
Lidia menatap Aresha dari atas kepala hingga bawah kaki.
"Mbak Rere ngidam?" tanya Lidia langsung. Karena terlihat badan Aresha mengalami perubahan.
Semua mata tertuju ke arah Lidia.
"Ngidam?" ujar Aresha dan Amir bersamaan.
Lidia mengangguk.
"Mbak Rere hamil kali. Buktinya permintaan Mbak Rere ada-ada saja. Apa aku salah?" Lidia terlihat salah tingkah.
"Kamu kalau bicara yang bener aja dong Li. Tau darimana kamu kalau Aresha ngidam dan hamil?" Leon bertanya kepada Lidia.
"Aku hanya lihat dari perubahan bentuk badannya saja," sahut Lidia santai.
Aresha tertawa.
"Hanya dari bentuk badan? Memang aku juga merasa sepertinya badanku ini agak sedikit berat. Tapi aku tidak mau berharap, karena takut jika aku tidak hamil, dan hanya kecewa saja yang kami dapatkan.."
"Saran saya sih, coba aja Mbak periksa ke dokter. Barangkali beneran hamil, kan alhamdulillah.." saran dari Lidia.
Amir terdiam, lalu dia menatap Leon dan Lidia bergantian. "Kalian berdua ada apa datang ke sini? Ayo cepat katakan,"
"Kenapa Tuan Amir berkata begitu? Tadi Tuan menginginkan kami agar di sini terlebih dahulu, sekarang malah menyuruh mengatakannya, ," Leon merasa tidak terima.
"Maaf Tuan Leonardo Richard. Saya dan istri saya ingin segera ke rumah sakit," ucap Amir.
"Rumah sakit?" Aresha bertanya heran.
Amir mengangguk. "Kita akan ke rumah sakit, untuk memastikan keadaan kamu. Bukan hanya ingin memastikan kamu hamil atau gak nya saja, tapi aku juga khawatir dengan kesehatan kamu. Belakangan ini kamu kan sering mual dan juga lemas.." Amir menjelaskan.
Aresha hanya mengangguk paham.
"Katakan ada keperluan apa kak Leon dan Lidia datang kemari??"
Lidia melirik ke arah Leon sejenak. Terlihat Leon mengangguk pelan.
"Begini Mbak, Mas. Kedatangan kami ke sini, ingin mengundang Mas Amir dan Mbak Rere agar datang ke acara resepsi pernikahan kami berdua," ujar Lidia di selingi senyum tipis.
"Pernikahan?" Aresha menatap Lidia.
"Benar, Re. Kami memutuskan untuk menikah, dan acaranya akan di gelar beberapa minggu lagi. Aku harap, kamu dan juga Tuan Amir bisa datang ke acara bahagia kami nanti," Leon tersenyum ke arah Lidia.
Amir hanya melirik Aresha yang terdiam saja.
"Tentu saja kami akan datang. Kami juga pasti akan menyaksikan acara pernikahan kalian. Ya kan Mas?" Aresha menoleh ke arah Amir.
Amir mengangguk saja. Di luar dugaan Amir, Amir kira Aresha akan diam saja dan bersedih jika sang mantan menikah. Akan tetapi, Aresha saat ini juga terlihat bahagia mendengar tentang pernikahan antara Leon dan Lidia. Ternyata Aresha benar-benar sudah melupakan Leon.
"Baiklah.. Kami sudah mengatakan niat yang ingin kami sampaikan. Kalau begitu, Aresha, Tuan Amir, kami pamit pulang," Leon berperasaan karena Amir berkata ingin memeriksakan Aresha ke rumah sakit. Leon ikut bahagia, jika melihat Aresha bahagia dengan rumah tangganya.
"Hati-hati ya.. Jangan lupa kabarin kami tanggal pernikahannya," Aresha berdiri dari duduknya, diikuti oleh Amir, Lidia juga Leon.
"Tentu Mbak. Kami pasti akan mengabari kalian lagi," Lidia tersenyum tipis.
Mereka berjalan bersama-sama keluar rumah.
Sesampainya di teras rumah.
"Dah.... Hati-hati..." Aresha melambaikan tangan saat mobil Leon sudah melaju.
Lidia membalas lambaian tangan Aresha.
__ADS_1
Setelah melihat tamunya sudah pergi. Amir langsung mendekat ke arah sang istri.
"Sayang.." Amir memeluk tubuh Aresha dari samping, agar merapat ke tubuhnya.
"Hm???" Aresha berdehem lembut menjawab panggilan dari Amir.
"Ayo kita ke rumah sakit,"
Aresha mengangguk. Mereka berdua masuk ke dalam rumah guna bersiap-siap pergi.
•
•
•
•
Rumah sakit.
Selesai bersiap, Amir dan Aresha langsung pergi menuju rumah sakit. Sekarang, disini lah mereka berdua berada. Rumah sakit XXXX.
Amir dan Aresha berjalan menuju ruangan dokter umum.
Tok
Tok
Tok
"Permisi,," ucap Amir mengetuk pintu ruangan dokter umum.
"Masuk," Amir dan Aresha masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Benar sekali Dok.."
Dokter itu sudah tahu, sebab sebelum pergi ke rumah sakit, Amir dan Aresha menelepon dahulu agar tidak menunggu antrian.
"Ada keluhan apa Nyonya Aresha??" Dokter langsung bertanya ke intinya.
"Begini Dok. Belakangan ini, saya itu sering mual. Biasanya juga tidak seperti itu," sahut Aresha.
"Apa mual itu terjadi setiap saat?"
"Tidak Dok. Mual nya paling setiap sehabis makan,"
"Selain mual, apa ada keluhan lain seperti lemas, pusing atau yang lainnya?"
"Saya juga mengalami itu Dokter.." ujar Aresha.
"Apa Nyonya bulan ini sudah menstruasi?" Dokter sudah bisa menebak apa yang terjadi kepada Aresha.
Aresha terdiam seperti sedang mengingat-ingat.
"Saya lupa Dok," Aresha nyengir kuda.
"Saya sudah mendengarkan semua keluhan Nyonya. Saya menyimpulkan bahwa Nyonya Aresha saat ini sedang hamil. Tapi, jika ingin lebih pasti, Nyonya dan Tuan bisa mendatangi Dokter Obgyn." ujar Dokter itu kepada Aresha dan Amir.
"Apa Dokter Obgyn nya ada?" Amir langsung angkat bicara saat istrinya dinyatakan hamil.
"Tentu. Ruangannya tidak jauh dari ruangan saya," ucap sang Dokter.
"Baiklah, kalau begitu kami permisi." Amir dan Aresha bangkit dari duduknya saat sang Dokter sudah menganggukkan kepala.
__ADS_1
Mereka berdua keluar dari ruangan Dokter umum itu.
"Sayang.. Ayo kita periksa ke dokter kandungan," Amir menggenggam kedua tangan Aresha.
Aresha hanya mengangguk pasrah.
Sesampainya di depan ruangan dokter kandungan bernama DOKTER LIZA, Amir langsung mengetuk pintu.
"Masuk!" teriak seorang wanita dari dalam.
Ceklek
Amir dan Aresha langsung masuk.
"Permisi Dok.." ujar Aresha, mereka berdua berjalan menuju meja kebesaran sang Dokter.
"Silahkan duduk," ucap Dokter muda nan cantik itu.
Aresha dan Amir mendudukkan diri di kursi yang bersebrangan dengan sang Dokter.
"Ada yang bisa saya bantu?" ujar Dokter itu menatap Amir dan Aresha bergantian.
"Begini Dok. Saya ingin memeriksakan keadaan istri saya. Dia sering mengalami mual setiap selesai makan Dok," ucap Amir mengatakan keluhan Aresha tadi.
"Apa Nyonya merasa telat datang bulan?"
Aresha mengangguk pelan.
"Baiklah. Ayo kita periksa," Dokter berdiri dari duduknya, dan berjalan ke arah ranjang pasien.
Aresha dan juga Amir mengikuti Dokter itu.
"Silahkan berbaring Nyonya," ujar Dokter Liza.
Aresha berbaring.
Dokter mulai menyalakan layar monitor, dan mengambil sebuah benda kecil kemudian di letakkan di perut Aresha. Dokter menjalankan alat yang dia pegang di atas perut milik Aresha.
Dokter itu pun tersenyum. Lalu menghentikan aktivitasnya.
"Selamat ya Tuan, Nyonya.. Kalian berdua akan segera menjadi seorang Papa dan Mama," ucap sang Dokter masih dengan senyum di bibirnya.
"Maksud Dokter, saya hamil?" Aresha bertanya penasaran.
"Benar Nyonya.." Dokter itu kembali mengambil alat yang tadi dia pegang.
"Lihat ini." Dokter menunjuk ke arah layar monitor. "Ini adalah janin Nyonya Aresha yang usianya masih sangat muda, yaitu 3 Minggu. Karena itu, Nyonya Aresha mengalami kehamilan pada trimester pertama. Mual, pusing, dan lemas itu sudah biasa di rasakan oleh ibu yang masih hamil muda."
**Yeay Neng Rere hamil 😍😍.
∆
∆
∆
Happy Reading guys..
See you next part bye bye..
Jangan lupa untuk meninggalkan jejak dan dukungannya❤❤
__ADS_1
terimakasih 😘**