
Pukul 12.10 wib. Amir masih setia berada di tepian laut. Saat ini dia merubah posisinya menjadi duduk di pasir. Meskipun hari sudah menjelang siang, namun Amir tidak merasakan lapar sekalipun, dia enggan untuk beranjak dari tempat itu.
"Tuan, apa anda tidak lapar?"
Amir mendongakkan kepala melihat suara familiar yang barusan dia dengar.
"A...Aminah!" Amir bangkit dari duduknya, dan dia menatap lekat-lekat gadis di hadapannya saat ini.
Aresha hanya tersenyum manis melihat keterkejutan Amir.
"Kamu masih mengenalku?" ujar Rere menatap wajah tampan Amir.
Amir mengucek matanya berkali-kali berharap semua ini bukan mimpi atau halusinasinya saja.
"Apa aku bermimpi?" gumam Amir pelan sambil menepuk pelan pipinya sendiri.
Aresha tersenyum gemas melihat keheranan Amir saat ini, dia mencubit lengan Amir kuat.
"Aw,,," Amir meringis kala cubitan yang Aresha berikan terasa sakit di lengannya.
"Ini tandanya..." Amir menyunggingkan senyum bahagia
"Ini tandanya kamu tidak bermimpi," lanjut Aresha masih setia menatap wajah pangeran hatinya.
Tanpa berkata apapun lagi, Amir langsung memeluk tubuh Aresha.
"Aminah.. Aku sangat merindukanmu, aku pikir kamu telah melupakan ku," ucap Amir di saat mereka sedang berpelukan.
Aresha membalas pelukan Amir.
"Mas, mana mungkin aku melupakan calon suamiku sendiri. Bukankah kita sudah feeting baju pengantin dan tanggal pernikahan kita tinggal beberapa bulan lagi?" ucap Aresha mengingatkan kepada Amir .
Pelukan terlepas, dan Amir menggenggam jemari Aresha.
"Syukurlah kamu masih mengingat semua hal yang terjadi, saat kamu mengalami amnesia kemarin,"
Mereka berdua saling tatap dan tersenyum penuh kebahagiaan.
"Mas, aku ingin pergi ke rumah ibu. Apa kamu mau menemaniku?"
"Tentu! Aku akan menemani kamu, kemana pun kamu ingin pergi. Apa kamu baru sampai?"
Aresha menganggukkan kepala dan mereka berdua melangkahkan kaki bersama menuju rumah Ibu Leha. Ya, dengan berjalan kaki tentunya.
•
•
•
__ADS_1
Sesampainya di rumah Ibu Leha.
Tok tok tok
Aresha mengetuk pintu yang masih tertutup itu.
"Assalamualaikum,," teriak Aresha dari luar.
"Waalaikumsalam.. Sebentar!!" sahutan dari dalam dengan setengah berteriak
Ceklek
Pintu rumah terbuka dan terlihat Romlah yang menatap terkejut ke arah Aresha.
"A..Aminah! Aminah si anak pungut?" ujar Romlah heran melihat gaya berpakaian Aresha yang terlihat modis namun sederhana.
Aresha tersenyum manis.
"Iya, mbak. Aku Aminah, si anak pungut yang tidak pernah mengerti arti balas budi," Aresha menyindir Romlah yang pernah mengatakan bahwa dirinya tidak tahu balas budi.
Romlah tersenyum kikuk.
"Ada apa kamu datang kemari? Bukankah, kamu sudah bertemu dengan keluargamu yang kaya raya itu?" Romlah menatap sinis kearah Aresha.
"Aku datang kemari ingin menemui Ibu. Apa Ibu ada di rumah?" tanya Rere dengan nada lembut.
"Ada. Ibu sedang sakit, dia sedang tidur di kamar."
"Sakit?" Aresha bertanya dengan nada khawatir.
Romlah menganggukkan kepalanya.
Tanpa permisi atau menunggu di persilahkan masuk, Aresha langsung melangkahkan kaki menuju kamar Ibu Leha .
Sesampainya di depan kamar Ibu Leha.
"Ibu.." Aresha langsung masuk dan mendudukkan diri di pinggir ranjang.
"Bu,," ucap Rere lirih dengan mengelus punggung tangan Ibu Leha.
Perlahan kelopak mata Ibu Leha terbuka.
Beliau menoleh ke arah Aresha.
"A..Aminah," ujar Ibu Leha lirih
Aresha tidak sanggup menahan kesedihannya, hingga air mata menetes begitu deras di pipi Aresha.
"Bu..." gumam Resha untuk yang kesekian kalinya.
__ADS_1
"Apa benar kamu Aminah? Atau ibu hanya mimpi??" Ibu Leha terus menatap wajah Aresha.
Aresha menggenggam sebelah tangan Ibu Leha dengan kedua tangannya.
"Ibu gak mimpi.. Ini memang benar Aminah bu, anak Ibu," Aminah mengusap air matanya sendiri.
"Anakku,,," ucap Ibu Leha lirih sambil mengelus lembut wajah Aresha.
Aminah tersenyum tulus..
"Ibu kenapa bisa sakit begini? Apa ibu banyak pikiran? Atau ibu tidak menjaga pola makan?"
"Ibu hanya kelelahan, Nak.. Jangan terlalu khawatir seperti itu," Ibu mencoba tersenyum untuk menenangkan Aresha.
Aresha hanya menatap sendu ke arah Ibu Leha.
Amir masuk ke dalam kamar Ibu Leha dan berkata, "Maaf, saya lancang masuk ke kamar Ibu,"
Ibu Leha menatap Amir yang sedang berdiri di dekat pintu kamar.
"Tidak apa nak, masuklah!" Ibu Leha tersenyum tipis. "Kamu ikut datang kesini juga, Nak Amir?" lanjut Ibu Leha
"Iya, Bu!" Amir tersenyum tipis
"Syukurlah disaat Aminah sudah pulih ingatannya, Aminah masih mengingat kamu dan Ibu," ujar Ibu Leha kepada Amir
"Tentu saja Rere ingat dengan keluarga dan calon suami Rere yang berada disini," Aresha tersenyum manis.
"Oh ya, Bu! Rere mau menyampaikan bahwa, acara ijab kabul dan resepsi pernikahan Rere dengan Mas Amir akan diadakan dikediaman orang tua Rere.. Nanti orang suruhan Papi bakalan menjemput Ibu dan Mbak Romlah. Ibu setuju kan??" Aresha melanjutkan ucapannya.
"Ibu setuju-setuju saja. Doa ibu hanya ingin kalian berdua tetap bersama, bahagia selalu sampai akhir hayat," Ibu tersenyum menatap Amir dan Rere bergantian.
"Aminn..." Aresha dan Amir menjawab bersamaan.
Mereka melanjutkan obrolan kembali, dan Aresha juga memberikan uang untuk perobatan Ibu dan untuk Romlah membuka usaha.
•
•
•
•
**TBC..
Happy Reading guys..
Sampai jumpa di part selanjutnya 🤗🤗
__ADS_1
Jika kebahagiaan Aresha dan Amir serta anak-anak mereka nanti Mom terbitkan bareng cerita Babang Zizi (ADZRIEL) kalian pada setuju gak nih bestie????
Ayo unjuk suara kalian.😍😍**