Hasrat Sepupu (Pengkhianatan)

Hasrat Sepupu (Pengkhianatan)
Habis gelap terbitlah terang


__ADS_3

Setelah Nindi mengatakan itu, Excel langsung bangkit dari duduknya dan menaiki anak tangga dengan setengah berlari.


"Ex.." Nindi memanggil Excel lirih. Air matanya menetes kembali. "Sudah ku duga, Excel pasti tidak mau dekat lagi dengan ku. Hiks..." Anindira bangkit dari duduknya, dan berjalan menuju pintu utama.


Namun baru juga sampai di ambang pintu, Excel sudah turun lagi dari lantai atas dan memanggil Nindi.


"Nindi tunggu!!" Excel sedikit berteriak.


Nindi menghentikan langkahnya dan dia menoleh ke belakang, sambil menghapus air mata yang jatuh di pipinya.


"Ex.." gumam Nindi.


Excel menghampiri Nindi dengan nafas yang sedikit tersengal.


"Mau kemana?" Excel bertanya dengan nada santai, sembari mengatur deru nafasnya


"Aku.. Aku mau pulang," ucap Nindi pelan sekaligus malu, karena Excel sudah mengetahui sisi kelamnya yang sangat buruk.


"Pulang? kenapa tanpa minta izin kepadaku terlebih dahulu?" tanya Excel dengan menatap Excel.


"Bukankah kamu marah padaku? Lalu kenapa aku harus minta izin?"


Excel tertawa. "Siapa yang marah? Aku?" ujar Excel sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Kamu salah paham Nindi.." tawa Excel reda. Dia mengulurkan tangan dan menyentuh pipi Nindi.


"Semua orang punya masa lalu, gelap atau pun terang. Aku melihat ketulusan dari matamu, kamu ingin berubah menjadi lebih baik lagi. Kamu mau mengakui kesalahanmu, dan tidak lagi memaksakan kehendak, juga menghalalkan segala cara supaya mendapatkan apa yang kamu inginkan. Menurutku, itu semua sudah lebih baik Nindi." Excel menurunkan tangannya.


"Lalu, kamu tidak akan menjauhiku kan?" ujar Anindira.


"Untuk apa aku menjauhi mu? Aku akan menjadi penerang untukmu kedepannya."Excel melemparkan sebuah senyuman kepada Nindi. "Seperti kata pepatah, habis gelap terbitlah terang. Masa lalu yang kelam harus di tinggalkan, mari kita bina masa depan bersama, yang lebih terang dan lebih baik.."


"Ex.. Makin ke sini aku semakin tidak mengerti dengan ucapan mu. Masa depan bersama?" ujar Nindi bingung.


"Aku sudah memutuskan untuk menjadikan mu sebagai ibu sambung bagi Zaky. Apa kamu bersedia, Nindi??" Excel berbicara dengan nada serius, sambil merogoh kantong kemejanya kemudian membuka kotak cincin yang dia ambil dari kamarnya tadi. Excel sudah bertekad untuk menikahi Nindi, dia tidak peduli dengan masa lalu Nindi yang memang di sebut seorang kriminal. Yang terpenting bagi Excel adalah, Nindi sudah mau memperbaiki diri agar menjadi lebih baik.


Nindi terkejut dan membekap mulutnya sendiri.


"Ex.. Berarti tadi??" Nindi menunjuk arah lantai atas, kemudian menunjuk kotak cincin yang berada di tangan Excel.


"Ya.. Aku mengambil kotak cincin ini dari kamar. Maaf aku terburu-buru, hingga tidak berbicara pada mu terlebih dahulu, dan membuat mu salah paham," Excel tersenyum.


Nindi melepas bekapan di mulutnya, dia tersenyum bahagia.


"Kamu yakin mau menerima aku?"


"Tentu, kenapa tidak?"


"Kamu tahu kan Ex.. Aku bukanlah seorang wanita yang baik dulunya. Aku takut, kamu akan menyesal jika menikahi ku nanti. Aku tidak akan bisa memberikan keturunan untuk mu Ex.." Nindi menatap mata Excel dengan sendu.


"Kamu tau, aku tidak peduli akan hal itu. Bagiku anak bukanlah perkara besar, toh sudah ada Zaky kan? Kita nanti juga akan konsultasi dengan dokter, bagaimana caranya agar kamu bisa hamil. Masa lalu, sudah aku katakan tadi, jika kamu memang benar ingin berubah menjadi lebih baik, jangan pernah ingat masa kelam itu lagi. Lihatlah ke depan, aku akan menjadi pembimbing mu agar kamu menjadi baik dan terbaik.." Excel tersenyum manis.


Nindi terdiam. Dia harus menerima Excel, sebab Excel sangat mencintainya. Nindi berpikir, lebih baik di cintai, dari pada mencintai.


"Baiklah, aku akan menjadi Ibu untuk Zaky. Aku juga sudah menyayangi dia seperti anak kandungku sendiri.." ucap Nindi diiringi senyum bahagia.


"Kalau begitu.." Excel menarik tangan sebelah kanan Nindi. "Kita akan membicarakan masalah pernikahan kepada seluruh keluarga," Excel menyematkan cincin bermata berlian di jari manis Nindi.


Nindi menganggukkan kepala. Mereka pun akhirnya berpelukan.


"Aku sangat bahagia Ex.." ucap Nindi di tengah-tengah pelukan mereka.

__ADS_1


Excel hanya mengangguk dan mengelus lembut rambut Nindi.


'Aku juga bahagia Nin.. Akhirnya, aku menemukan seorang wanita yang cocok untuk menjadi istri sekaligus ibu untuk putra ku. Semoga kamu lah jodoh terakhir ku. Aku tidak akan menyia-nyiakan mu,' batin Excel berjanji.






Di desa Bangko permata.


Rendy beserta Om dan Tantenya sudah sampai di kediaman Abi Abdullah. Mobil Rendy di berhenti tepat di halaman depan rumah milik Abi Abdullah. Rendy, Om dan Tantenya turun dari mobil menuju teras rumah.


Tok


Tok


Tok


Rendy mengetuk pintu.


"Assalamualaikum,," Rendy berteriak dari luar mengucapkan salam.


Karena salam belum di jawab, dan pintu belum di buka, Rendy kembali mengetuk pintu.


Tok


Tok


Tok


"Waalaikumsalam,," sahut seseorang dari dalam.


Ceklek


Pintu di buka.


"Eh.. Nak Rendy.. Tumben kemari? Apa ada tugas lagi??" tanya Umi Salma heran.


"Tidak Umi. Saya beserta Om dan juga Tante, datang kemari karena ada hal penting yang ingin kami sampaikan," ujar Rendy.


"Oh ya? Ayo masuk," Umi mempersilahkan mereka semua masuk.


Setelah berada di dalam rumah, mereka semua duduk di kursi rotan ruang tamu.


"Tunggu sebentar ya, Umi panggilkan Abi dulu," Umi berbicara diselingi senyum ramah.


Rendy menganggukkan kepala.


Tak lama kemudian, Abi datang menghampiri Rendy beserta Om dan Tantenya.


"Apa kabar nak Rendy?" tanya Abi kepada Rendy.


"Alhamdulillah baik, Abi.." sahut Rendy.


"Alhamdulillah.." ujar Abi Abdullah.


Umi datang dari dapur membawa empat gelas teh, dua kaleng roti dan juga satu kaleng kerupuk.

__ADS_1


"Silahkan di minum nak Rendy, Bapak, dan Ibu. Maaf hanya ini yang bisa saya suguhkan, saya tidak tahu jika hari ini akan kedatangan tamu," ucap Umi tidak enak.


"Tidak papa Mbak. Ini sudah lebih dari cukup," ujar Tante Rendy dengan senyum ramah.


"Oh ya, Abi, Umi, perkenalkan.. Ini Om dan Tante saya," para orang tua itu saling mengatupkan tangan di depan dada di selingi senyum. Mereka tidak berjabat tangan, sebab Abi dan Umi tidak mau, karena bukan mukhrim.


"Oh ya, apa nak Rendy kemari ingin meninjau perkembangan puskesmas?" Abi bertanya kepada Rendy.


Rendy melirik sekilas Om juga Tantenya.


"Begini Pak.. Kami sebagai wakil dari kedua orang tua Rendy yang sudah tiada, datang kemari bermaksud meminang putri Bapak, agar menjadi istri Rendy, keponakan kami.." ujar Om Rendy yang bernama Bayu.


"Putri? Maksudnya Salma?" Umi bertanya karena terkejut.


"Benar sekali, Bu." sahut Bayu.


"Kami sebagai orang tua tidak bisa memutuskan tanpa persetujuan dari Salma.." Abi menoleh ke arah Umi. "Umi, panggil Salma, dan ajak kemari,"


Umi mengangguk, dan dia berjalan menuju kamar Salma.


Tak lama kemudian, Salma dan Umi berjalan kembali ke ruang tamu.


"Maaf Abi, Abi memanggil Salma?" ujar Salma sopan saat sudah berada di ruang tamu.


"Ini tamu kita nak, mereka ingin bertemu dengan kamu. Ada hal penting yang ingin di bicarakan.. Itu Om, Tante, dan yang itu, kamu pasti sudah mengenalnya," Abi berbicara sambil tersenyum ramah, dan menunjuk sopan.


"Assalamualaikum Om," Salma mengatupkan kedua tangannya di depan dada.


"Waalaikumsalam," sahut Bayu.


"Assalamualaikum Tante," Salma mencium punggung tangan istri Bayu. Istri Bayu sangat terharu, ternyata Salma benar-benar gadis yang sangat sopan.


"Waalaikumsalam," ucap Tante Rendy dengan senyum manis. "Kamu sopan sekali ya nak,"


Salma hanya tersenyum saja.


"Hai Mas Rendy, apa kabar?" tanya Salma kepada Rendy.


"Alhamdulillah baik," sahut Rendy dengan senyum manisnya.


..


Tunggu kelanjutannya nanti malam ❤



Babang Rendy yang Uwuw... Mata Mommy ternodai.🙈



**Neng Salma yang Sholeha ❤


....


Happy Reading guys..


See you next part..


Jangan lupa berikan dukungan dan tinggalkan jejaknya..


**LIKE, VOTE, KOMEN, HADIAH, KOMENTAR, JUGA FAVORIT NYA, Agar tidak ketinggalan update terbaru dari cerita ini 😘 terimakasih 🤗

__ADS_1


__ADS_2