
Matahari sudah menjelang dari ufuk timur. Di sebuah kamar mewah nan elegan seorang gadis cantik baru terbangun dari tidurnya. Saat membuka mata, pandangan yang pertama kali dia lihat adalah wajah lelah namun masih tetap tampan milik suaminya.
Ya, gadis itu adalah Aresha. Gadis yang sudah tidak perawan lagi akibat kelakuan Amir malam tadi.
Aresha memiringkan tubuhnya, dan memangku sebelah tangan sebagai penompang kepalanya, dan menatap wajah Amir dari dekat.. "Kamu tampan sekali, Mas.." gumam Aresha sambil terus menatap wajah tampan Amir.
"Aku memang tampan dari lahir," sahut Amir dengan suara serak sambil membuka kelopak matanya, dan itu membuat Aresha memundurkan wajahnya.
"Mas Amir, sejak kapan Mas Amir bangun?" Aresha salah tingkah
"Sedari kamu menatap wajah ku dalam diam," ucap Amir tersenyum melihat wajah Aresha.
Pagi ini adalah pagi yang sangat membahagiakan bagi Amir, sebab setiap pagi akan terus melihat wajah sang wanita yang sudah resmi menjadi istrinya itu.
"Oh.. Aku mau ke kamar mandi dulu,"
Sebelum Aresha turun dari ranjang, Amir dengan cepat menarik lengan Aresha hingga Aresha jatuh di atas tubuhnya.
Grep
Tatapan mata mereka saling bertabrakan.
"Sayang.. Sebelum kamu mandi, aku ingin pagi ini kita melakukannya sekali lagi," Amir tersenyum sambil menyelipkan anak rambut Aresha di telinga.
"Lagi? Mas, apa kamu tidak lelah sebab tadi malam melakukannya hingga dini hari?" Aresha heran melihat stamina suaminya.
Amir menggelengkan kepala, dan Amir mendekatkan bibir Aresha agar menempel di bibirnya. Namun sebelum itu terjadi..
Tok tok tok
Pintu kamar di ketuk dari luar.
"Aresha!! Amir!!Apa kalian sudah bangun?? Ini sudah siang nak, ayo sarapan.." terdengar suara Silva berteriak dari luar kamar.
"Mas itu--" belum selesai Aresha berbicara, Amir dengan cepat mengecup bibir Aresha lembut.
Cup
"Sudahlah sayang, biarkan saja. Ibu mertua seperti tidak pernah mengalaminya saja.." Amir berbicara dengan nada merajuk
"Tapi, Mas-" ucapan Aresha terpotong lagi.
Tok tok tok
__ADS_1
"Aresha!!! Amir!!!" Silva mengetuk pintu lagi.
"Ck!" decak Amir kesal.
"Astaga Mama mertua.. Kenapa datang di saat waktu yang tidak tepat begini," gumam Amir kesal dan merebahkan kepalanya di bantal.
Aresha hanya tertawa melihat wajah putus asa suaminya.
"Mas!! Kita masih bisa melakukannya nanti malam kan?" ujar Aresha
"Ya.. Baiklah," Amir memejamkan matanya untuk memenangkan sang junior yang sudah memberontak ingin keluar dari sangkarnya.
Aresha turun dari ranjang ingin menuju pintu kamar. Namun baru saja menurunkan sebelah kaki nya, Aresha sudah meringis.
"Aw...." gumam Aresha pelan.
Amir yang melihat wajah Aresha seperti menahan sakit langsung menghampiri Aresha.
"Sayang ada apa?" tanya Amir heran
"Itu... Bagian bawah ku perih," ujar Aresha sambil menahan rasa perih di bagian privasinya.
"Maafkan aku.. Aku gendong aja ya?" ungkap Amir merasa bersalah.
Aresha menurunkan kaki nya dari ranjang dengan perlahan, kemudian dia berjalan pelan menuju pintu kamar.
Amir yang melihat sang istri seperti itu hanya bisa menghembuskan nafas kasar.
'Apa tadi malam permainan ku sangat kasar?' itulah batin Amir dengan wajah bersalah.
Ceklek
Pintu kamar Aresha buka.
"Mami!!" seru Resha dengan wajah berbinar
"Sayang,, Kamu baru bangun?"
Aresha menganggukkan kepala dengan senyum yang terus terbit di bibirnya.
"Ya sudah, segera mandi dan turun ke bawah untuk sarapan. Jangan lupa ajak suami kamu, semua sudah menunggu di meja makan.."
"Iya, Mi!"
__ADS_1
Silva membalikkan bada ingin pergi dari depan kamar Aresha, namun di urungkan dan berbalik menatap Aresha lagi.
"Nak.. Apa kalian sudah tidak sabar menunggu bulan madu?" tanya Silva menggoda
"Hah? Maksud Mami apa??" Aresha yang tidak mengerti arti ucapan sang Mami hanya bisa menatap Maminya heran.
"Itu!!" Silva menunjuk ke arah leher Aresha yang terdapat jejak cinta dari Amir.
Aresha langsung memegang lehernya, dan dia baru ingat bahwa tadi malam Amir mengulum lehernya begitu lama.
"Em..." Aresha hanya tersenyum malu.
"Udah akh.. Mami bikin Rere malu,," pipi Aresha menjadi merona bak kepiting rebus.
Silva menggelengkan kepala dan tertawa pelan.
"Ya sudah. Cepat bersiap untuk sarapan, dan jangan lupa tutupi jejak dari Amir di leher kamu itu menggunakan concealer agar tidak kelihatan," ucap Silva memberi saran
Aresha menganggukkan kepala.
Silva pun pergi berlalu dari kamar Aresha, lalu Aresha menutup kembali pintu kamarnya dan dia langsung menuju kamar mandi tanpa menoleh ke arah Amir. Saat ini dia sangat malu, sebab sang Mami yang telah melihat tanda kepemilikan dari Amir
•
•
•
•
•
**TBC
...
Happy Reading..
See you next tomorrow guys.,🤗
Jangan lupa untuk meninggalkan jejak dan dukungannya selalu.😘
terimakasih** ...
__ADS_1