
Pukul 04.00 wib.
Permainan panas antara Leon dan juga Lidia telah selesai. Sekarang, Leon tengah tertidur pulas di samping Lidia. Dia memeluk tubuh polos Lidia, yang hanya di tutupi selimut.
"Hiks... Apa dosaku? Kenapa harus seperti ini??" Lidia menangis terisak.
Dia menoleh ke arah Leon.
"Menjijikan!" sentak Lidia kesal. Dia melepaskan tangan Leon yang berada di pinggangnya.
Lidia turun dari ranjang, dia berjalan ke arah kamar mandi dengan membawa pakaiannya.
Lidia membersihkan dirinya menggunakan air shower, diiringi tangisan pilu.
"Hua... Kenapa semua ini terjadi padaku??? Kenapa harus aku... Engkau tidak adil ya tuhan, tidak adil...." Lidia putus asa. Dia terus menyirami dirinya dengan air shower.
Mata Leon mengerjap. Dia terbangun karena mendengarkan suara tangisan seorang wanita.
"Malam-malam begini siapa sih tuh yang nangis?" gumam Leon dengan suara berat, sambil membuka matanya.
Dia melihat sekeliling, hingga tersadar akan sesuatu.
"Lidia!" ucap Leon pelan menatap ke sebelah.
'Kosong'
Di sebelah Leon tidak ada siapa pun. Leon mendengarkan suara tangisan seorang wanita itu.
"Lidia! Dimana dia?" atensi telinga Leon mengarah ke kamar mandi.
"Di kamar mandi?" Leon langsung melompat dari tempat tidur, dia berlari kecil ke arah lemari dan mengambil celana bokser pendeknya.
"Hiks.. Hiks.. Hua!!!" Lidia masih terisak dalam tangis.
Tok
Tok
Tok
"Lidia buka!" Leon mengetuk pintu kamar mandi, sambil memanggil nama Lidia.
Lidia terdiam, dia menatap benci ke arah pintu yang masih tertutup itu.
"Lidia!!! Buka pintunya!" Leon terus mengetuk pintu.
Tidak ada jawaban dari dalam..
"Lidia!! Kamu mendengarkan ku? Aku bilang buka, atau ku dobrak pintu ini!" gertak Leon, agar Lidia mau membuka pintu.
"Mau apa lagi anda, Tuan? Apa belum puas anda melecehkan ku? Hah! Belum puas!!!" teriak Lidia sambil menangis.
Dengan cepat Leon mendobrak pintu kamar mandi. Betapa terkejutnya dia, saat melihat baju Lidia yang sudah basah kuyup.
"Lidia.." Leon berkata pelan, sambil berjalan ke arah Lidia.
"Stop!" Lidia mengacungkan jari telunjuknya.
__ADS_1
"Jangan mendekati ku!" ujar Lidia sarkas.
"Lidia aku-" langkah kaki Leon terhenti, sebab Lidia memundurkan badannya, hingga menempel ke dinding.
"AKU BILANG BERHENTI!" Lidia membentak Leon, dan menatap Leon dengan tatapan menghunus.
"Lidia.. Maafkan aku,"
"Hah.. Maaf? Anda bilang maaf?" Lidia berjalan ke arah Leon.
"Setelah anda merenggut kesucian saya, anda mengatakan maaf?" Lidia tersenyum miring sambil menghapus air matanya. Saat ini, dia tengah berdiri di hadapan dengan Leon.
"Apa maaf mu bisa mengembalikan keperawanan ku? APA MAAF MU BISA MENGEMBALIKAN WAKTU??? jawab aku Tuan JAWAB!" Lidia seperti kesetanan berbicara dengan Leon.
"Lidia.. Maafkan aku.. Sungguh, karena pengaruh obat itu aku tidak bisa berpikir jernih. Maafkan aku Lidia, aku mohon.." Leon bersujud di bawah kaki Lidia. Baru kali ini dia merendahkan dirinya seperti sekarang, dengan bersujud di kaki seorang wanita.
Lidia menatap lurus ke depan, dengan mata yang membengkak karena menangis terus.
"Aku ingin pulang!"
Leon mendongak menatap wajah sembab Lidia.
"Pulang? Tapi-''
Sebelum Leon meneruskan ucapannya, Lidia dengan cepat melewati Leon yang menatapnya sedih. Lidia terus berjalan keluar dari kamar mandi dengan baju yang basah kuyup.
Leon berdiri, dia menyusul Lidia yang sudah keluar dari kamar mandi.
"Lidia.. Aku akan mengantarmu,"
"Tidak perlu! Aku bisa pulang sendiri. Terimakasih atas kejadian yang sangat buruk ini." air mata Lidia lagi-lagi menetes tanpa permisi. Lidia menghapus air matanya sendiri, dia telah bertekad , jika nanti dia hamil, karena Leon menyemburkan cairan sisa cintanya ke dalam rahim Lidia terus menerus. Lidia akan mengurus anak itu sendirian, tanpa bantuan siapapun. Lidia meratapi nasib buruknya. Sesuatu yang mati-matian dia jaga untuk pria yang akan menjadi suaminya, malah hilang dalam beberapa jam saja.
Lidia membuka pintu kamar, dan dia keluar dari kamar Leon. Di luar kamar, Lidia menghembuskan nafas pelan.
"Semangat Lidia, kamu pasti bisa.." Lidia meneteskan air mata lagi, kemudian dia pergi dari depan pintu kamar Leon.
Lidia tidak ingin memperpanjang masalah, Leon orang berada. Jika di tuntut dan di bawa ke jalur hukum, tentu Lidia akan kalah. Karena orang kaya, bisa menyogok polisi. Lidia ingin meminta pertanggungjawaban, tetapi Lidia yakin, bahwa Leon tidak akan mau menikahinya. Pasti nanti Leon akan memberikan uang padanya, dan menyuruh dirinya pergi menjauh.
•
•
•
•
Di Jerman.
Matahari akan terbenam. Nindi tengah berada di Bandara bersama dengan Excel.
"Hello boy.." Nindi berjongkok dan memeluk tubuh putra Ex, yang baru saja sampai di Jerman untuk berlibur.
"Hai Mom.." putra Ex sangat bahagia bisa bertemu dengan Nindi.
"Mommy kangen sama kamu sayang," Nindi mencubit gemas hidung putra Ex.
"Ky juga kangen Mommy," putra Ex mencium pipi Nindi.
__ADS_1
Nindi tersenyum ke arah Zaky, yaitu putra Ex. Nindi juga mencium gemas kedua pipi Zaky.
"Hai semua.. Apa kalian berdua masih mau berada di sini?" Excel yang baru saja mengambil koper milik sang putra, langsung menghampiri putranya itu dan juga Nindi.
"Sorry Dad. Habis Zaky senang banget bisa bertemu dengan Mommy Indi," sahut Zaky, putra Excel yang sangat bijak.
"Baiklah.. Kita bisa melanjutkan acara kangen-kangen'an nya di rumah. Bagaimana?" Nindi menatap kedua bola mata berwarna hitam bening milik Zaky.
Zaky mengangguk, lalu mereka bertiga berjalan ke arah mobil Excel.
25menit kemudian.
Mobil telah sampai di kediaman Excel. Mereka semua turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah. Nindi dan Zaky berjalan terlebih dahulu di depan Excel, sedangkan Excel, dia berjalan di belakang dengan membawa koper dan tas milik Zaky.
"Honey.. Tolong antar Zaky ke kamarnya, aku akan menyiapkan makanan terlebih dahulu," perintah dari Excel.
Nindi mengangguk, lalu dia menatap wajah imut Zaky.
"Ayo kita ke kamar. Kamu harus membersihkan diri dulu, agar segar dan wangi. Setelah itu kita makan. Daddy akan memasak makanan kesukaan kamu. Benarkan Dad?" Nindi mengerlingkan sebelah matanya ke arah Excel.
"Ya ya ya... Pergilah ke atas, nanti aku akan memanggil kalian berdua.." ucap Excel lembut.
"Yeay.." Zaky bersorak bahagia. "Ayo Mom.. Ky udah gak sabar mau mandi," Zaky menarik tangan Nindi, berjalan menaiki anak tangga.
"Ky kangen banget sama masakan Daddy.." ujar Zaky saat mereka sudah menaiki anak tangga.
"Oh ya? Apa di sana masakan Oma tidak seenak masakan Daddy?" Nindi bertanya kepada Zaky .
"No! Masakan Oma kurang pas di lidah Zaky," sahut Zaky yang tangannya tengah di tuntun oleh Nindi.
"Ya sudah.. Yang terpenting, sekarang Daddy sudah memasak makanan kesukaan Zaky. Ya kan?" ujar Anindira.
"Mommy benar sekali. Ayo Mom, Zaky udah gak sabar pengen makan," Zaky menarik tangan Nindi agar lebih cepat berjalannya.
"Hei.. Hati-hati sayang,," peringatan yang Nindi berikan.
Excel yang melihat keakraban antara putranya dan Anindira hanya mampu tersenyum senang.
"Semoga saja, kamu yang akan menjadi Mommy sambung untuk Zaky, Nin.." gumam Excel membayangkan kebahagiaan Zaky saat bersama Nindi.
Excel meletakkan koper dan tas di ruang tamu, setelah itu dia berjalan menuju dapur, guna memasak makan malam untuk kedua orang yang sangat dia cintai.
Zaky dan Nindi sudah pernah bertemu sebelumnya, Zaky sangat menyayangi Nindi seperti ibunya sendiri. Dan hari ini, adalah ke tiga kalinya Nindi bertemu dengan Zaky.
****
Zaky Alexander 😍
...
Happy Reading..
See you next part bye bye..
Jangan lupa untuk memberikan LIKE, KOMEN, VOTE, DAN JUGA HADIAHNYA 🤗 Terimakasih😘
__ADS_1