Hasrat Sepupu (Pengkhianatan)

Hasrat Sepupu (Pengkhianatan)
Menegur dan penyesalan


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


Nindi sudah keluar dari rumah sakit. Saat ini dia sedang berada di kediaman orang tuanya.


"Bun...Bagaimana kabar pencarian kak Rere? Apa sudah ada kabar?" tanya Nindi pada sang Bunda. Nindi dan Silvi saat ini tengah berada di halaman samping rumah.


"Bunda belum menelepon Tante kamu, Nak.."


"Ya sudah, telepon saja sekarang, Nindi pengen tahu kabarnya," Nindi berbicara sambil memakan salad buah buatan Silvi.


Silvi mengambil ponsel, dan dia menghubungi nomor Silva.


"Halo, Kak.. Bagaimana kabar atas pencarian Aresha? Apa benar gadis itu adalah Aresha?" Silvi langsung bertanya saat panggilan sudah terhubung.


πŸ“²"Gadis itu benar Aresha! Dan saat ini, kami sedang dalam perjalanan menuju rumah kamu, Ivi." Silva berbicara dengan nada dingin.


Silvi menatap Nindi sekilas.


"Baiklah.. Aku tunggu,"


Panggilan diputus secara sepihak.


Nindi menatap Bundanya dengan bingung.


"Ada apa, Bun?? Nindi menegur sang Bunda yang hanya melamun saja.


Silvi melirik sekilas ke arah Nindi, "Gak papa, Nak. Cuma Bunda heran aja dengan Tante kamu, dia berbicara dingin dan sedang dalam perjalanan kemari.." Silvi terus menatap lurus ke depan.


"Uhuk,, uhuk,," Nindi tersedak salad buahnya. Dengan susah payah Nindi menelan salad yang sudah berada di tenggorokannya.


"Tante kemari? A.. Ada apa ya, Bun?" Nindi berbicara gugup.


Silvi hanya menggedikkan bahu saja.


Ting tong.


Bel rumah berbunyi.


"Nak, kamu mau di sini saja atau ikut? Sepertinya itu Tante kamu sudah sampai," Silvi berdiri dari duduknya.


"Nindi di sini aja deh, Bun!" Nindi tersenyum tipis


Silvi mengangguk dan dia berjalan menuju pintu masuk belakang rumah.


Ceklek


Silvi membuka pintu, dan terlihatlah Silva, Samuel dan Leon.


"Kakak.. Ayo masuk," Silvi tersenyum ramah.


Mereka berempat masuk ke dalam rumah.


"Rere mana, Kak? Kok dia gak ikut kesini?" ujar Silvi saat mereka sudah masuk ke dalam rumah.


"Aresha sedang istirahat di rumah! Kakak datang kemari ingin menemui Nindi." Silva berbicara cuek.


"Ada apa ini, kak? Kenapa wajah kalian seperti sedang marah begini?" Silvi menatap satu persatu wajah Sam, Iva dan juga Leon menantunya.

__ADS_1


"Bun.. Maaf sebelumnya! Dari awal saya sudah tidak menyukai Nindi, dan saya berusaha mencintainya karena saya pikir Aresha sudah tiada. Tapi saat ini, jujur saya adalah orang paling bodoh yang bisa di tipu oleh putri Bunda itu," Leon angkat bicara


"Apa maksud kamu, Leon? Bunda tidak mengerti,"


"Leon sangat menyesal karena sudah mempercayai ucapan Nindi, Bun! Apa Bunda tahu rahasia jahat Nindi selain membunuh Alya?" Leon menatap wajah bingung Silvi.


Silvi hanya menggelengkan kepala.


"Jika Bunda tidak tahu, mari kita bersama-sama bertanya kepada Anindira."


Silvi mengangguk dan mereka berempat pergi ke halaman samping rumah. Dari kejauhan, mereka dapat melihat Anindira yang sedang duduk di bangku panjang dan menatap lurus ke depan.


"Anindira!!" Silvi langsung memanggil Nindi saat sudah berada di samping Anindira.


"Tante...." Belum selesai Nindi berbicara, tiba-tiba.


Plak


Tamparan keras melayang di pipi kanan Nindi.


Nindi terkejut, begitupun dengan Silvi.


"KAKAK!!" teriak Silvi tidak terima, dia menghampiri Nindi dan memeluk pindah Nindi dari samping.


"APA YANG KAKAK LAKUKAN?" bentak Silvi tidak terima.


"APA KAMU TAHU SILVI, ITU ADALAH TAMPARAN UNTUK SEORANG PENJAHAT SEPERTI PUTRI MU ITU!!" Silva juga berteriak emosi. Setelah kebenaran yang Aresha ucapkan, Silva sebagai seorang ibu tidak bisa menahan emosi dan kemarahan yang ada di dalam dadanya. Silva sangat kecewa dengan Nindi.


"Penjahat?" Silvi menurunkan nada bicaranya.


"Benar, Silvi! Kamu tanyakan saja kepada putri mu itu, apa yang sudah dia perbuat terhadap Aresha!" Samuel pun langsung ikut bicara


Air mata Anindira menetes.


"Bun..." ujar Nindi pelan


"Katakan ada apa Nak??" Silvi menggoyangkan pelan pundak Anindira.


"Bun.. Nindi.. Nindi menyesal..." Nindi menggenggam kedua tangan Bundanya.


"Maaf? Apa.. Apa yang sudah kamu lakukan Nak? Jawab Bunda, jelaskan kepada Bunda," Silvi menagkup wajah Nindi.


"Nindi.. Nindi..." Nindi gugup, dia berbicara sambil menangis.


"NINDI SUDAH MENCELAKAI ARESHA, DISAAT PERNIKAHAN LEON DAN ARESHA INGIN DI LAKSANAKAN!! APA KAMU INGAT ITU SILVI?" Silva berbicara dengan sedikit berteriak, rasanya ingin sekali dia menjambak dan menampar wajah Nindi. Karena Nindi lah kebahagiaan Aresha hilang, dan dia juga kehilangan sosok putri kesayangannya hingga beberapa bulan.


Silvi syok dan dia menurunkan tangannya yang berada di pipi Nindi. Sedangkan Anindira, dia menundukkan kepala dan terisak.


"T..Tante, Om.. Maafkan Nindi,,," ucap Nindi pelan diiringi tangisan.


Silvi menatap wajah Nindi.


"Benarkah yang Tante kamu katakan itu Nindi? BENARKAH? JAWAB ANINDIRA MAHESWARI JAWAB!!!" Silvi membentak Nindi, dan dia menatap Nindi dengan tajam.


Nindi mengangkat kepala dan mengangguk pelan.


plak

__ADS_1


Sebuah tamparan berhasil mendarat di pipi Nindi untuk kedua kalinya. Dan yang menampar Nindi kali ini adalah Bundanya sendiri.


Nindi memegangi pipinya yang terasa kebas sambil terus menangis.


"Tante.. Maafkan Nindi Tante, Om.. Kak Leon.. Bunda.. Maafkan Nindi.." Nindi terisak


Silvi menggelengkan kepala.


"Bunda tidak menyangka bahwa kamu seorang kriminal, Nak. Kamu benar-benar penjahat Nindi!!"


Leon menatap Nindi.


"Anindira Maheswari! Mulai saat ini Aku Leonardo Richard menjatuhkan talak kepada mu, dan kita bukan pasangan suami-istri lagi. AKU MENALAK MU DAN AKU AKAN SEGERA MENGURUS SURAT CERAI KITA!! Kamu mengingat ucapan ku waktu itu bukan? Jika aku tahu siapa yang sudah mencelakai Aresha, maka aku bersumpah tidak akan memaafkannya. Kamu mengingatnya kan Anindira!!"


Nindi menatap Leon nanar. Dia berdiri dan ingin menghampiri Leon, namun apalah daya, tanpa bantuan tongkat Nindi tidak bisa berjalan dengan benar. Sebelum Nindi sampai di dekat Leon dia sudah terjatuh terlebih dahulu. Sekarang Nindi terduduk di rerumputan dan mendongak menatap Leon.


"K.. Kak!! Jangan katakan itu kak, aku tidak ingin berpisah dari kamu.. Aku mencintaimu kak,," air mata mengalir deras di pipi Nindi.


"Cukup!" Leon mengangkat sebelah tangannya.


"Aku tidak ingin mendengar apa pun lagi. Intinya, Aku sudah menalak mu, dan kita bukan suami-istri. Nikmatilah balasan dari kejahatan kamu itu Nindi!" Leon menoleh ke arah Silvi yang sedang menangis.


"Bunda.. Maaf jika saya punya salah. Saya permisi!" Leon pergi dari halaman samping rumah.


Silva mendekat ke arah Nindi.


"Tante kecewa dengan kamu, Nindi. Segala cara kamu halalkan demi obsesi dan keinginan kamu itu!" Silva langsung pergi dari tempat itu tanpa menoleh ataupun berbicara dengan Silvi.


Sekarang giliran Sam yang mendekat ke arah Nindi.


"Kamu benar-benar mempunyai jiwa psycopath, Anindira! Masih untung saya tidak melaporkan kamu ke polisi, karena Bunda kamu adik kandung istri saya!". setelah mengatakan hal itu, Sam langsung pergi dari tempat itu.


Sekarang tinggallah Nindi dan Silvi.


"Bunda sangat sangat kecewa dengan kamu, Nindi.. Bunda tidak menyangka bahwa karena keegoisan Bunda yang ingin selalu kamu mendapatkan apa yang kamu mau berujung seperti ini.. Bunda menyesal sudah memanjakan kamu, Anandira. Semua yang terjadi pada kamu saat ini, memanglah pantas kamu dapatkan. Bunda tidak tega melihat keadaan kamu, tapi Bunda juga kecewa terhadap mu." Silvi meninggalkan Nindi sendiri di bangku halaman.


Nindi sendiri di tempat itu, dia terus saja menangis meratapi semua perbuatan jahatnya.


"Aku menyesal.. Aku menyesal.. Hiks..." Nindi menutup wajahnya menggunakan tangan dan masih tetap terduduk di rerumputan.


"A.....!!!" teriak Nindi meluapkan segala penyesalannya.


β€’


β€’


β€’


β€’


**Belajar dari Anindira. Jangan terlalu memaksakan kehendak dan jangan egois untuk segala hal. Buanglah jauh-jauh rasa iri dan dendam. Penyesalan datang selalu belakangan.. πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»


....


Happy Reading..


See you next part nanti malam..

__ADS_1


Jangan lupa berikan dukungannya dan Jejaknya selalu😘😘**


__ADS_2