
Leon berjalan masuk ke dalam toilet pria, dengan terus menggerutu sebab kesal kepada waiters yang tidak hati-hati itu.
"Bisa-bisanya dia menumpahkan Jus di Jas ku. Sangat susah sekali membersihkannya jika tidak di laundry," Leon berdiri di depan cermin sambil membersihkan Jasnya.
"Ck! Menyebalkan!." Leon memakai kembali
Jas yang dia lepas tadi saat di bersihkan.
Leon keluar dari toilet, dan saat dia ingin berbalik, terlihat dua pria berbadan besar seperti tengah mengapit seseorang. Toilet dalam keadaan sepi, dan lagi dua pria itu berada di pojokan.
Leon yang penasaran pun langsung berjalan menghampiri dua pria itu.
"Hey! Ngapain kalian?" Leon bertanya dengan nada santai.
Dua pria berbadan besar itu membalikkan badan mereka, dan betapa kagetnya Leon saat melihat wanita yang diapit oleh dua pria itu.
"Salma?" gumam Leon pelan, dengan mata menatap tajam ke arah dua pria berbadan besar itu.
"Mas Leon.." pekik Salma dan langsung mendorong dua pria yang tadi mencoba menggodanya, kemudian Salma berlari ke arah Leon.
"Mas.." Salma bersembunyi di belakang tubuh Leon, dengan kedua tangan yang memegangi sebelah tangan Leon.
Leon menoleh ke arah Salma sekilas, terlihat wajah Salma yang sangat ketakutan. Leon kembali menatap dua pria berbadan besar dihadapannya saat itu.
"Apa mau kalian?" tanya Leon santai tanpa takut sedikit pun.
"Lo gak usah ikut campur bro! Gadis cantik itu mangsa kita berdua," salah satu pria itu menunjuk diri mereka sendiri .
"Mangsa?" Leon terkekeh pelan. "Jangan berani-beraninya menyentuh gadis ini, atau gadis manapun. Apa kalian mengerti!" Leon menatap dua pria itu dengan raut wajah marah.
"Hahaha...." terdengar tawa jahat dari kedua pria tersebut.
"Banyak bacot lo!" bogem dadakan di layangkan di wajah Leon. Leon yang belum siap pun terjatuh di lantai.
"Argh..." ucap Leon memegangi bibirnya yang sedikit pecah.
Leon menghapus sedikit darah yang keluar dari sudut bibirnya. "Cih!" Leon meludah dan bangkit dari duduknya.
__ADS_1
Sedangkan Salma, Salma terlihat ketakutan melihat Leon yang akan beradu otot oleh dua pria berbadan besar itu.
'Semoga Mas Leon bisa mengalahkan pria-pria jahat ini..' Batin Salma berdoa.
Leon mulai membalas bogem demi bogeman yang dua pria itu berikan. Hingga akhirnya dua pria itu kalah dan terkapar lemas karena tidak bisa menandingi permainan Leon.
"Apa kalian sudah menyerah? Hm! Hanya segitu saja kemampuan kalian?" Leon berdiri di tengah-tengah lawannya yang sudah terkapar itu.
Dua pria berbadan besar tersebut hanya memegang bagian wajah dan perut mereka yang berkali-kali Leon hantam.
"Sekali lagi saya ingatkan kepada kalian berdua. Jangan menyentuh gadis manapun! APA KALIAN PAHAM!!" Leon membentak kedua pria itu.
"Paham Paham..." dua pria itu hanya mengangguk saja sebab tidak ingin Leon memukul mereka lagi.
Leon melangkahkan kaki menuju Salma.
"Ayo," Leon menarik pelan tangan Salma, agar Salma mengikuti langkahnya.
Salma hanya menurut dan dia sesekali mencuri pandang menatap wajah Leon.
•
•
•
Amir dan Aresha tengah berada di dalam kamar.
"Mas..." Aresha memanggil Amir dengan lembut.
"Hm?" Amir menoleh ke arah istrinya sejenak.
"Apa kita pergi bulan madu menggunakan kado dari Kak Leon saja?"
Amir yang sedang memeriksa laporan dari pertambakan dengan memangku laptop langsung menghentikan aktivitas jarinya di atas laptop itu, Amir menutup laptop dan meletakkannya di samping kemudian menatap wajah Aresha.
"Kamu ingin pergi bulan madu?" Amir bertanya lembut sambil menatap Aresha.
__ADS_1
Aresha menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, katakan kamu mau kemana? Tapi..." Amir menghentikan kata-katanya.
Aresha penasaran dengan ucapan Amir yang menggantung itu, "Tapi apa Mas? Jika tidak pergi berbulan madu juga tidak apa-apa. Toh kita di rumah melakukannya juga kan? Aku hanya menyayangkan tiket yang kak Leon berikan.."
Amir menangkup wajah Aresha.
"Sayang.. Kita akan berbulan madu, aku sudah merencanakan itu. Tapi... Tidak menggunakan tiket yang Leon berikan. Akulah yang akan membeli tiket sendiri. Bahkan, jika kamu ingin keliling dunia pun aku masih sanggup membelikan tiketnya,"
Aresha menatap manik mata Amir. "Kamu bicara apa, Mas? Lalu tiket kak Leon bagaimana? Apa kamu tidak menghargai pemberian dari orang lain?" Aresha bertanya lembut, agar tidak menyinggung perasaan suaminya.
"Tentu saja aku sangat menghargai pemberian dari orang lain. Kamu berikan saja tiket itu kepada sahabat, atau mungkin pegawai kamu di butik. Siapa tahu mereka ingin berlibur ke luar negeri!" Leon menaikkan sebelah alisnya.
Aresha terdiam, dia menatap kedua tiket yang Leon berikan.
"Aku punya ide!." Aresha tersenyum lebar membayangkan idenya.
"Apa?" Amir bertanya heran.
"......." Aresha mengungkapkan idenya, dan Amir terkejut mendengarkan ide sang istri itu.
***
Ada yang tahu apa kira-kira ide Aresha?? 🙈
**Hidungnya Mas Amir 😍😍
**
Happy Reading guys.. 🤗
See you next part bye bye 😘😘
Jangan lupa untuk meninggalkan jejak dan dukungannya 😍
__ADS_1
terimakasih 😘😘**