Hasrat Sepupu (Pengkhianatan)

Hasrat Sepupu (Pengkhianatan)
Mengingat,


__ADS_3

Leon dan kedua orang tua Aresha sudah sampai di halaman rumah orang tua Amir.


"Ayo, Tante, Om!"


Leon berjalan di depan, dengan diikuti oleh Sam dan Iva.


ting tong.


Leon memencet bel yang berada di dinding dekat pintu utama.


tok tok tok.


"Permisi!!" Leon mengetuk pintu disertai panggilan


Ceklek


Pintu terbuka, dan Karina keluar dari rumah.


"Cari siapa ya?"


"Permisi, Tante. Kami dari kota J, ingin bertemu dengan Tuan Amir juga calon istrinya!"


Karin menganggukkan kepala.


"Mari masuk! Amir dan calon istrinya sedang feeting baju pengantin,"


Mereka berempat masuk ke dalam rumah. Setelah berada di dalam, mereka berempat duduk di sofa ruang tamu.


"Tunggu sebentar ya? Saya panggilkan Amir dan calon istrinya," Karin tersenyum ramah


Leon dan kedua orang tua Aresha menganggukkan kepala.


Karina berjalan menaiki anak tangga menuju kamar Amir.


"Ternyata Amir orang berada ya, Sam?" tanya Silva kepada Sam


"Ya, terlihat dari rumahnya sepertinya orang tua Amir juga seorang pengusaha." sahut Sam.


"Amir itu adalah pemilik pertambangan ikan di desa yang kita datangi tadi, Om." ujar Leon


Sam hanya menganggukkan kepala saja, tak lama kemudian.


Tap


Tap


Tap

__ADS_1


Suara hentakan sepatu terdengar berjalan menuruni anak tangga.


Kompak ketiga tamu yang duduk di sofa menoleh ke asal suara.


"S... Sam!" gumam Silva pelan dan melongo. Dia tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini. Seorang gadis yang benar-benar mirip dengan putrinya yaitu Aresha.


Aminah, Amir, dan kedua orang tua Amir berjalan mendekat ke arah sofa.


"Maaf, Tuan Amir. Saya tidak bermaksud lancang atau apa. Saya hanya ingin mempertemukan Aminah dengan kedua orang tua Aresha." Leon berbicara saat Amir dan kedua orang tua nya sudah sampai di dekat sofa. Sedangkan Aminah, dia berjalan perlahan sambil menatap Silva.


Bayang-bayang seorang gadis di butik, dan gadis yang terjatuh ke dalam sungai sedang berkeliling di kepalanya.


"A...Aresha putriku,," Silva berjalan maju mendekati Aminah.


Langkah Aminah terhenti saat Silva sudah berada di hadapannya.


"Aresha..." Silva langsung memeluk Aminah, dan dia menangis di dalam pelukan Aminah.


"Aresha putriku..." Silva mengelus rambut Aminah.


Aminah hanya diam mematung, dia tidak mengerti dengan apa yang terjadi.


Pelukan pun terlepas..


"Maaf, Nyonya! Saya Aminah, bukan Aresha." ujar Minah


"Kamu Aresha.. Kamu putriku yang hilang,," Silva memegang kedua pipi Aminah.


Aminah menatap semua orang yang berada di belakang tubuh Silva. Matanya terhenti ke arah Leon. Bayangan gadis dan seorang pria yang sedang makan malam romantis kembali menghinggapi pikirannya.


Kepala Aminah terasa sangat pusing, namun dia menahan semua itu. Sekarang dia akan melawan semua bayangan tidak jelas yang selalu datang ke dalam pikiran dan mimpinya.


"Drama apa ini, Tuan Leonardo Richard!" bentak Amir tidak suka.


Leon menoleh ke arah Amir.


"Maaf, Tuan! Saya hanya ingin memastikan jika Aminah itu bukanlah Aresha."


"Dia memang bukan Aresha. Dia itu Aminah!" Amir terlihat geram


"Bukankah dia itu hilang ingatan?" Leon berkata santai.


Amir diam saja tak menjawab ucapan Leon. Dia emosi hanya karena tidak ingin terjadi apa-apa dengan calon istrinya itu.


"Kamu tidak mengingat Mami, Nak? Ini Mami kamu, Mami Silva.." Silva menatap wajah bingung Aminah.


Silva menarik pelan tangan Minah, agar mendekat kepada Samuel dan Leon.

__ADS_1


"Ini Papi kamu. Papi Samuel! Dan ini, dia calon suami kamu, Leon.." Silva menunjuk Sam dan Leon.


Aminah hanya menatap wajah familiar Sama dan Leon.


'Aku memang seperti tidak asing saat melihat wajah mereka. Tapi aku tidak mengingat apa pun,' ujar Minah dalam hati


"Nak.. Dia itu calon suami kamu, Leon namanya. Tapi itu dulu, sekarang dia sudah menikah dengan adik sepupu kamu, Anindira. Kamu mengingat Nindi kan? Putri Om Zein dan Tante Silvi. Kamu ingatkan nak?" Silva berbicara lembut kepada Aminah.


Suara seseorang minta tolong, suara orang tertawa jahat, dan suara air yang mengalir deras terdengar di telinga Aminah.


Aminah menggeleng-gelengkan kepala dan menutup mata serta kepalanya tertunduk. Aminah juga menutup telinganya, dia melangkah mundur perlahan.


"Tidak!" gumam Minah pelan


Amir khawatir melihat sikap Aminah.


"Anda lihat kan, Tuan Leon. Calon istri saya jadi seperti itu gara-gara anda." Amir menggelengkan kepala, dan dia berjalan mendekati Aminah yang terus saja menutup telinganya.


"Aminah!! Minah.. Ini Mas Amir! Jangan pikirkan apa pun," Amir memegang pundak Aminah.


Aminah membuka mata dan berteriak, "TIDAK!!"


Aminah dengan cepat berlari ke luar rumah. Amir terkejut begitupun semua orang yang berada di ruang tamu itu.


"Aminah!" teriak Amir saat Aminah berlari keluar rumah.


Amir berlari mengikuti Aminah, semua yang ada dalam ruangan juga mengikuti Amir keluar rumah.


"Aminah!" teriak Amir memanggil Minah yang sudah berlari keluar dari halaman rumah.


Amir terus berlari, begitupun dengan kedua orang tuanya, Leon, dan kedua orang tua Aresha.


"A.......!!!!" suara teriakan panjang terdengar dari luar halaman, dan Amir yang melihat itu diam mematung dan sangat terkejut.





Kira-kira apa yang akan terjadi? Nantikan jawabannya di bab malam nanti 🤗 Ayo berikan komentar 😍



...


Happy Reading..

__ADS_1


Jangan lupa berikan dukungan dan tinggalkan jejak cintanya 😘


__ADS_2