
Di kamar, Nindi tengah menelepon seseorang.
"Lo tau? gue bahagia banget.. Akhirnya impian gue tercapai, untuk bisa selalu bersama dengan Leon." ujar Nindi bahagia sambil terus mengelus perutnya.
📲"Selamat ya, aku juga sedang berusaha agar benih om Gilang bisa secepatnya berkembang di rahim ku. Dan aku bisa secepatnya juga menghancurkan kebahagian Om Gilang.." ujar seseorang di sebrang telepon, dengan tawa licik nya.
'Sebelum semua itu terjadi, gue akan kirim lo duluan ke neraka!' batin Nindi diiringi senyum jahat
📲"Halo, Nin.. Nindi! Kamu kok diam aja sih? masih mendengarkan ucapan ku tidak??" Alya berkata dengan nada kesal.
"Eh, iya.. Denger dong, gue doain supaya lo cepat menyusul gue.." Nindi tersadar dari lamunan ide jahatnya.
'Menyusul gue, tapi lo ke akhirat dulu.!" Nindi tersenyum miring. Sifat jahat nya semakin menjadi-jadi.
📲"Ya udah, aku tutup dulu ya telepon nya.. Jaga kesehatan mu."
Panggilan pun di putuskan sepihak oleh Alya. Di sebrang sana, Alya tersenyum licik.
"Kamu lihat saja Nindi, setelah hubungan Gilang dan istri nya hancur.. Maka kamu akan menyusul kehancuran mereka.. Kamu akan hancur, HIDUP KALIAN SEMUA AKAN HANCUR DI TANGAN KU!!!" Alya tertawa seram.
•
•
•
Pagi menjelang. Leon tengah bersiap untuk pergi ke kantor.
__ADS_1
"Kak, jangan memakai parfum itu. Aku tidak suka dengan baunya!" Nindi menutup hidungnya.
"Tapi, Nin.. Inikan parfum kesukaan ku!" Leon membantah ucapan Nindi.
"Kak, aku bilang jangan ya jangan dong!!" Nindi merajuk dan dia keluar dari kamar dengan wajah kesalnya.
Setelah melihat Nindi keluar, Leon menggelengkan kepalanya.
"Karena hamil,.kenapa kamu berubah sih Nin?" Leon menyugar rambutnya kesal.
Dia tetap menyemprotkan parfum ke kemeja yang dia pakai. Tidak peduli bagaimana reaksi Nindi nanti, Leon tidak ingin Nindi menjadi manja.
Leon keluar dari kamar. Dia melihat Nindi yang sedang menonton televisi sambil mengemil makanan ringan.
"Nin.. Aku mau pergi ke kantor." Leon berdiri di samping sofa yang saat ini Nindi duduki.
"Hoek.. Hoek..." Nindi memuntahkan seluruh cemilan yang baru dia makan tadi ke dalam wastafel.
Leon berjalan cepat menghampiri Nindi.
"Nin..." Leon memanggil Nindi
Nindi menaikkan sebelah tangannya, tanda agar Leon berhenti dan tidak mendekatinya. Nindi menghidupkan keran wastafel, dia mencuci mulutnya dan berbalik badan menghadap Leon.
"Jangan mendekatiku kak. Kakak tidak mendengarkan ucapan ku, aku bilang aku tidak suka wangi parfum itu. Tapi kakak malah memakainya! Ini juga permintaan anak kamu kak, bukan semata-mata maunya aku." Nindi berjalan meninggalkan Leon yang diam memaku. Leon sudah menduga, pada akhirnya memang dialah yang akan di salahkan.
"Argh..." Leon menendang udara. Dia pergi ke kantor, tanpa memperdulikan Anindira yang tengah kesal kepadanya.
__ADS_1
Di dalam kamar.
Nindi menelepon Silvi.
"Bun.. Kak Leon jahat banget, udah Nindi bilang Nindi gak suka wangi parfum nya, tapi tetap aja di pakai." Nindi terdengar geram
📲"Kamu yang sabar dong, nak.. Kamu jangan terlalu sering memarahi Leon. Kasihan dia, kamu sudah mendapatkannya, maka dari itu jagalah hati dan perasaannya. Jangan membuat dia bosan dengan mu!" Silvi memberikan nasehat kepada Nindi.
"Iya deh." sahut Nindi singkat
"Oh ya, Bun. Tante Silva belum Nindi beritahu bahwa Nindi hamil. Bunda sampaikan ke Tante nanti ya?" ujar Nindi tersenyum senang
📲"Iya.. Nanti Bunda sampaikan." ujar Silvi
Mereka berdua pun melanjutkan mengobrol ringan. Seputaran ibu hamil,.dan makanan yang harus di konsumsi agar Ibu dan bayi sehat.
**Ada yang kangen sama Bunda Silvi gak ? 😍😍
...
Happy Reading guys..
See you next part..
Jangan lupa tinggalkan dukungan dan jejak🤗**
__ADS_1