan itulah yang selalu keluar dari mulut Leon.


Lidia terisak.


"Jika benar aku hamil, maka aku akan membesarkan anak ku sendirian.."


Leon menggeleng.


"Tidak! Apa yang kamu katakan? Jangan menyusahkan dirimu sendiri Lidia. Ada aku, aku yang akan bertanggungjawab, karena akulah yang bersalah.." Leon menangkup wajah Lidia.


"Jika Tuan mau bertanggungjawab karena terpaksa. Lebih baik tidak usah!" ucap Lidia.


Leon hanya tersenyum tipis melihat wajah imut Lidia.


"Aku tidak terpaksa. Aku adalah seorang duda, dan aku juga yang sudah merenggut kesucian mu. Meskipun aku belum mencintaimu, tapi aku yakin, pelan-pelan nanti, aku pasti bisa menumbuhkan rasa cinta itu untukmu. Melalui kebersamaan kita,"


Lidia hanya terdiam sambil berpikir.


'Ada benarnya juga apa yang Tuan Leon katakan. Paman dan Bibi pasti akan malu, jika mengetahui bahwa aku hamil, dan anakku nanti tidak mempunyai seorang Ayah,' batin Lidia, sambil tertunduk.


"Lidia," panggil Leon lembut.


Lidia mendongak.


"Ya sudah. Jika Tuan memang tulus ingin menikahi saya, saya bersedia! Tapi ingat, jangan ada penyesalan dibelakangnya nanti, jika Tuan hanya menikah dengan karyawan biasa seperti saya, seorang anak yatim piatu, dan juga orang miskin." ujar Lidia merendah.


"Sst!! Aku tidak peduli dengan status."


"Benarkah? Tuan memang tidak peduli akan status, tapi bagaimana dengan keluarga Tuan? Kedua orang tua Tuan? Apa mereka mau, mempunyai menantu miskin seperti saya ini?"


"Aku jamin keluarga ku tidak akan berbicara apa pun. Aku yang menjalani, bukan mereka! Aku juga akan menceritakan kepada mereka, kesalahan yang telah ku perbuat padamu.."


"Baiklah. Aku akan menunggu tanggal baiknya," ucap Lidia enteng. Sebenarnya, jika dia seperti ini, dia juga takut dianggap gadis murahan. Tapi mau bagaimana lagi, Lidia tidak punya pilihan lain, jika tidak menikah dengan Leon. Lidia tidak ingin, keluarga nya menanggung malu akibat dirinya.


"Tanggal baik? Maksud kamu, tanggal pernikahan?"


Lidia mengangguk.

__ADS_1


"Secepatnya.." ujar Leon.


"Aku akan menunggu," Lidia melangkahkan kaki. Namun belum juga melangkah, Leon sudah mencekal lengannya.


"Aw.. Tuan, apa anda benar-benar tidak waras? Bagaimana jika aku tadi terjatuh?" omel Lidia.


"Kamu mau kemana?" Leon bertanya kepada Lidia.


"Tentu saja ingin pulang. Kenapa harus bertanya??"


"Biar aku antar," Leon memberikan tawaran.


"Tidak perlu!" sahut Lidia jutek. Lidia kembali melangkahkan kakinya.


"Dasar keras kepala," Leon menggelengkan kepalanya. Dia mengejar Lidia, yang belum jauh dari tempatnya berdiri.


"Lidia.. Ayo aku antar," Leon terus mengikuti langkah Lidia.


"Saya bilang tidak perlu Tuan... Apa anda tidak dengar?" Lidia terus berjalan tanpa menoleh ke arah Leon.


"A...." Lidia berteriak karena terkejut, sebab saat ini badannya tengah melayang di udara. Ya, Leon tengah menggendong Lidia ala bride style.


"Tuan.. Anda-'' ucapan Lidia terpotong, karena Leon dengan cepat menyelanya.


"Anda tidak waras? Itu yang ingin kamu katakan bukan?" Leon terus berjalan ke arah mobilnya sambil menggendong Lidia.


Lidia tersipu malu, sebab saat ini, wajahnya dan juga Leon sangat dekat.


'Astaga.. Ternyata Tuan Leon benar-benar tampan sekali ya,' batin Lidia memuji calon suaminya itu, sambil mencuri-curi pandang menatap wajah Leon.


Di tempat lain.


Nindi dan Excel masih berada di ruang tamu, dengan suasana yang terlihat sangat serius.


"Bicaralah Nin. Aku akan mendengarkan, apa yang membuatmu menolak menikah denganku??" ujar Excel tulus.


Nindi menatap Excel sejenak, dia menghela nafas dan membuangnya pelan.


"Ex.. Aku adalah seorang janda. Aku juga pernah melakukan hal kriminal, yang mana harus membuatku berada di sini," Nindi melirik wajah terkejut Excel.


"Kamu terkejut?" Nindi tertawa sumbar. " Aku sudah bisa menebak. Pasti, siapapun yang dekat denganku setelah ini akan menjauhiku," Nindi tersenyum tipis.


"Ceritanya masih panjang Ex. Siapkan jantungmu, agar tidak melompat dari sini," Nindi menunjuk dada Excel pelan.


"Lanjutkan," ujar Excel datar.


"Semua berawal dari sifat iri dan dendam, yang ada dalam diriku, untuk kakak sepupuku yang bernama Aresha." Nindi mulai menceritakan masa lalunya. "Ex.. Apa kamu tau Tuan Leon?" Nindi menatap wajah Excel.


Excel hanya mengangguk sembari menatap wajah Nindi.


"Dia adalah mantan suamiku.." ucap Nindi pelan.

__ADS_1


Excel sangat terkejut.


"Mantan suami? Lalu, lalu mengapa dia bilang waktu itu tidak mengenalmu?"


"Kamu tau, dia sangat membenciku, sebab aku telah mencelakai calon istrinya, yang tak lain adalah kakak sepupuku sendiri, agar aku bisa menikah dengan Leon Ex. Aku sudah dibutakan oleh cinta dan dendam. Aku merasa bahwa, kak Aresha lebih unggul dariku. Aku juga pernah membunuh seorang wanita yang berniat menghancurkan kebahagiaanku juga calon bayiku." jelas Nindi kepada Excel.


"Calon bayi?" Excel semakin heran dengan cerita dari Nindi. Pasalnya, dia memang tidak tahu dan tidak bertanya tentang masa lalu Nindi di Indonesia.


Nindi mengangguk.


"Hm.. Aku juga pernah mengalami depresi, karena bayang-bayang seorang wanita yang sudah aku bunuh terus mendatangiku. Akhirnya aku memutuskan untuk bercerita dengan Leon, Leon marah, dan kejahatan ku yang lain terungkap, kak Aresha di temukan, dia mengatakan bahwa aku lah yang sudah mendorongnya ke sungai, hingga dia hanyut dan berada di sebuah desa." Nindi terisak dan menghapus air matanya.


"Setelah semua kejahatan ku terbongkar, Leon marah padaku, dia meninggalkan ku, dan aku mengejarnya. Tapi.. Tapi aku jatuh dari tangga saat mengejar Leon. Dokter mengatakan, bahwa kaki sebelah ku lumpuh, dan juga kemungkinan untuk aku bisa hamil lagi sangat tipis.." air mata Nindi mengalir deras di pipinya, saat dia menceritakan dirinya mengalami keguguran.


Excel hanya mematung mendengarkan cerita dari Anindira. Dia tidak menyangka, bahwa masa lalu Nindi sangatlah pahit.


"Apa kamu menjadi buronan, maka dari itu kamu berada di sini?" Excel bertanya dengan nada lembut, agar tidak menyinggung perasaan Nindi.


Nindi menghapus air mata yang menetes di pipinya.


"Tidak. Leon, kak Aresha, maupun keluarga mereka tidak ingin melaporkan ku ke polisi. Karena itu, Bunda mengajakku untuk tinggal di Paris. Kebetulan, kakek dan nenek juga sakit. Jadi Ayah yang mengurus perusahaan kakek, dan aku yang mengurus cabang perusahaan kakek yang berada di Jerman ini." Nindi memiringkan duduknya menghadap Excel.


"Ex.. Aku mohon, setelah ini jangan menjauhiku. Aku sudah menganggap mu sebagai sahabatku. Hanya kamu yang mengerti aku, Ex.." Nindi menatap manik mata Excel. "Aku sudah bertobat, aku sadar bahwa iri dan dendam sangatlah tidak baik untuk kehidupan kita kedepannya. Aku ingin berubah menjadi lebih baik lagi." ucap Nindi sendu.


Excel menatap manik mata Nindi.


".....''


*****


Apa jawaban dari Ex ya?? 🙈



Terpana dengan manik mata abang Leon 😍.


...


Mohon maaf Mom hanya up satu bab🙏🏻. Lagi mulihin badan..


Happy Reading guys..


See you next part tomorrow..


Jangan lupa tinggalkan dukungannya, LIKE, VOTE, KOMEN, HADIAH DAN FAVORITNYA ❤. terimakasih 😘


∆∆∆∆


Barangkali berminat, mampir ke karya temen Mom yuk 🤗.


__ADS_1


__ADS_2