Hasrat Sepupu (Pengkhianatan)

Hasrat Sepupu (Pengkhianatan)
Perlengkapan bayi


__ADS_3

7bulan kemudian.


Pernikahan Excel dan juga Nindi berjalan dengan lancar, begitupun dengan pernikahan Rendy dan juga Salma.


Saat ini kandungan Aresha pun sudah menginjak usia 8bulan.


"Mas.. Kita ke Mall yuk? Belanja peralatan dan baju-baju bayi," Aresha menghampiri Amir yang sedang mengecek laporan pertambakan nya.


"Sayang.. Kita beli online aja ya? Aku takut kamu kecapean.." Amir menutup laptop yang berada di pangkuannya.


Aresha cemberut.


"Kalau capek ya berhenti dong Mas.. Apa di Mall gak ada kursi?"


Amir terkekeh pelan melihat wajah imut Aresha. Dia pun menarik hidung Aresha gemas.


"Baiklah. Mumpung ini hari libur... Lets go! Ganti pakaian kamu, kita akan pergi ke Mall."


Aresha berbinar dan menatap Amir.


"Seriously?? Akh.. Senangnya..."


Amir mengacak pelan rambut Aresha.


"Baiklah aku akan bersiap.." Aresha tersenyum sambil berdiri dari duduknya dengan perlahan. Kandungan Aresha memang masih 8 bulan, akan tetapi karena dia hamil kembar, maka perut nya sudah sangat besar. Hingga terkadang Aresha susah untuk berdiri ataupun berjalan.


Amir menggeleng melihat keantusiasan Aresha.


Beberapa menit kemudian, mereka telah selesai dan bergegas menuju ke mobil. Sesampainya di mobil, mereka langsung masuk dan mobil pun melaju meninggalkan halaman rumah Amir.


25Menit.


Mobil Amir sudah terparkir di parkiran Mall. Amir dan Aresha masuk ke dalam Mall dan mulai berkeliling mencari sesuatu yang calon bayi mereka butuhkan.


"Mas.. Ini bagus kan?" Aresha menunjukkan dua pasang baju bayi berwarna biru.


"Sayang.. Kita kan belum tahu jenis kelamin anak kita nanti cowok atau cewek.. Jadi, menurut ku, kamu beli saja yang warna biru dua pasang dan pink dua pasang.." Amir memberikan ide.


Aresha terdiam sejenak. Lalu dia menganggukkan kepala. Aresha dengan cekatan dan semangat mengambil berbagai model dan motif baju bayi berwarna Biru dan juga Pink. Tak lupa dia juga membeli popok untuk bayinya.


Setelah selesai, mereka langsung keluar dari penjualan perlengkapan bayi tersebut.


"Mas.. Aku lapar.." ujar Aresha pelan.


Amir mengedarkan pandangan.


"Ayo kita cari tempat makan.." Amir merangkul pundak Aresha, dan mereka berjalan bersama sembari Amir yang terkadang mengelus perut buncit Aresha, Amir juga mengajak ngobrol bayi-bayi yang berada di dalam perut Aresha.

__ADS_1


Brug!


Karena tidak melihat jalan dan asik mengobrol dengan bayi yang berada di dalam perut Aresha, Amir menabrak seseorang.


"Maaf Mbak.. Maafkan saya.." Amir membantu memunguti paper bag milik seseorang yang dia tabrak tadi.


"Tidak masalah Tuan. Saya juga tidak melihat jalan." ujar wanita itu.


Lalu Amir dan wanita tersebut berdiri.


Berapa terkejutnya Amir saat melihat siapa yang berada di hadapannya, begitupun dengan sang wanita yang terkejut melihat Amir.


"Kamu?"





Di tempat lain.


"By!!!!" teriak Lidia dari dalam kamar.


Leon bergegas menaiki anak tangga dan menghampiri Lidia. Ya, saat ini Lidia dan juga Leon tinggal di rumah baru mereka. Leon menjual rumah yang dulu dia tinggali bersama dengan Nindi, lalu membeli rumah baru yang tak jauh dari apartemennya.


"By.. Aku pengen minum es dawet." ujar Lidia. Sekarang Lidia tengah berbadan dua, dan usia kandungannya sudah menginjak 3bulan.


"Es dawet?"


Lidia mengangguk.


"Iya es dawet.. Duh, udah ngiler nih aku. Tolong beliin ya By?"


"Tapi aku gak tau dimana ada jual es dawet. Bentuknya aja aku gak tau yang kayak gimana,"


"Duh.. Kamu kan bisa cari di google. Jaman sekarang tuh canggih loh By, masa gitu aja gak bisa.." Lidia bersungut kesal.


"Em.. Aku akan menyuruh Rendy untuk membelinya." Leon mengambil ponsel ingin menghubungi Rendy.


"JANGAN!!" teriak Lidia, dan itu mampu membuat Leon terkejut. Untung saja ponsel yang berada di tangan Leon tidak terjatuh.


"Terus gimana sayang?? Aku harus cari es dawet dimana??"


"By.. Kamu kan bisa bawa mobil. Ya kamu cari di dekat gang rumah kita, atau dekat lapangan bola yang seberang jalan itu, atau dimana kek. Aku pernah lihat ada penjual Es Dawet di dekat sana.." ujar Lidia.


Leon terdiam.

__ADS_1


Lidia menatap Leon.


"Ih By.. Kenapa diam aja? Aku nangis nih.." jurus yang selalu Lidia layangkan jika Leon tidak mau menuruti keinginannya.


"Jangan jangan.. Oke, aku bakalan beliin kamu es dawet.."


"Nah.. Gitu dong. Es nya gak usah banyak, dan belinya 3bungkus, terus gak pakai lama.. Ingat kan By??" Lidia tersenyum manis ke arah Leon.


'Duh.. Ribet banget sih ibu hamil begini.. Ada aja yang di pengen.' batin Leon menggerutu.


"By.. Jangan meledekku dalam hati!" ucap Lidia tiba-tiba.


Leon membolakan matanya dan menggeleng cepat.


"Enggak kok.. Siapa juga yang ledekin kamu. Ya udah, aku pergi dulu.." Leon keluar dari kamar.


"CEPETAN YA BY!!!!!" teriak Lidia lagi.


"IYA!!! Bawel." Leon menyebutkan kata bawel dengan pelan. Jika Lidia sampai dengar, habislah dia. Bisa-bisa Lidia menyuruhnya tidur di luar.


Di dalam kamar.


"Yes!!" Lidia bersorak riang.


"Es dawet.. Datanglah padaku.." Lidia sudah mengkhayalkan meminum es dawet.






Siapa **tadi yang bertemu Amir ya?


Apakah Leon akan bisa mendapatkan es dawet pesanan sang istri???


TBC.


HAPPY READING GUYS..


SEE YOU NEXT PART..


JANGAN LUPA UNTUK MENINGGALKAN JEJAK DAN DUKUNGANNYA.🤗.


TERIMAKASIH 😘**

__ADS_1


__ADS_2