
Leon dan Jessi sudah selesai melakukan kegiatan mereka. Saat ini, Leon tengah memakai kembali pakaiannya.
"Tuan," Jessi memanggil Leon, yang tengah berdiri di samping ranjang.
"Hm?" Leon mengancingkan kemejanya.
"Apa Tuan merasa puas?" tanya Jessi tanpa malu.
Leon menoleh ke arah Jessi, yang masih memakai selimut.
"Tentu! Permainan mu sangat bagus," Leon tersenyum tipis.
"Jika Tuan menginginkannya, Tuan bisa datang kepadaku. Aku akan melayani Tuan dengan senang hati," Jessi menatap wajah tampan Leon.
"Aku akan memikirkannya nanti. Kalau begitu, aku akan pergi ke kantor dulu," Leon melampirkan Jas nya di pundak.
Jessi mengangguk. Leon pun berjalan ke arah ranjang, dan mengusap lembut pucuk kepala Jessi.
"Hati-hati," ucap Jessi memberikan senyum manisnya.
Leon pergi melangkahkan kakinya menuju pintu kamar apartemen. Lalu dia keluar dari kamar milik Jessi.
Di dalam kamar.
"Yes!!" Jessi bersorak riang.
"Akhirnya, secara perlahan, aku bisa mendapatkan Tuan Leon.." Jessi tersenyum menang.
Dia membaringkan badan, dan tertidur.
Leon pergi menuju kantor menggunakan mobilnya.
"Apa aku harus menjadikan Jessi sebagai pelampiasan ku?" Leon bergumam sambil menyetir.
Beberapa menit kemudian.
Leon sudah sampai di kantornya.
Dia turun dari mobil, dan berjalan masuk ke dalam kantor.
"Bos!" Rendy yang saat itu melihat sang Bos, langsung memanggil.
"Ada apa Rendy?" Leon bertanya, sambil terus berjalan menuju ruangannya.
"Kita hari ini ada pertemuan dengan klien di Jerman," ujar Rendy memberi tahu jadwal Leon.
__ADS_1
"Jerman?" Leon mengulang ucapan Rendy.
"Benar, Bos. Selesai makan siang, kita akan langsung meluncur ke Jerman."
Leon mengangguk.
"Kamu atur saja semuanya,"
Rendy gantian mengangguk paham.
"Kalau begitu, saya akan mengurus segalanya dulu. Permisi!" Rendy pergi dari depan ruangan Leon.
•
•
•
•
Di bandara.
Amir dan Aresha sudah sampai di bandara. Mereka turun dari mobil, dan menggeret koper mereka masuk ke dalam bandara.
"Ada apa sayang?" Amir menoleh ke Aresha.
"Apa kamu mengingat sesuatu jika melihat bandara seperti ini?"
Amir menggeleng.
"Apa kamu ingat, waktu itu, ada gadis dan seorang pria yang sedang berebut taksi?"
Amir terdiam dan mengingat-ingat.
"Berebut taksi?"
Aresha mengangguk.
"Aku..." belum selesai berbicara, sudah terdengar suara Susi yang memanggil Aresha.
"Rere!!" teriak Susi melambai-lambaikan tangannya.
Aresha dan Amir menoleh ke asal suara.
"Mas! Itu mereka," Aresha tersenyum dan dengan cepat berjalan ke arah Susi beserta rombongannya.
__ADS_1
"Hai Kak.." Aresha sudah sampai di antara Susi dan para pegawai.
"Hai.." sahut Susi.
"Apa semua sudah datang?" Aresha melihat para pegawainya.
"Sudah! Hanya dua orang yang tidak jadi ikut. Mika dan Darli." ujar Susi.
Aresha hanya mengangguk.
"Ayo! Sepertinya, sebentar lagi pesawat kita lepas landas,'' Amir berjalan duluan di depan para rombongan.
Beberapa menit kemudian. Pesawat sudah lepas landas. Amir, Aresha dan para rombongan sudah berada di dalam pesawat.
"Sayang.. Aku ingat sesuatu tentang bandara," Amir berbicara pada Aresha, yang tengah menyandarkan kepalanya di pundak Amir.
"Benarkah?" Aresha mendongak dan menatap wajah Amir.
"Seorang gadis ingusan, yang menyerobot taksi seorang pria," Amir berbicara dengan terkekeh.
Aresha tertawa.
"Kamu juga mengingatnya? Aku tidak menyangka, bahwa pria yang aku panggil Om itu menjadi suamiku,"
Amir dan Rere tertawa bersama.
"Benar-benar tidak di sangka ya, Mas. Dunia ini sepertinya sangat sempit,"
Amir mengangguk, dan dia memeluk pundak Aresha. Sedangkan Aresha, dia memeluk tubuh Amir dari samping.
....
Apa yang akan terjadi selanjutnya??
**Mas Amir 😍.
..
Happy Reading guys..
Ayo berikan like sebanyak-banyaknya untuk mendukung Mommy agar lebih semangat untuk up 🤗🤗..
terimakasih.😘**
__ADS_1