
Saat ini Leon, Silva dan Samuel sedang berada di desa Bangko Permata.
"Nak Leon, benarkah ini rumahnya?" Silva melihat sekeliling rumah sembari berjalan.
"Kata warga tadi memang ini rumahnya, Tante! Saya coba ketuk dulu,"
Silva menganggukkan kepala, dan mereka berdiri tak jauh dari pintu masuk.
Tok tok tok..
"Permisi!!"
"Iya sebentar!!" sahutan dari dalam.
Ceklek.
Pintu rumah terbuka dan keluarlah Ibu Juleha.
Dahi Ibu Leha mengerut.
"Cari siapa ya?"
Leon menatap Silva dan Sam, kemudian dia beralih menatap Ibu Leha.
"Permisi, Bu! Benarkah ini rumah Aminah?'' tanya Leon sopan.
"Iya benar! Saya Ibunya," Bu Leha menatap tamu nya bergantian.
"Maaf, Bu! Bisa kami bertemu dengan Aminah?" Silva membuka suara.
"Bertemu? Kalian ini siapa?" Bu Juleha penasaran.
"Kami ada penting sedikit dengan Aminah," sahut Samuel dengan wibawanya.
__ADS_1
"Tapi Aminah sedang tidak ada di rumah,"
"Boleh kami tahu dia kemana? Kami sangat ingin bertemu dengannya," ujar Silva memohon.
"Dia sudah pergi bekerja. Di gudang ikan milik Amir," ujar Ibu Leha.
"Oh.. Baiklah, kalau begitu kami permisi! Mari.." Samuel mengucapkan kata pamit.
Ibu Leha hanya menganggukkan kepala saja.
Mereka bertiga pun pergi dari rumah Ibu Juleha.
"Sam.. Aku takut kecewa, bagaimana jika gadis itu bukan putri kita? Mungkin hanya kebetulan mirip saja," Silva berjalan dengan memeluk tubuh Sam dari samping.
"Kita berdoa saja, Va! Semoga gadis itu memang benar putri kita,"
"Saya juga yakin, Om. Sepertinya dia memang Aresha. Maka dari itu, saya membawa Om dan Tante untuk menemuinya agar tahu dia Aresha atau bukan!"
Mereka bertiga masuk ke dalam mobil, dan mobil melaju menuju gudang ikan.
Mereka bertiga turun dan langsung berjalan ke arah gudang.
"Permisi!! Bisa.saya bertemu dengan Amir Arsalaan?" Leon berbicara sopan. Dia harus mengatakan ingin bertemu Amir, agar para pekerja tidak curiga.
"Anda tamu yang dari kota minggu lalu itu ya?" Midun bertanya untuk memastikan.
"Iya, benar!" sahut Leon di selingi senyum ramah. Sedangkan Silva dan Sam, mereka berdua hanya melihat interaksi Leon dan Midun saja.
"Mas Amir sedang tidak ada di gudang, Tuan!"
Leon menoleh ke belakang sebentar, melihat Iva dan Sam.
"Jika saya ingin bertemu Aminah? Apa bisa?"
__ADS_1
"Mbak Minah juga tidak ada di gudang. Mas Amir dan Mbak Minah sedang berada di kediaman orang tua Mas Amir. Tadi tiba-tiba orang tua Mas Amir menelepon agar membawa Mbak Minah ke rumah mereka. Karena saya dengar tadi, Mbak Minah dan Mas Amir ingin feeting baju pengantin," ujar Midun menjelaskan.
"Baju pengantin?" Silva bertanya heran.
"Iya, Nyonya! Mereka berdua kan mau menikah beberapa bulan lagi. Beberapa hari yang lalu juga sudah melaksanakan acara lamaran,"
Leon diam tak bergeming. Pupus sudah harapannya ingin kembali dengan Aresha. Mungkin ini adalah karma baginya, karena sudah mengkhianati cinta tulus Aresha.
"Boleh saya tahu alamat rumah orang tua Tuan Amir?" Samuel tidak sabar ingin bertemu gadis yang di katakan mirip seperti putrinya itu. "Kami sangat ingin bertemu dengan mereka, ada hal penting yang ingin di bicarakan," lanjut ucapan Sam agar Midun tidak berpikir negatif.
"Boleh, Tuan! Alamatnya ada di jalan Anggrek nomor 104 kota S,"
"Baiklah, terimakasih." Samuel tersenyum ramah. Lalu dia menepuk pundak Leon yang dari tadi hanya diam saja.
"Ayo Leon. Kita pergi ke rumah orang tua Amir,"
Leon menganggukkan kepala, dan mereka kembali ke mobil. Mobil pun melaju menuju kota S kediaman orang tua Amir.
...
**Hot Daddy numpang lewat 🙈
Ada yang tahu ini visual siapa??? 👆👆
....
Hai Semua...
Happy Reading..
See you next part, bye bye 🤗🤗**
__ADS_1
Jangan lupa berikan dukungan dan tinggalkan jejaknya 😘