
Keesokan harinya. Aresha dan para pegawainya tengah berbelanja oleh-oleh. Sebab, mereka besok akan pulang ke negara tercinta.
"Sayang, ini bagus gak?" Aresha menunjukkan gaun ibu hamil kepada Amir.
"Bagus. Sangat cocok untuk kamu," sahut Amir.
"Aku ambil ini ya? Siapa tahu, sepulang dari Jerman aku terus hamil, jadi bisa pakai baju ini." Aresha tersenyum senang.
"Iya sayang.." Amir mengelus lembut rambut Aresha. "Kamu pilih saja mana yang kamu mau, nanti aku akan membayar semuanya," Amir mengecup kening Aresha.
"Baiklah. Aku ke sana dulu," Aresha menunjuk rombongan para pegawainya.
Amir mengangguk, dan Aresha langsung pergi menuju para rombongan.
Beberapa menit kemudian.
"Mbak. Aku ke sana ya? Pengen liat-liat bunga, sepertinya indah. Aku ingin membelinya satu," ujar Lidia menunjuk tempat koleksi bunga.
"Ya sudah," sahut Aresha memberi izin.
Lidia tersenyum, dia langsung melangkahkan kaki menuju ke koleksi bunga itu.
"Bagus sekali," gumam Lidia berbicara sendiri.
Lidia terus saja memilih, hingga dia mendapatkan bunga tulip yang sangat indah. Tangan Lidia terulur untuk mengambilnya, namun seseorang di sebrang Lidia juga ingin mengambil bunga itu.
Lidia dan seorang pria di sebrang sana saling tatap.Tapi hanya sejenak, setelah itu mereka memutuskan tatapan mata tersebut.
"Maaf, Tuan." ucap Lidia sopan, dengan menundukkan kepala, dan melepas bunga yang tadi ingin dia ambil.
"Apa kamu mau mengambilnya?" tanya pria itu lembut.
"Tidak! Jika Tuan menginginkan bunga itu, ambil saja." sahut Lidia.
"Hei.. Kenapa kamu takut padaku?" pria itu berjalan menghampiri Lidia.
"Untuk kamu saja," ujar sang pria menyodorkan bunga tulip tersebut ke hadapan Lidia.
"Aku? Tapi bagaimana dengan-" ucapan Lidia terpotong. Karena pria tersebut dengan cepat menyelanya.
"Ambil saja. Jangan memikirkan ku, bukankah kita sudah saling kenal?" ujar pria itu yang tak lain adalah Leon.
Leon sengaja datang ke tempat itu, dia ingin membelikan bunga untuk Mamanya.
Lidia mengambil bunga yang Leon sodorkan di depannya.
__ADS_1
"Terimakasih," ucap Lidia merasa tidak enak.
"Sama-sama," sahut Leon dengan tersenyum tipis.
"Apa kamu menyukai bunga tulip?" Leon bertanya kepada Lidia.
Lidia menatap wajah tampan Leon.
"Ya, sedari kecil aku sangat menyukai bunga. Tapi, bunga Tulip lah yang paling aku suka," sahut Lidia sambil memegang bunga tulip pemberian Leon.
"Kebetulan, Mama ku juga suka dengan bunga Tulip. Maka dari itu, aku ingin mengambil bunga itu untuk Mama. Tapi, berhubung kamu juga menyukainya, untuk kamu saja," ucap Leon santai.
"Saya jadi tidak enak, Tuan. Sebaiknya, bunga ini untuk Mama Tuan Leon saja. Saya bisa mencari bunga yang lain," ujar Lidia.
"Oh tidak! Kamu tidak perlu merasa tidak enak begitu," Leon menatap wajah cantik Lidia, lalu dia mengedarkan pandangan.
"Kamu pegawai di butiknya Aresha kan? Siapa nama mu?" Leon bertanya.
"Ya Tuan. Saya pegawai di butik mbak Aresha. Nama saya Lidia,"
"Ya, Lidia. Kamu datang ke Jerman sendirian? Atau memang ada pekerjaan di negara ini?"
"Saya kemari dengan Mbak Rere, suami mbak Rere, dan para pegawai yang lainnya.." Lidia menatap arah lain saat berbicara. Entah mengapa, bicara dengan Leon berdua begini, membuatnya merasa canggung.
"Kalian rombongan? Kenapa tidak kelihatan yang lainnya? Dimana mereka?"
"Itu, di sana!" Lidia menunjuk ke suatu tempat.
Leon mengikuti arah jari telunjuk Lidia. Leon dapat melihat Aresha dan Amir, yang bersenda gurau. Mereka berdua terlihat sangat bahagia. Leon akan melupakan Aresha, dia akan mencoba merelakan Aresha dengan pria lain, asalkan Aresha bahagia. Itu semua sudah membuat Leon juga bahagia.
"Tuan!" Lidia menepuk pelan pundak Leon.
"Ya?" sahut Leon beralih menatap wajah Lidia.
"Saya ambil bunganya ya, Tuan. Permisi," Lidia ingin melangkahkan kaki pergi, namun Leon dengan cepat mencekal nya.
"Tunggu Lidia,"
Lidia menghentikan langkahnya, dan menoleh ke arah Leon. Lidia menaikkan sebelah alisnya.
"Biar saya saja yang membayarnya," Leon langsung berjalan ke arah kasir, sambil membawa bunga Lidia.
Lidia hanya terdiam melihat sikap Leon.
'Romantis,' Batin Lidia.
__ADS_1
Leon kembali dengan membawa bunga yang sudah dia bayar.
"Ini," Leon menyodorkan bunga itu.
"Terimakasih banyak, Tuan Leon," ucap Lidia.
Leon hanya mengangguk.
"Saya permisi," Lidia pamit, lalu pergi dari hadapan Leon.
Leon menatap rombongan Aresha dari kejauhan. Tanpa ingin menambah beban, Leon membalikkan badan, dan kembali memilih bunga untuk Mama nya.
Di tempat rombongan Aresha.
"Lid.. Bagus banget bunganya, dapet darimana?" tanya Aresha saat melihat Lidia sudah berada di dekatnya.
"Dari sana, Mbak." Lidia menunjuk tempat dia mengambil bunga tadi.
"Baiklah. Letakkan saja di sini, aku akan membayarnya nanti," Aresha menyodorkan trolinya.
"Tidak perlu, mbak. Ini sudah dibayar," ucap Lidia.
Aresha mengerutkan dahi bingung.
"Siapa yang membayarnya?"
"Tuan Leon." sahut Lidia.
"Kak Leon.." gumam Aresha pelan, dan melihat ke arah tempat yang tadi Lidia tunjuk.
Dari kejauhan, Aresha dapat melihat seorang pria, yang dia yakini itu adalah mantan kekasihnya, tengah memilih bunga.
.......
....
**Inka Lidiawati (Lidia) 🤗🤗
....
Happy Reading guys..
See you next part bye bye..🤗
__ADS_1
Jangan lupa untuk meninggalkan jejak dan komentar nya 😘**