
Leon hanya terdiam saja, sembari menatap wanita muda yang usia nya berkisar 22 tahun itu.
"Aku, memang tidak ingat. Maaf !" ujar Leon tidak ingin membuat wanita di hadapannya tersinggung
"No problem, Mr. Anda tidak perlu meminta maaf,"
"Oh ya, berhubungan kita tidak sengaja bertemu di sini. Aku ingin memperkenalkan diri pada kalian berdua," ujar wanita itu, menyodorkan tangan kanan nya ke arah Nindi
Nindi menatap malas wanita ****** di hadapannya itu, namun ia harus menerima jabatan tangan wanita tersebut.
"Aku, Jessi Oktavia. Panggil saja, Jessi." ujar Jessi berjabatan tangan kepada Nindi.
"Anindira!" balas Nindi singkat, lalu wanita itu beralih menjabat tangan Leon
"Leon!" Leon berkata singkat seraya berjabat tangan pada Jessi. Setelah itu, Jessi menawarkan diri untuk duduk bersama Leon dan juga Nindi.
"Bisa kah aku duduk bersama kalian ?" Jessi menatap wajah Leon dan Nindi bergantian. Leon menatap Nindi, dan Terlihat dari raut wajah Nindi bahwa ia tidak setuju.
"Silahkan !" ujar Leon tanpa menghiraukan tatapan tajam dari Nindi.
Jessi tersenyum senang, ia menarik kurasi dan mendudukkan diri di kursi meja Leon.
"Akhirnya kita bertemu lagi. Anda tau Tuan ? jika tidak ada aku kemarin yang menolong anda dan mengantar anda pulang, entah bagaimana anda jadinya di bar kemarin itu." Jessi terus saja berbicara, tanpa mempedulikan ekspresi kecemburuan yang di pancarkan Anindira.
"Oh ya ? baiklah, terimakasih. Terimakasih karena Nona telah sudi menolong saya,"
__ADS_1
"Sama-sama, Tuan." Jessi tersenyum terus menatap wajah tampan milik Leon.
"Nona mau makan juga di sini ? atau ingin bertemu seseorang?" tanya Leon berusaha ramah
"Oh, aku datang ke restoran ini, untuk menemui seseorang. Hem, biasalah, Tuan.." Jessi menyahut seraya mengedikkan bahu nya
"Menemui seseorang? oh iya, anda kan wanita j*l*ng. Tentu saja mencari mangsa, benarkan ?" Nindi sudah tidak tahan untuk diam saja, ia di acuhkan oleh Leon karena kedatangan Jessi.
Jessi hanya berekspresi biasa saja, dan tersenyum tipis. Karena kenyataanya, ia memanglah wanita penghibur.
"Anda benar, Nyonya.." sahut Jessi tanpa beban
"Sudah ku duga, dasar wanita murahan!" sentak Nindi pelan, namun berhasil menusuk ke relung hati Jessi yang paling dalam. Tapi Jessi tidak bisa marah, atau pun menangis, karena Jessi terpaksa melakukan pekerjaan hina itu.
"Banyak orang yang mengatakan diri saya seperti itu, Nyonya. Tapi saya tidak marah, karena memang kenyataanya saya adalah wanita murahan. Hanya saja, saya melakukan pekerjaan menjijikkan ini, karena sebuah alasan." kelopak mata Jessi sudah berembun.
"Nindi, sudah. Jangan menghina orang lain seperti itu!"
Nindi menatap tidak percaya ke arah Leon, bisa-bisa nya Leon memarahi nya hanya karena seorang j*l*ng seperti Jessi. Itulah pikir Nindi.
"Kak, kakak memarahi ku ?" Nindi menggelengkan kepala pelan dan matanya melirik tajam ke arah Jessi.
"Aku sudah selesai, kalian lanjutkan saja mengobrol nya!" Nindi berdiri dari tempat duduknya, sebelum menunggu jawaban dari Leon atau pun Jessi.
Leon dan Jessi hanya menatap kepergian Anindira.
__ADS_1
"Maaf, Tuan. Karena kedatangan dan ucapan ku barusan, istri anda menjadi marah seperti itu .." Jessi menundukkan kepalanya. Ia tidak menyangka, jika semua akan seperti ini, entah mengapa hati nya sangat sakit sekali, saat Nindi mengatakan dirinya murahan di hadapan Leon. Biasanya juga ia tidak se-sensitif seperti tadi.
"Tidak papa-papa. Dia memang seperti itu, jangan tersinggung dan jangan di masukkan kedalam hati ucapannya tadi," Leon berusaha membela Nindi. Sepertinya, Nindi salah paham dengan dirinya.
"Baiklah, Nona Jessi! Saya permisi dulu, senang bisa bertemu dengan anda. Dan maaf apabila ada ucapan istri saya tadi, yang menyinggung perasaan atau harga diri anda." Leon berdiri dari tempat duduk nya, setelah membayar bill makanannya..
"Iya , Tuan. Tidak masalah, senang juga bisa bertemu dengan anda. Dan semoga, nanti kita bisa bertemu kembali.." ucap Jessi diiringi senyum manis nya.
Leon hanya menganggukkan kepala, lalu ia pergi dari meja itu menuju parkiran mobil nya. Ia yakin, pasti Nindi saat ini sedang marah besar di dalam mobil, karena ucapannya tadi.
Setelah kepergian Leon, Jessi tersenyum-senyum sendiri di meja Leon tadi.
"Pria yang baik, sopan, dan juga tampan. Sangat-sangat tipe suami idaman," Jessi membayangkan wajah tampan Leon dan juga cara berbicara Leon.
Hai hai.. Kenalan dengan Jessi dulu yuk.😊
**Jessi Oktavia 😍
...
SELAMAT MEMBACA..
SEE YOU NEXT PART NANTI MALAM, GUYS 😍
__ADS_1
JANGAN LUPA BERIKAN DUKUNGAN,🙏🏻😘
Terimakasih**..