Hasrat Sepupu (Pengkhianatan)

Hasrat Sepupu (Pengkhianatan)
Pengakuan Jessi,


__ADS_3

Saat Leon ingin melangkahkan kakinya menuju pintu keluar apartemen. Tiba-tiba suara teriakan seseorang dari dalam kamar menghentikan langkahnya..


"Tidak!!!!! Jangan!!!!!!!" teriak Jessi dari dalam kamar.


Leon menoleh dan langsung berlari ke arah kamar.


Ceklek


Pintu kamar Leon buka.


"Jessi!!" ujar Leon berlari ke ranjang. Saat sudah duduk di pinggir ranjang, Jessi masih memejamkan matanya, Leon menatap wajah Jessi yang di penuhi keringat dan juga Jessi selalu bergumam tolong, tidak, jangan.. Entah apa yang sedang wanita itu pikirkan..


Leon mencoba menepuk pelan pipi Jessi.


"Nona! Nona Jessi bangun!!!" Leon memanggil nama Jessi berulang kali.


"Tidak!!!!" Jessi terbangun dari tidur nya, dia langsung terduduk dan memeluk lututnya sendiri seperti orang ketakutan.


"Jangan,,, aku mohon..." Jessi berbicara lirih dengan mengedarkan pandangan nya.


Leon tidak tega melihat Jessi yang tertekan seperti orang depresi begitu.


"Nona,," ujar Leon lembut sambil memegang kedua pundak Jessi.


Jessi membringsutkan tubuhnya ke samping.


Dia menatap wajah tampan Leon..


Leon juga menatap wajah Jessi, guna menenangkan Jessi.


"Nona, ini saya Leon! Nona tidak perlu takut, lihat saya, saya bukan orang jahat.."


Jessi terus menatap Leon dengan mata berembun..

__ADS_1


"Hiks.." tanpa aba-aba, Jessi langsung memeluk tubuh Leon.


Leon diam saja, dia tidak membalas atau pun menghindar. Leon sangat iba kepada Jessi, wanita malang yang bekerja di Indonesia tanpa ada sanak saudara satu pun di Indonesia ini. Jessi pasti bingung ingin meminta tolong kepada siapa.


"Nona!!" seru Leon lembut kepada Jessi


"Hiks..hiks.." Jessi tidak menjawab panggilan Leon, dia hanya tetap menangis di dalam pelukan Leon.


"Nona!" Leon melepaskan pelukan Jessi.


Jessi terisak.


"Nona, apa yang terjadi dengan anda? mengapa wajah anda seperti ini?" tanya Leon pelan, mencoba tidak menyinggung perasaaan Jessi..


"T...Tuan.." Jessi berkata dengan terisak


"Katakan, Nona! apa yang terjadi dengan anda? siapa yang melakukan ini?"


Jessi mengangkat kepala yang tadi tertunduk.


"Dia? apa dia partner anda?"


Jessi menganggukkan kepala..


"Kurang ajar sekali, dia melakukan anda seperti barang yang bisa di jual belikan sesuka hatinya.." Leon terlihat geram


"Sudahlah, Tuan. Biarkan saja, aku tidak ingin memperpanjang masalah dengannya.. Aku hanya ingin membayar uang denda dan pergi dari nya.. Aku takut!!!" Jessi terus memeluk kedua lutut nya sendiri


"Anda tenang saja, saya akan membantu anda lepas dari pria itu. Untuk sementara, anda tinggal dulu di apartemen saya ini.."


Jessi menatap wajah serius dan tulus Leon.


"Benarkah, Tuan? tapi, tapi aku tidak ingin merepotkan mu.."

__ADS_1


"Saya tidak merasa di repot kan. Anda tenang saja, tinggallah di sini, dan jangan memikirkan apa pun. Jika ingin apa-apa, dan anda tidak punya uang, anda bisa katakan pada saya, saya akan membantu anda.."


Jessi menangis terharu akan ucapan yang Leon katakan. Jessi menggenggam kedua tangan Leon dan mencium punggung tangan Leon.


"Terimakasih Tuan, terimakasih atas bantuannya. Aku sangat-sangat terharu, Aku bahagia karena bisa mengenal anda. Terimakasih..." Jessi menangis haru


Leon menarik tangannya pelan hingga terlepas dari genggaman tangan Jessi.


"Tidak perlu berterimakasih, sesama manusia kita memang harus saling menolong jika dalam kesulitan.." Leon tersenyum ke arah Jessi. Jessi pun membalas senyuman Leon dan Jessi menghapus air matanya. Saat ini pikiran Jessi sudah lega.


Leon pun pamit untuk pulang ke rumah..



**Abang Leon πŸ™ˆπŸ™ˆ


...


Happy Reading πŸ€—


See you next part πŸ’ƒπŸΌπŸ’ƒπŸΌ


Jangan lupa berikan dukungan 😘


terimakasih πŸ™πŸ»πŸ€—




Mampir ke karya temen aku yuk guys πŸ€—**


__ADS_1


![](contribute/fiction/4477360/markdown/23506968/1655611227519.jpg)


__ADS_2