Hasrat Sepupu (Pengkhianatan)

Hasrat Sepupu (Pengkhianatan)
Kabar bahagia,


__ADS_3

Leon bertanya penasaran kepada Dokter di hadapannya.


"Ada apa, Dok? kenapa dengan kondisi istri saya?"


"Sebelum saya mengatakannya, saya ingin bertanya terlebih dahulu dengan Nyonya Richard." Dokter menatap wajah Nindi.


"Nyonya, kapan terakhir anda datang bulan?" lanjut perkataan Dokter itu, bertanya kepada Nindi.


Nindi menautkan kedua alisnya.


"Datang bulan?" Nindi bertanya kembali


Dokter pun hanya menganggukkan kepala saja.


"Saya lupa, Dok! Cuma, seingat saya bulan ini saya memang belum datang bulan!"


Dokter tersenyum tipis.


"Perkiraan dari saya, bahwa Nyonya saat ini sedang hamil. Karena Nyonya mengalami mual, seperti yang Tuan jelaskan pada saya lewat udara tadi.." Dokter berkata yakin


"Apa? Hamil?" ujar Leon dan Nindi bersamaan. Kemudian, mereka berdua saling pandang satu sama lain.


"Dok, benarkah saya hamil?" Nindi bertanya kepada dokter dengan antusias.


"Iya, Nyonya. Selebihnya, Tuan dan Nyonya bisa ke rumah sakit dan memeriksakannya kepada Dokter Obgyn. Benar atau tidak dugaan saya ini."


Nindi tersenyum bahagia. Akhirnya, apa yang dia nanti-nanti akhirnya tercapai juga. Sedangkan Leon, dia hanya diam mematung.

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu saya permisi! Mari Tuan, Nyonya.." Dokter pamit dan langsung pergi meninggalkan kamar.


Setelah Dokter pergi, Leon menatap kosong ke arah depan.


"Kak! aku hamil..." ujar Nindi riang, namun tidak ada respon dari Leon. Nindi menatap wajah Leon yang hanya diam saja dari tadi.


"Kak!!" Nindi menggoyangkan tangan Leon pelan, dan akhirnya Leon tersadar dari lamunannya.


"Eh, kenapa?"


"Kakak gimana sih? aku tuh lagi senang karena aku hamil anak kakak. Bukannya ngucapin selamat." Nindi bersunggut kesal


"Selamat ya, Nindi. Aku turut bahagia.." ujar Leon dengan senyum paksa.


Nindi tersenyum lebar dan mengelus perutnya yang masih rata.


Nindi menganggukkan kepala, dan Leon langsung keluar dari kamar.


Setelah melihat Leon sudah keluar, Nindi bersorak riang.


"Yes!!!!! Akhirnya pelan-pelan tujuan ku akan tercapai." Nindi mengelus perutnya sambil berkata, "Kamu yang sehat-sehat di dalam sana ya sayang.. Mama seneng banget, akhirnya kamu akan hadir di antara Mama dan Papa.." Nindi berbicara sendiri, diiringi senyum yang tak pernah luntur dari bibirnya.


Di luar kamar.


Leon melangkahkan kaki dengan langkah cepat ke dalam kamar tamu.


Sesampainya di dalam kamar.

__ADS_1


"Argh...." Leon melempar semua barang yang berada di atas meja rias ke lantai .


"Sial sial sial!!!!!" teriak Leon meluapkan amarahnya. Dia terduduk lemas di lantai.


"Re,,,, maafin aku... Aku udah mengkhianati kamu lebih jauh lagi.." Leon menangis meratapi nasibnya. Dia terduduk di lantai, dengan kedua lutut yang di tekuk.


"Aku benar-benar seorang pengkhianat. Aku sudah sangat mengkhianati cinta kita..." Leon menyembunyikan wajahnya di kedua lutut yang dia tekuk.


"Aku sangat-sangat membenci diriku sendiri, AKU BENCI!!!! Argh...." tangan Leon memukul mukul lantai dengan kuat.


Dia beranjak dari duduknya, dan berdiri di depan meja rias. Di sana, dia melihat pantulan wajahnya yang seperti orang bodoh. Tidak tahu harus berbuat apalagi, selain menerima takdir. Di lubuk hatinya yang paling dalam, hanya ada nama Aresha seorang. Namun saat ini, di dalam rahim Nindi, juga ada benihnya yang sedang berkembang. .


Leon frustasi, dia menjambak rambutnya kasar dan karena emosi yang memuncak, Leon melayangkan sebuah bogeman ke cermin, hingga cermin itu hancur berantakan di lantai. Tangan Leon mengeluarkan darah segar, dan Leon hanya bisa menangis saja. Menyesal juga sudah percuma..



**Ada yang mau pinjemin bahu untuk bersandarnya abang Leon gak guys?? πŸ™ˆπŸ™ˆ


...


Halo apa kabar semua...


Happy Reading Guys πŸ€—


See you next part bye bye 😍😍


Jangan lupa tinggalkan jejak dan berikan dukungannya😘**

__ADS_1


__ADS_2