Hasrat Sepupu (Pengkhianatan)

Hasrat Sepupu (Pengkhianatan)
Doa yang terkabul


__ADS_3

Dua minggu kemudian.


Amir selalu saja membawa kedua putranya ke ruangan Aresha. Dokter menyarankan agar Amir selalu membisikkan kata-kata penyemangat untuk Aresha, juga dengan membawa bayi mereka agar menemui Aresha.


Amir saat ini duduk di kursi samping ranjang Aresha, dengan menggendong salah satu putranya.


"Sayang.. Lihatlah, aku datang lagi bersama dengan anak kita. Kamu bangun ya?" ujar Amir lirih.


Sementara Silva, dia menggendong putra Aresha yang satunya. Silva menangis minat keadaan Aresha yang terbaring lemah di ranjang pasien.


"Oek.. Oek.." bayi yang berada di dalam gendongan Amir menangis, begituan dengan yang berada di dalam gendongan Silva.


"Amir.. Kenapa kedua putra kamu menangis?" Silva mencoba menenangkan bayi yang berada di dalam gendongan.


"Sayang.. Jangan nangis ya sayang.. Kita lihat Mama kamu dulu.." ujar Silva sambil menepuk pelan tangan si bayi.


Kedua bayi Amir dan Aresha pun semakin menangis kencang.


Silva bingung, begitupun dengan Amir.


"Mir.. Sepertinya kita harus bawa kedua bayi kamu keluar.. Biar mereka berdua tenang dulu." saran dari Silva.


Amir mengangguk, dan dengan berat hati dia bangkit dari duduknya. Namun baru juga ingin berbalik pergi..


"M-mas.." suara lirih keluar dari bibir Aresha.


Amir dengan cepat berbalik menatap Aresha lagi.


Terlihat jari Aresha yang bergerak perlahan.


"Sayang.." Amir berbinar.

__ADS_1


"Mi.. Mami.. Aresha Mi.." Amir menoleh dan memanggil Silva.


Silva yang terkejut langsung berlari kecil ke arah Amir, karena Silva tadi sudah berada di ambang pintu keluar.


"Ada apa??" tanya Silva khawatir.


"Mi.. Lihat, jari Aresha bergerak. Aresha sadar Mi, Aresha sudah bangun.." ucap Amir riang.


Silva menatap jari Aresha, senyuman terbit dibibir nya. Dia segera berlari ke arah pintu keluar.


"Dok.. Dokter!!" teriak Silva dari luar ruangan.


Dokter yang memang ruangannya tidak jauh dari ruang rawat Aresha, langsung berlari menghampiri Silva.


"Ada apa Nyonya?" tanya Dokter itu.


"Putri saya Dok, putri saya sudah sadar.." ucap Silva terbata sambil menangis bahagia.


"Maaf Tuan! Saya akan memeriksa keadaan pasien terlebih dahulu," Dokter mendekat ke arah ranjang Aresha.


Amir mundur agar memberi Dokter ruang untuk memeriksa Aresha.


Setelah Dokter selesai memeriksa.


"Dokter, bagaimana keadaan istri saya?" Amir bertanya dengan tidak sabaran.


Dokter tersenyum lega.


"Syukurlah, pasien sudah melewati masa kritisnya, kita tinggal menunggu beberapa jam saja untuk menunggu pasien sadar sepenuhnya.."


Amir, Silva, Karin yang berada di dalam ruangan tersenyum lega.

__ADS_1


"Alhamdulillah.." ujar mereka bersamaan.


"Saya minta jangan menganggu pasien terlebih dahulu, agar pasien cepat sadar.." ujar Dokter itu. "Saya permisi!" sang Dokter pergi dari ruangan Aresha.


Kedua bayi Aresha pun diam dan tenang. Mereka seperti memberi sinyal kepada Amir tentang keadaan sang Mama.


"Sayang.. Lihat, Mama sebentar lagi sadar. Kalian akan di gendong Mama nanti," Amir mengecup lembut kening putra yang berada di dalam gendongannya, tak lupa dia juga mengecup kening putra satunya lagi yang saat ini sudah berada di dalam gendongan Karin.


"Akhirnya doa kita selama ini di dengar yang maha kuasa nak.." ujar Karin bahagia.


Amir tersenyum melihat kedua putranya, lalu bergantian menatap Aresha yang berada di atas ranjang pasien.


'Aku sangat merindukan mu Aresha. Tawamu, canda mu, kemarahan mu. Hidup ku sangat sepi tanpa semua itu, dan saat ini kamu akan segera sadar. Aku sangat bahagia dan bersyukur..' batin Amir.



.•



**TBC .


*****


HAPPY READING..


SEE YOU NEXT PART BYEEE


JANGAN LUPA UNTUK MEMBERIKAN DUKUNGAN SERTA KOMENTAR DAN JEJAKNYA 🤗.


TERIMAKASIH 🙏🏻❤**

__ADS_1


__ADS_2