
Di dalam rumah, Salma menangis sendiri di kamar nya. Ia masih sedih dan cemburu melihat kedekatan Amir dan Aminah.
"Hiks, hiks.. Aku tidak ingin kehilangan Mas Amir,," Salma menutup wajah nya menggunakan bantal, ia menangis sejadi-jadinya di bawah bantal itu.
Ceklek
Pintu kamar Salma terbuka, kebetulan Salma tidak mengunci kamar nya. Entah sengaja atau pun lupa.
"Salma,,," Umi Salma berjalan menghampiri ranjang Salma.
Salma yang mendengarkan panggilan sang Umi, langsung melemparkan bantal yang tadi ia gunakan untuk menutupi wajah nya.
"Umi,,," Salma memeluk tubuh Umi, yang sudah duduk di pinggir ranjang.
"Hei, kamu kenapa nak? katakan pada Umi!" Umi menangkup wajah Salma dan mengusap pelan air mata Salma yang menetes di pipi.
"Umi, hiks.. Sepertinya, usaha Salma untuk mendekati Mas Amir akan sia-sia dan gagal..." Salma memeluk kembali tubuh Umi nya.
"Gagal? maksud kamu apa, nak? ceritakan pada Umi!" Umi mengelus lembut rambut Salma.
"Umi,, Minah sedang berusaha mendekati Mas Amir. Dan sepertinya, Mas Amir juga tertarik dengan Minah.." ungkap Salma masih tetap menangis
"Kamu tau dari mana, nak??"
__ADS_1
"Salma melihat dengan mata kepala Salma sendiri, Mi! Tadi waktu makan siang, Salma datang ke gudang berniat untuk mengajak Mas Amir makan bersama. Tapi saat sampai di gudang, Mas Amir sudah makan siang bersama dengan Minah... Dan parah nya lagi, mereka berdua makan dengan tempat yang sama Mi,,," Salma terisak di dalam pelukan Umi.
Umi Salma geram dan kesal, ia tidak tega melihat putri nya bersedih dan menangis seperti ini. Umi melepaskan pelukan, dan menatap wajah Salma yang sudah berderai air mata.
"Dengarkan Umi, nak! kamu tenang saja, Umi akan cari cara supaya kamu bisa bersama dengan Amir. Sebelum Aminah berhasil merebut hati Amir!" Umi mengecup lembut kening putri sematawayang nya itu.
"Janji?" Salma mengacungkan jari kelingkingnya
"Janji.."Umi membalas dengan menyatukan jari kelingkingnya dan juga jari kelingking Salma.
Salma tersenyum senang, dan Umi pamit untuk keluar dari kamar. Setelah keluar dari kamar Salma, Umi berjalan menghampiri suami nya.
"Abi,,," panggil Umi lembut, pada Abi Abdullah yang sedang duduk santai, sembari melantunkan surah-surah pendek Al-Qur'an"
"Ada apa, Mi??" tanya Abi saat menatap wajah Umi Salma.
"Bi, Salma menangis di kamar karena Amir!" ujar Umi serius
Abi mengerutkan dahi, ia tidak mengerti dengan apa yang istri nya katakan.
"Maksud kamu apa, Mi? bicaralah yang jelas. Jangan hanya sepotong-sepotong begitu,"
Umi melirik Abi sekilas,
__ADS_1
"Salma tadi datang ke gudang ikan, untuk bertemu Amir dan mengajak Amir makan siang bersama. Tapi sesampainya di gudang, Salma melihat Amir dan Aminah, anak pungut nya Ibu Romlah, makan berdua dan satu piring. Abi tahu kan, kalau Salma sudah lama tertarik dengan Amir? dan dia menangis melihat Amir dan Aminah tadi, Salma bilang, dia tidak ingin kehilangan Amir!" Umi menjelaskan
"Lalu?? kita harus bagaimana, Mi? apa mungkin kita harus membatasi pertemanan nak Amir, tidak kan??"
"Ih, Abi!! gimana sih, Umi punya ide. Gimana, kalau kita jodohkan aja Salma dengan Amir. Kita datang ke rumah orang tua nak Amir, untuk membicarakan perjodohan ini. Soalnya kan, Bi! Kedua orang tua nak Amir sangat ingin nak Amir segera menikah.." Umi memberitahu ide nya, demi sang putri, ia rela melakukan apa pun.
Abi terdiam sejenak, namun kemudian ia menganggukkan kepala.
"Abi setuju, besok kita akan datang ke rumah orang tuanya nak Amir. Lebih cepat lebih baik bukan??"
Umi menganggukkan kepala sembari tersenyum senang..
**Neng Salma 🙈
....
HAPPY READING GUYS...
SAMPAI JUMPA DI PART BESOK, YA...
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK DAN DUKUNGANNYA, TERIMAKASIH 😘😘**
__ADS_1