Hasrat Sepupu (Pengkhianatan)

Hasrat Sepupu (Pengkhianatan)
Suasana saat sarapan


__ADS_3

Amir dan Aresha berjalan menuruni anak tangga bersama dengan Aresha yang menggandeng sebelah tangan milik Amir.


Sesampainya di meja makan.


"Cie.. Yang pengantin baru.. Gandengan mulu udah kayak mau nyebrang," ujar Adzriel menggoda adiknya.


"Kakak!!" Resha merengek


Amir hanya tersenyum tipis dan mereka berdua mendudukkan diri di kursi.


"Ya sudah, kita mulai sarapannya ya?" ucap Silva


Mereka pun memulai sarapan bersama. Ya, keluarga Amir dan Ibu Leha juga Romlah masih berada di kediaman Nugraha.


"Amir! Papi mau bertanya, setelah ini kalian akan tinggal dimana?" Samuel berbicara di sela-sela menyantap sarapan pagi nya.


Amir menoleh ke arah Aresha sejenak.


"Kami berencana untuk membeli rumah di dekat sini, Pi."


"Loh, bukannya kamu sudah punya rumah ya nak? kenapa mau beli lagi?" Silva pun ikut bicara.


"Benar, Mi! Saya ingin membeli rumah di sini, karena jika Aresha ingin ke butik tidak akan terlalu jauh." sahut Amir.


Amir dan Aresha sudah bermusyawarah, bahwa mereka akan membeli rumah di dekat kota, supaya Aresha tidak terlalu jauh jika ingin ke butik, dan Amir juga tidak terlalu jauh jika ingin ke pertambakan.


"Apa kamu sudah yakin, nak?" Karin membuka suara.


"Tentu saja, Ma!"


Seluruh keluarga hanya menganggukkan kepala saja.

__ADS_1


Tanpa di sadari, Romlah terus mencuri-curi pandang ke arah Adzriel.


'Gile... Ganteng banget nih cowok.' Batin Romlah terus saja mengagumi Adzriel dalam diam.


Saat mereka sudah hampir selesai sarapan.


"Permisi,, Selamat pagi semua,"


Mereka yang sedang sarapan bersama menoleh ke asal suara.


Seseorang yang baru saja datang langsung melangkahkan kaki nya menuju meja makan.


"Selamat pagi,"


"Pagi," jawab mereka serempak. Bukan semua, hanya Aresha dan Amir lah yang diam saja, tidak membalas ucapan orang yang baru datang itu.


"Duduk nak. Ayo sarapan bersama," Silva menawarkan pada tamunya.


Amir menatap Aresha yang saat itu dengan tertunduk saja.


"Hai," sapa orang itu saat sudah berada du samping kursi Aresha.


Aresha mendongakkan kepalanya.


"Hai, Kak Leon.." sahut Aresha


"Aku kemarin lupa memberikan hadiah untuk kalian berdua. Jadi, spesial pagi ini aku datang ke mari untuk memberikan ini kepada kalian," Leon memberikan sebuah kotak yang sudah di bungkus kertas kado kepada Aresha.


Aresha melirik ke arah Amir, dan terlihat Amir menganggukkan kepala.


Aresha menerima kotak yang Leon berikan.

__ADS_1


"Terimakasih," ujar Aresha kepada Leon.


Leon hanya tersenyum. Tapi dalam hati, tidak perlu di tanya lagi, sebab hati Leon masih belum rela jika Aresha menjadi milik orang lain. Namun semua sudah menjadi kehendak yang maha kuasa, bahwa Aresha bukanlah jodohnya.


"Baiklah. Kalau begitu saya pamit dulu. Tuan Amir, Tante, Om, dan semuanya.. Permisi," Leon melangkahkan kaki pergi dari meja makan.


Aresha membuka kotak yang Leon berikan.


"Dua tiket?" gumam Aresha pelan


"Ada apa?" Amir bertanya heran karena tidak mendengar jelas apa yang Aresha katakan.


"Dua tiket ke Jerman," ujar Aresha memperlihatkan dua kertas yang dia ambil dari kotak pemberian Leon.


"Apa itu tiket bulan madu?" Adzriel bertanya penasaran.


Terlihat Aresha menganggukkan kepala.


Sedangkan Amir, dia hanya diam saja. Entah mengapa dia tidak suka jika Aresha berdekatan dengan Leon. Ada rasa cemburu dalam dadanya.



**Abang Leon 🙈


...


HAPPY WEEKEND ALL 😍😍


Happy Reading..


See you next part guys 🤗🤗

__ADS_1


Jangan lupa berikan dukungan dan jejaknya selalu 😘**


__ADS_2