Hasrat Sepupu (Pengkhianatan)

Hasrat Sepupu (Pengkhianatan)
Kabar bahagia


__ADS_3

Amir sudah mengambilkan istri beserta ibu mertuanya mangga.


"Mas.. Tolong kupas mangga nya ya? Aku akan membuat bumbunya dulu," Aresha tersenyum senang, lalu dia ke dapur guna membuat bumbu rujak.


"Astaga.. Baru membayangkan makan mangga muda itu saja, air liur sudah menetes." Aresha terlihat mempercepat gerakannya.


Silva masuk ke dalam dapur.


"Nak.. Kamu ngapain?"


Aresha menoleh kebelakang.


"Rere mau membuat bumbu rujak Mi. Untuk makan mangga muda yang Mas Amir ambil tadi," sahut Aresha.


"Sejak kapan kamu suka yang asem-asem gitu nak? Mangga muda itu asem loh. Kamu ini sudah seperti ibu hamil yang lagi ngidam aja," ucap Silva.


"Rere kan emang lagi hamil, Mi!'' Aresha membekap mulutnya sendiri.


Silva yang saat itu tengah membuka tutup toples langsung menghentikan aktivitasnya.


"Kamu hamil? Coba ulangi lagi, Mami gak salah dengarkan?" Silva menatap Aresha lekat-lekat.


Aresha hanya bisa nyengir kuda. Dia keceplosan, padahal belum ingin memberitahu sang Mami.


"Iya Mi.. Rere hamil," ujar Resha pelan.


"A...... Anak Mami hamil.. Mami bakalan punya cucu... Papi!!!!!! Kita bakalan punya cucu Pi!!!'' Silva terlihat sangat antusias berteriak kegirangan.


Amir dan Sam berjalan ke dapur.


"Ada apa sih Mi?'' Sam bertanya.

__ADS_1


"Pi.. Mami seneng banget.. Sebentar lagi kita bakalan punya cucu, duh.. Gak terasa ternyata kita udah tua ya Pi?" Silva bahagia.


"Cucu? Maksud kamu apa sih Mi?"


"Ya cucu loh Pi.. Rere kita sedang hamil," ucap Silva kepada Sam.


Sedangkan Amir, dia menatap Aresha. Seharusnya kan mengabarkan Aresha hamil itu nanti, tunggu bersantai bersama dahulu baru bicara.


Terlihat Aresha mengangguk pelan, dan nyengir kuda.


"Kamu beneran hamil nak?" Sam bertanya kepada Aresha.


"Iya Pi," sahut Rere tersipu.


"Selamat ya sayang.." Sam memeluk pelan tubuh putri kesayangannya, begitupun dengan Silva.


"Mami sama Papi senang banget deh. Kakak kamu juga kalau tahu pasti senang,"


"Ada lagi yang lebih membahagiakan Mi.." ucap Amir.


Sam dan Iva pun menatap Amir.


"Katakan nak, apa lagi?" Silva bertanya.


"Rere hamil anak kembar. Jadi dia tidak boleh terlalu lelah ataupun banyak pikiran," ucap Amir.


"Kembar? Ini benar-benar kabar yang sangat membahagiakan nak...." Silva memeluk gemas tubuh suaminya sendiri karena kelewatan bahagia.


Sam pun tersenyum bahagia.


"Kalau begitu, kalian berdua tinggal di sini saja. Kandungan Aresha juga kan masih muda, jadi pasti dia sangat rentan. Ini lagi kembar," ujar Sam memberikan ide.

__ADS_1


"Bener apa yang Papi kalian bilang nak.. Kalian berdua tinggal saja dulu sementara di sini. Jika Amir bekerja, kan ada Mami juga Papi yang menemani Aresha.." ucap Silva kepada Aresha.


"Em..." Aresha melirik Amir. Terlihat Amir menggeleng.


"Sepertinya tidak perlu Pi, Mi. Rere bisa jaga diri kok," ucap Aresha.


"Loh loh.. Kok gitu nak? Kalau ada apa-apa sama kamu dan cucu Papi nanti gimana?" Sam menoleh ke arah Amir.


"Apa Amir menolak untuk tinggal sementara di sini?"


"Tidak Pi. Jika Rere mau.. Baiklah, kami akan tinggal sementara di sini, hingga kandungan Rere berusia 8 bulan." ujar Amir.


"8 bulan? Enggak! Hingga Rere melahirkan kalian harus tinggal di sini," ujar Silva mendukung suaminya.


"Tapi Mi-" Aresha ingin berbicara, tapi Sam dengan cepat menyelanya.


"Tidak ada tapi tapi.. Kamu harus menurut dengan ucapan orang tua nak, ini demi kebaikan mu juga," Sam berbicara lembut.


Amir dan juga Aresha hanya bisa pasrah. Orang tua ini memang sangat keras kepala dan harus di iyakan.



**Masih pagi Mas.. Ngapa dah main buka-bukaan ?? 😭😭


∆∆∆∆∆∆∆∆


Happy Reading..


See you next part bye bye..


Jangan lupa untuk meninggalkan jejak dan dukungannya 😘 terimakasih ❤**

__ADS_1


__ADS_2