
Dua minggu kemudian.
Di kediaman Aresha dan juga Amir. Aresha setiap hari terus mengalami mual, saat ini dia tengah terbaring lemas di atas ranjang.
"Mas...." Aresha berteriak dari dalam kamar memanggil nama Amir.
"Iya sebentar!!!" teriak Amir dari luar kamar.
Ceklek
Pintu kamar terbuka.
"Sayang.. Maaf ya aku lama buatin nya," Amir memberikan gelas berisi jus Alpukat yang tadi dia buat.
"Aku tidak mau!" ucap Aresha merajuk.
Amir mengerutkan dahi, dia duduk di pinggir ranjang dan meletakkan gelas di meja lampu.
"Sayang, kamu kenapa?" Amir mengecek suhu badan Aresha menggunakan telapak tangannya.
"Ih... Mas!!! Apa-apaan sih??? Aku bukan anak kecil,," rengek Aresha kesal.
Amir semakin heran dengan kelakuan Aresha belakangan ini.
"Sayang, tadi kamu bilang kamu pengen minum Jus Alpukat. Aku sudah membuatkannya untukmu," Amir menunjukkan Jus buatannya.
"Aku sudah tidak berselera untuk meminumnya," ujar Aresha santai.
"Apa!" Amir reflek berteriak.
Aresha menutup telinganya sendiri.
"Mas.. Apa kamu ingin membuat gendang telingaku pecah??" Aresha cemberut.
"Habis kamu sih yank.. Yang bener aja, aku udah buru-buru buatin kamu jus, dan kamu bilang gak selera minumnya?" Amir meremas sendiri rambutnya. "Sayang kamu tau gak? Itu tuh Alpukat, aku belinya jauh loh dari komplek perumahan kita ini.. Kamu tega banget sama aku," Amir menunduk pasrah.
"Hiks.. Hiks.." terdengar isak tangis yang keluar dari mulut Aresha.
Amir mendongak dan menatap istrinya itu. Sangat cepat sekali berubah.
'Tadi dia seperti singa, dan sekarang dia berubah menjadi marmut.. Ada apa dengan istri ku?' batin Amir bingung sendiri. Sudah genap satu bulan ini Aresha sifatnya berubah-ubah. Terkadang dia galak, kadang lembut, manja, dan cengeng.
__ADS_1
"Sayang.. Aresha kamu kenapa?" Amir berbicara lembut sambil menggenggam kedua tangan Aresha.
"Kamu jahat Mas.." Aresha masih sesegukan.
"Jahat? Why? Apa salahku?"
"Kamu memarahiku," Aresha melepaskan tangan sebelah kanannya dari genggaman Amir, untuk menghapus air matanya.
"Marah? Aku tidak memarahi mu," Amir menggeleng.
"Tadi itu.." ucap Aresha, dan sekarang dia tidak menangis lagi.
"Kapan?" Amir masih menatap wajah cantik Aresha.
"Akh.. Gak tau deh! Mas Amir pikun. Aku mau tidur dulu," Aresha menarik sebelah tangannya yang masih berada di genggaman Amir. Setelah itu, dia merebahkan diri dan menutupi badannya menggunakan selimut.
"Astaga..." Amir gemas melihat tingkah Aresha .
Amir bangkit dari duduknya. Dia membiarkan Aresha sendirian, agar Aresha tenang dan tidak marah lagi dengannya.
"Kamu mau kemana Mas?" Aresha mendengar suara kaki Amir yang ingin melangkah pergi.
"Mau keluar. Kamu kan marah sama aku, biasanya jika kamu marah, aku pasti membiarkan mu sendirian.." ucap Amir terus terang.
"Kamu tidak ada niatan untuk membujukku? Hua..." Aresha menangis lagi. Saat ini, tangisannya malah seperti anak kecil yang tidak di belikan permen oleh Ayahnya.
"Loh loh.." Amir segera menghampiri Aresha.
"Kok nangis lagi?" Amir kembali mendudukkan diri di pinggiran ranjang.
"Kamu udah gak sayang lagi sama aku. Apa karena aku sekarang udah jelek? Makin gemuk? Cerewet?'' Aresha berbicara sambil menangis.
"Aku tidak berpikiran seperti itu.." Amir menggelengkan kepalanya.
"Tapi Mas.." tangisan Aresha reda. "Aku kayaknya emang gemuk'an deh.. Kamu ngerasa gitu juga gak sih ngeliatnya?'"
Amir menatap tubuh Aresha.
"Ya.. Sepertinya memang benar,"
"Hah!! Tuh kan.. Kamu mengakui ke-gemuk-kan ku.." Aresha kembali menangis seperti anak kecil.
__ADS_1
"Eh eh.. Sayang.. Dengarkan aku, dengar ya... Meskipun kamu bilang kamu itu gak cantik lagi, gemuk, terus cerewet, aku gak peduli. Yang terpenting, dimata ku, dimata seorang Amir Arsalaan, kamu itu tetap Aresha ku yang dulu. Cantik, baik, lembut, dan seksi.." Amir berbicara lembut, sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Aresha.
Aresha menjadi tersipu, tangisannya lagi-lagi reda.
"Emm.. Mas Amir bisa aja deh.." Aresha tersenyum manis.
"Mas.. Aku bisa minta tolong gak?" Aresha mengedipkan matanya beberapa kali, dan itu membuat Amir ingin sekali menciumnya karena Aresha terlihat sangat imut jika seperti itu .
"Katakan. Kamu pasti menginginkan sesuatu bukan?" Amir menaik turunkan alisnya.
"Benar sekali," Aresha tertawa pelan.
"Baiklah.. Katakan!"
"Aku ingin makan bubur ayam dekat gang masuk di ujung komplek. Ini kan masih jam 8 pagi tuh, pasti masih ada bubur ayamnya. Aku pengen banget Mas.. Beliin ya, please..."Aresha memohon dengan gaya imutnya.
"Kamu tidak perlu memasang wajah seperti itu sayang.." Amir menarik gemas hidung Aresha. "Aku akan membelinya," Amir bangkit dari duduk, dia berjalan menuju pintu kamar.
Aresha tersenyum, dia kemudian berteriak. "Mas!!! INGAT.. HARUS BUBUR AYAM YANG ADA DI DEKAT GANG YA!!!"
"IYA!!!!" Amir membalas dengan teriakan dari luar kamar.
Di luar, Amir menggeleng dan tersenyum sendiri mengingat betapa lucunya kelakuan Aresha belakangan ini.
Dia mengeluarkan sepeda sportnya guna dinaiki untuk membeli bubur.
...
**Si Marmut yang imut ❤❤.
..
Halo selamat pagi..
selamat menjelang weekend..
Jangan lupa tinggalkan jejak dan dukungannya, agar Mommy yang cetar seperti petir ini semangat untuk up 😘.
terimakasih ❤❤**
__ADS_1