Hasrat Sepupu (Pengkhianatan)

Hasrat Sepupu (Pengkhianatan)
Bertemu,


__ADS_3

Pagi pun menjelang. Matahari sudah berada di atas langit memancarkan kilauan nya yang menyinari seisi bumi.


"Mari, Mas. Saya antar!" ujar Salma berjalan terlebih dahulu.


Ya, saat ini Leon dan juga Rendy sedang ingin pergi ke rumah Amir. Tentu saja dengan di antar kan oleh Salma. Mereka bertiga berjalan kaki menuju rumah Amir.


"Le.. Calon istri gue ini," Rendy berbisik di telinga Leon, saat mereka berjalan membuntuti Salma.


Leon menyenggol Rendy dengan lengannya.


"Seperti mau saja dia sama lo!" sahut Leon sinis


"Eh,, Jangan sembarang lo kalau ngomong. Sekali gue mengedipkan mata, klepek-klepek tuh cewek," ujar Rendy pelan agar tidak di dengar oleh Salma.


"Mimpi di siang bolong lo! Bangun woy bangun..." Leon memukul kepala Rendy dari belakang.


"Ck! kebiasaan lo main belakang." Rendy kesel dan dia berjalan cepat mendahului Leon.


"Woy Ren! tunggu gue," Leon pun mempercepat langkahnya.


Beberapa menit kemudian, mereka bertiga sampai di depan rumah Amir.


"Ini rumahnya?" tanya Leon kepada Salma .


"Iya!" sahut Salma singkat, kemudian dia mengetuk pintu rumah Amir.


Tok tok tok..


"Assalamualaikum!!" teriak Salma mengucapkan salam.


Hening..


Tok tok tok..


"Assalamualaikum, Mas Amir!!!" Salma mencoba mengetuk pintu lagi. Namun tetap tidak ada jawaban.


"Apa Mas Amir belum pulang ya?" gumam Salma pelan, namun masih terdengar di telinga Rendy.


"Memang kemana sih nih orang?" Rendy bertanya kepada Salma.


Salma melirik Rendy sekilas.


"Kemarin dia pergi ke rumah orang tuanya. Tapi tidak mungkin menginap, karena dia membawa calon istri nya ke sana." Salma berbicara lesu, saat mengingat bahwa Amir sudah memutuskan memilih Aminah.


Leon dan Rendy saling pandang, karena melihat nada bicara Salma yang terlihat lesu.


"Maaf, Nona. Lalu kita harus mencari Amir kemana lagi?" ucap Leon sopan. "Jika memang dia tidak ada di rumah, lebih baik kami pulang saja. Sangat malas menunggu seperti ini," lanjut Leon melihat ke sekeliling rumah Amir yang tampak sederhana.


"Kita lihat dulu ke gudang. Siapa tahu, Mas Amir pergi cepat hari ini." Salma menatap Leon dan Rendy bergantian


"Ayo!"

__ADS_1


Mereka bertiga pergi dari rumah Amir menuju ke gudang.





Di gudang.


Aminah berjalan ke arah ruang kerja milik Amir. Setelah sampai di depan pintu, Aminah langsung mengetuk pintu itu.


Tok tok tok..


"Masuk!!" teriak Amir dari dalam, dan tetap fokus pada pekerjaannya.


Pintu ruangan terbuka, dan Aminah masuk ke dalam.


"Mas!" Aminah berdiri di samping Amir dengan membawa kotak bekal di tangannya.


Amir menoleh dan dia tersenyum saat melihat wajah Aminah.


"Ya? Ada apa Minah?" Amir menghentikan aktivitas membaca laporan, dan dia menatap wajah cantik Aminah.


"Ini, Minah bawakan sarapan untuk Mas Amir," Aminah menyodorkan kotak makan yang dia bawa.


Amir menerima dengan senang hati. "Terimakasih," ucap Amir di iringi senyum manis. Tentu saja Minah membalas senyuman Amir itu.


Tok tok tok..


"Ada apa Midun?" tanya Amir kepada pria bernama Midun itu.


"Anu Mas.. Itu... Di luar ada tamu mencari Mas Amir. Mereka bilang ingin meninjau lokasi untuk pembuatan puskesmas," ujar Midun dengan nafas ngos-ngosan. Sebab, dia berlari saat menuju ke ruangan Amir.


"Meninjau lokasi?" Amir terdiam sejenak seperti sedang memikirkan sesuatu.


Amir menepuk jidat nya sendiri.


"Astaga, aku sampai lupa." Amir menoleh ke arah Midun. "Midun.. Suruh mereka masuk ke ruangan saya!" perintah Amir kepada Midun.


Midun menganggukkan kepala, dan dia pergi meninggalkan ruangan Amir.


Setelah Midun pergi, tak lama kemudian pintu ruangan di ketuk kembali.


"Masuk!!" teriak Amir saat mendengar pintu diketuk dari Luar.


Leon, Rendy dan Salma masuk ke dalam ruangan Amir.


"Mas, Minah pergi dulu ya? Gak enak nanti takutnya menganggu Mas dan tamu Mas Amir." ujar Minah dengan tubuh yang membelakangi pintu masuk ruangan.


"Kamu jangan gitu dong. Nanti jika kamu sudah menjadi istri ku, kamu juga akan terbiasa dengan hal seperti ini," Amir berdiri duduknya, dan dia menarik gemas hidung Aminah.

__ADS_1


Aminah hanya tersenyum dan dia membalikkan tubuhnya ingin pergi keluar dari ruangan Amir.


Namun saat Aminah menghadap ke arah pintu ruangan, Leon terpaku dalam keterkejutannya. Begitu pun dengan Rendy. Lidah Leon terasa kelu, dan matanya terasa enggan untuk berkedip.


"A... Aresha!" gumam Leon pelan, namun masih terdengar di telinga Salma.


Salma menyatukan kedua alisnya.


"Mas, anda bicara apa? Dia itu Aminah. Calon istrinya Mas Amir!" ujar Salma bingung.


Leon hanya diam, matanya menatap Aminah dan Amir bergantian.


"C..Calon istri??" Leon menggelengkan kepala dan berjalan maju.


"Aresha.. Iya kamu Aresha.." Leon tersenyum sendiri, dan tanpa rasa ragu dia langsung memeluk tubuh Aminah.


Aminah terkejut, begitupun dengan Amir dan Salma.


Amir berjalan mendekat ke arah Minah. Dengan cepat, dia melepaskan pelukan Leon dari tubuh calon istrinya.


"Maaf, Tuan! Bersikaplah sopan terhadap calon istri saya!" Amir berbicara dengan nada dingin.


"Dia.. Dia Aresha.. Calon istri ku!" Leon menatap wajah Aminah dengan lekat.


"Aresha? Saya tidak mengenalnya, Tuan. Saya ini Aminah, bukan Aresha!" Aminah membuka suara, dan dia memeluk pergelangan tangan Amir.


"Anda sudah dengarkan, Tuan? Dia ini Aminah, bukan Aresha atau pun calon istri anda!" Amir mengenggam tangan Aminah.


Salma yang menyaksikan itu, hanya tersenyum kecut.


'Ternyata kamu benar-benar mencintai Aminah, Mas.. Sudah tidak ada lagi harapan untukku.' Batin Salma bersedih.


Rendy yang melihat wajah sendu Salma saat menatap Amir dan Minah, langsung paham bahwa, Salma mempunyai perasaan spesial kepada Amir.


'Apa aku harus melupakan pesona gadis sholehah ini? atau aku harus memperjuangkan agar bisa mendapatkan hatinya? tapi sepertinya sulit.' Batin Rendy bermonolog, sambil menatap wajah sendu Salma yang terlihat menahan tangisnya.



**Abang Leon yang sedang putus asa.


VS**



**Mas Amir yang merasa kesal.🙈


..


Happy Reading..


See you next part cinta ..

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya 🤗🤗**


__ADS_2