Hasrat Sepupu (Pengkhianatan)

Hasrat Sepupu (Pengkhianatan)
Bayangan..


__ADS_3

Aminah melangkahkan kaki ingin masuk ke dalam rumah dengan membawa barang yang Amir belikan. Namun, belum juga masuk, Romlah sudah berdiri di ambang pintu dengan berkacak pinggang.


"Dari mana kamu? Tumben malam-malam keluyuran!" Romlah menatap Aminah sinis


"Maaf, Mbak! Minah baru aja pulang dari jalan-jalan dengan Mas Amir."


Romlah tersenyum miring, lalu dia menatap beberapa paper bag yang berada di kedua tangan Minah.


"Hem.. Matre juga kamu ya?"


Aminah yang mengerti bahwa Romlah mengejeknya, langsung memperhatikan paper bag yang dia bawa.


"Ini Mas Amir yang membelikan. Dia memaksa, jadi Minah tidak enak mau menolaknya,"


"Oh ya? kalau begitu..." Romlah dengan cepat mengambil dua paper bag yang berada di tangan Minah.


"Aku ambil dua. Ini juga gratiskan? jadi kamu tidak perlu merasa rugi!" Romlah tersenyum senang dan mengangkat dua paper bag yang berada di tangannya.


Terdengar hembusan nafas dari mulut Minah. "Ya sudah.. Mbak ambil saja itu,"


Romlah menurunkan tangannya, dan dia menatap datar ke arah Minah.


"Bagi duit!" Romlah mengulurkan tangan sebelah kanannya.


Aminah melongo mendengar apa yang Romlah ucapkan. "Duit? Mbak, Minah kan sudah memberikan apa yang Mbak minta. Dan sekarang Mbak minta duit lagi? Minah gak punya!"


Mata Romlah melotot, dia tidak suka dengan jawaban dari Minah. "Eh, eh.. Udah berani melawan kamu ya? Dasar anak pungut gak tau balas budi!" Romlah membalikkan badannya. Namun belum juga sepenuhnya berbalik, Minah sudah mencekal lengan Romlah.


"Minah akan beri Mbak uang!" Aminah merogoh tas jinjingnya, dan dia mengambil dua lembar kertas berwarna merah.


"Dua ratus ribu. Cukup kan?" Minah menyodorkan uang itu kehadapan Romlah.


Romlah langsung mengambil uang yang Minah beri. "Cukup!! Gitu dong, harus diingetin dulu baru tau memberi."


Tanpa mengucapkan terimakasih, Romlah langsung pergi masuk ke dalam meninggalkan Aminah yang terpaku di depan pintu.


"Astaga... Sabar kan aku, Tuhan..." gumam Minah pelan. Kemudian dia masuk ke dalam rumah.


β€’


β€’


β€’


Di tempat lain.

__ADS_1


Tok tok tok..


Anindira sedang tidur, sebab jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Nindi membuka matanya perlahan.


"Siapa sih, malam-malam begini mengetuk pintu?" gumam Nindi lemah, sebab dia baru terbangun dari tidurnya.


Nindi terduduk, dan dia menatap jam.


"Pukul 11 malam, dan ada yang mengetuk pintu? Aneh! Apa kak Leon pulang tanpa memberi kabar pada ku ya?" Nindi turun dari ranjang.


Dia berjalan membuka pintu kamar, dan berjalan menuruni anak tangga. Pintu masih terdengar di ketuk dari luar.


"Iya sebentar!!!!" teriak Nindi dari dalam.


Setelah sampai di lantai bawah, Nindi menghidupkan saklar lampu. Lalu dia menuju pintu, dan membukanya.


"Kak Le...." ucapan Nindi terpotong, sebab tidak ada siapa pun di luar. Suasana yang gelap gulita, hanya penerangan dari lampu jalan saja yang ada, membuat suasana seperti mencekam.


"Kosong? Berarti bukan kak Leon! Apa jangan-jangan hanya orang iseng?" Nindi jadi heran sendiri. Dia menutup pintu kembali, dan melangkahkan kaki ingin masuk ke kamar.


Namun baru beberapa langkah, terdengar bunyi ketukan pintu lagi.


Tok tok tok..


"Sial! siapa sih malam-malam gini iseng segala? Ganggu aja deh!" Nindi terlihat kesal dan dia kembali membuka pintu.


Terdengar hembusan nafas kasar dari mulut Nindi. Lalu dia menutup pintu lagi. Baru saja di tutup, pintu sudah terdengar di ketuk kembali untuk ketiga kalinya.


"Bajingan! Minta diberi pelajaran nih orang ya!" Nindi membuka pintu, dan dia ingin membuka mulut bersiap untuk memarahi seseorang yang dia kira iseng itu.


Namun bukannya memarahi, Nindi malah hanya melongo dan tidak bisa berkata-kata.


"A.. A... Alya!!!" gumam Nindi ketakutan. Buru-buru dia menutup pintu, dengan nafas yang terdengar ngos-ngosan.


"Alya! Tidak mungkin, tidak.. Ini pasti hanya halusinasi ku saja." Nindi menepuk-nepuk kedua pipinya sendiri. Sakit! itulah yang Nindi rasakan saat ini.


"Itu artinya... Tadi tidak mimpi, dan.. Alya, Alya mendatangi ku..." Nindi gugup dan bingung sendiri.


Nindi bergegas kembali ingin menuju kamarnya. Namun baru saja sampai di tangga pertama, lampu ruang tamu terlihat berkedip-kedip sendiri.


"Kok lampunya kedip-kedip begini? Apa bola lampunya mau putus ya?"Nindi terus saja memperhatikan lampu. Namun hanya sejenak, setelah itu dia kembali menghadap ke depan, ingin naik ke atas. Akan tetapi, saat Nindi menoleh ke depan, di hadapannya sudah ada seseorang yang sudah dia bunuh.


"A..........." Nindi berteriak ketakutan, dia memundurkan langkahnya dengan tubuh gemetar, sambil memandang wanita yang sangat dia kenal itu melayang maju mengikutinya.


"Nindi......" suara yang nyaring dan menyeramkan terdengar mengerikan di gendang telinga milik Nindi.

__ADS_1


"K... Kamu bukan Alya! Alya sudah mati! Pergi kamu, PERGI....." Nindi berteriak kencang, dan lampu masih terus berkedip.


"Aku ingin kamu menderita.. Kamu adalah wanita jahat, Anindira.." suara gentayangan itu membuat bulu kuduk Nindi berdiri.


"PERGI.. PERGI!!!!!JANGAN MENGANGGU KU.. KAMU SUDAH MATI.... PERGI......." Nindi terus berteriak dan memejamkan matanya.


Suasana hening, dan lampu pun menyala kembali seperti semula. Nafas Nindi tersengal-sengal.


"Astaga.. Ada apa dengan ku? Tidak mungkin itu Alya!" Nindi mengedarkan pandangan, dan setelah di rasa aman, dia kembali naik ke arah kamarnya.


Sesudah masuk ke kamar, Nindi langsung naik ke atas ranjang, dia menarik selimut dan kembali menutup matanya. Baru juga beberapa detik menutup mata, selimut yang Nindi pakai tiba-tiba turun sendiri ke lantai.


"Hah..." Nindi membuka matanya kembali, dan dia melihat selimut yang sudah hilang dari tubuhnya.


"****!" Nindi berdecak kesal. Dia menundukkan tubuh dan ingin mengambil selimut, namun apa yang dia lihat? wajah menyeramkan milik Alya, dan juga darah yang mengalir di sekujur tubuh Alya.


"Akh....." teriak Nindi, dan dia tergesa-gesa turun dari ranjang. Nindi berlari ke arah pintu. Dia mencoba membuka pintu, tapi nihil. Pintu terkunci dengan sendirinya.


"Terkunci! Kok bisa?" Nindi terus menggoyahkan handel pintu. Namun pintu tetap tidak bisa dibuka.


Lalu, Nindi menoleh ke belakang, karena merasa ada yang memegang pundaknya. Bola mata Nindi membulat sempurna.


"A.. Alya!!! Jangan ganggu gue, PERGI LO PERGI!!" Nindi melipir kesamping. Dan dia ingin berbalik kembali ke arah ranjang. Tetapi, entah karena ketakutan atau apa, kaki kanan Nindi tersandung kaki kirinya sendiri, dan kepala Nindi terbentur pinggiran meja lampu.


"Akh..." Nindi memegangi kepalanya yang terasa pusing. Perlahan tapi pasti, bola mata Nindi tertutup. Namun sebelum menutup sempurna, Nindi sempat melihat bayangan Alya menertawakannya bahagia.


Nindi pingsan di lantai, karena kepala yang terbentur ujung meja.


...


Bonus Visual di pagi hari..



**Anindira Maheswari.. πŸ™ˆ


....


Selamat Pagi Semuanya.πŸ€—πŸ€—


Happy weekend para sahabat❀❀


Happy Reading..


Jangan lupa tinggalkan jejak dan dukungannya.😘

__ADS_1


Salam sayang dari Sahabat MA (MomAL) 😍**


__ADS_2