Hasrat Sepupu (Pengkhianatan)

Hasrat Sepupu (Pengkhianatan)
Kejadian di butik


__ADS_3

Rendy sedang dalam perjalanan menuju butik.


"Permisi!" sapa Rendy pada salah satu pegawai.


"Ya?" sahut pegawai itu. "Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" lanjutnya.


"Saya sekertaris Tuan Leon, ingin mengambil Jas pesanan Tuan Leon," ucap Rendy


"Baik. Tunggu sebentar," pegawai yang tak lain adalah Sisil, berjalan menuju ruangan Aresha.


Tok


Tok


"Permisi, Mbak.." ujar Sisil sopan.


Aresha yang saat itu tengah bersenda gurau dengan Amir, langsung menoleh ke pintu.


"Ya?" Aresha menatap Amir sejenak, "Mas, aku ke sana dulu ya?" ujar Aresha


Amir menganggukkan kepala.


Aresha berjalan menuju pintu ruangan.


"Ada apa, Sil?"


"Itu, Mbak. Ada sekertaris Tuan Leon datang, katanya mau mengambil Jas pesanan Tuan Leon," sahut Sisil.


"Oh.. Tunggu! Kamu berikan kepada dia," Aresha berjalan menuju lemari koleksi Jas terbarunya.


"Ini!" Aresha memberikan Jas itu kepada Sisil.


"Baik, Mbak. Permisi!" Sisil pergi dari ruangan Aresha.


Aresha kembali menghampiri Amir.

__ADS_1


"Ada apa, sayang?" tanya Amir lembut


"Gak papa, Mas. Itu tadi, yang memesan Jas kemarin datang, dan aku memberikannya kepada Sisil," sahut Aresha.


Amir hanya mengangguk paham. Mereka berdua kembali bersenda gurau, sambil melihat-lihat rumah yang cocok untuk mereka beli. Aresha bersandar di pundak Amir.


Di luar ruangan.


"Ini Tuan Jas nya," Sisil menyodorkan Jas yang sudah terbungkus plastik putih panjang.


"Terimakasih," Rendy menerima Jas itu, dia tidak membayar. Sebab Leon sudah membayarnya terlebih dahulu.


Rendy pergi keluar dari butik. Namun saat baru membuka pintu, Rendy menabrak seseorang.


"Hei! Punya mata tidak sih?" bentak gadis itu memarahi Rendy.


Rendy mengambil Jas yang terjatuh dari tangannya.


"Loh loh.. Kok jadi anda yang nyolot? Jelas-jelas anda yang menabrak saya!" Rendy tidak mau kalah.


"Bukan urusan saya! Anda yang salah," ucap Rendy tidak terima


"Eh.. Dia yang salah, orang lain yang di salah'in!!" gadis itu berkacak pinggang.


"Seharusnya anda juga kalau jalan lihat-lihat. Jangan main handphone aja! Dasar, nenek lampir." Rendy langsung melangkah pergi meninggalkan butik, dia tidak menghiraukan ocehan kekesalan gadis yang menabraknya tadi, dia juga tidak peduli akan panggilan gadis itu.


"Hei! Dasar sialan!" teriak gadis itu kesal.


Kemudian dia masuk ke dalam butik.


Dia berjalan menuju meja kasir dengan menghentakkan sepatu yang dia pakai.


"Pria gila!" ujat gadis itu masih kesal.


Sisil yang melihat wajah kesal sang sahabat langsung bertanya. "Ada apa?" tanya Sisil heran.

__ADS_1


"Kamu lihat, Sil. Baju ku basah, gara-gara pria gila yang menabrak ku tadi," rajuk Lidia


"Pria gila? Emang di depan ada orang gila?" tanya Sisil polos.


"A..... Sisil!!! Kamu ini ya! Akh, bener-bener nyebelin." Lidia pergi menuju toilet, untuk berganti pakaian.


Sisil hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Pria gila? Memang ada orang gila? Kok aku baru tau ada orang gila berkeliaran di sini?" gumam Sisil sambil celingukan.


Di dalam mobil.


Rendy menyetir sambil membayang wajah cantik Salma.


"Salma, Salma.. Semoga saja kamu jodoh ku," ucap Rendy berbicara sendiri, sambil menyetir.


Rendy terus tersenyum, hingga bayangan wajah gadis yang tadi berani memarahinya terlintas begitu saja.


"Hi..." Rendy merinding sendiri.


"Amit-amit.. Ntar, kalau gue gak berjodoh dengan Salma, jangan sampai gue dapet istri kayak tuh gadis bar-bar tadi," Rendy menggeleng-gelengkan kepalanya.


***



**Mana pendukung sekertaris Rendy?? 🙈


...


Halo selamat siang semuanya..


Happy Reading guys🤗


See you next part bye bye ❤❤

__ADS_1


Jangan lupa berikan dukungannya dan jejaknya 😘😘**


__ADS_2