
"kamu luar biasa." Judika menyeringai. Dan untuk sesaat gadis itu terperangah, terjebak ke dalam dimensi memabukkan yang pernah Stella rasakan. "Bisa mendeskripsikan perasaan orang dengan begitu detail. Tapi maaf sayang deskripsi kamu mengenai hati dan perasa Stella terhadap saya itu salah, karena faktanya saya dan dia sudah resmi berpacaran."
Gadis itu melongo, mengerjapkan matanya cepat. Ia tak percaya akan ucapan Judika, bagaimana bisa Stella yang dikenal manusia batu tak berperasaan juga anti negara menerima menjadi pacar seorang puitis dan kritis seperti Judika. Mustahil. Jika mereka menjalin persahabatan itu masih bisa di terima akal dan logika. Namun, tidak untuk berpacaran mereka begitu berbeda seperti; bumi dan langit, air dan api, atau timur dan barat. "You lie," katanya dengan bernada staccato.
"Jika kamu tidak percaya, kamu bisa hadir di acara makan malam menyambut kedatangan kakak saya satu minggu lagi. Saya akan membawanya, memperkenalkan dia kepada anggota keluarga saya."
__ADS_1
Mata gadis itu memanas. Kedua tangannya terangkat, sekejap mata mendorong tubuh Judika hingga membuatnya menjauh dari hadapannya. "Kamu sangat jahat kepada saya. Saya menyukai kamu, dan kamu tau itu. Tapi kamu malah menghancurkan hati saya, memporak-porandakan perasaan saya. Kamu manusia tak punya hati, Judi." Suaranya menggema begitu keras memenuhi kamar megah milik Judika. Saking kerasnya, volume suara tv yang masih memberitakan tentang ibunya pun kalah. Judika hanya berdiri, mematung dan membisu dengan suara deru napas yang tak teratur. Dia terlalu takut menyakiti perasaan gadis itu terlalu dalam, jika satu katapun keluar lagi dari mulutnya. Namun, ia juga tak bisa terus diam dalam kekangan cinta sepihak gadis itu.
Namanya Inggit, Inggita Sari Dewi. Gadis polos yang sangat menyukai seni sama halnya dengan Judika. Mereka bertemu takkala Judika dan sang ibu tinggal di kota Yogyakarta tujuh belas tahun silam. Kala itu usia Judika menginjak sepuluh tahun, dan Inggit enam tahun. Mereka bisa dikatakan teman sepermainan, selalu bersama setiap saat dan tak pernah terpisahkan. Kedua orang tua Inggit juga sangat berjasa, membantu berdirinya perusahaan multinasional, Hartanto Grup.
Dahulu, Judika begitu amat menyayangi Inggit, sampai-sampai ia berkata kepada Liliana ingin menikahi Inggit saat sudah besar nanti. Liliana yang menganggapnya hanya ucapan bocah kecil saja, hanya tertawa dan menghiraukannya. Namun, ternyata tidak untuk Judika. Lelaki itu tumbuh semakin besar dan menginjak remaja menujuh dewasa, dan rasa menyayangi kepada Inggit semakin dalam ia rasakan. Ia ingin lebih dari sekedar teman sepermainan Inggit. Judika ingin menjadikan Inggit bagian dari masa depannya. Namun, sayang tidak untuk Inggit, karena sifat bebas Judika yang tak suka di atur dan begajulan membuat Inggit tak mau menerima Judika. Inggit berkata, jika Judika seperti ini, hidup dengang mengandalkan kerjaaan sebagai seorang penulis lepas dan aktivitas kemanusiaan ia takkan pernah memiliki masa depan yang cerah. Mengandalkan itu saja, pasti akan membuat hidup Inggit dan anak-anaknya kelak sengsara.
__ADS_1
Selama itu pula, Judika bersahabat dengan Stella namun tak pernah sekalipun Judika menyatakan perasaannya kepada Stella. Ia takut, Stella akan menghindar dan menjauhinya jika tau perasaan dia lebih dari sekedar teman. Dan, setelah empat tahun juga Judika berhasil melupakan Inggit, kini gadis itu kembali ke dalam kehidupan Judika. Mempertanyakan lagi cintanya yang dulu untuk dirinya, dan memaksa Judika untuk mencintai dia seperti dulu. Tidak! Judika tidak bisa. Hatinya telah berbalik dan pergi menjauh dari Inggit. Gadis itu sudah terlalu jauh melangkah mendahului Judika. Meninggalkan lelaki itu di sumur hitam kegelapan seorang diri.
"Saya pernah mencintai kamu, itu dulu. Saat saya pikir kamu yang terbaik untuk saya. Saya berterimakasih kepada kamu, yang sudah sadar akan cinta saya. Namun, sayang rasa sadar kamu terlalu terlambat, Inggit. Kini hati saya bukan lagi menetap di hati kamu. Saya punya hati yang harus saya jaga dan saya kasihi. Karena hati yang saya jaga, takkan pernah meninggalkan saya walau bagaimanapun keadaan dan pekerjaan saya."
Setelah mengatakan itu, Judika meraih jaket dan kunci motornya. Ia bergegas keluar dari sana, meninggalkan Inggit yang mulai terisak menatap kepergian Judika. Kini, dirinya hanya bisa meratapi, kebodohan yang pernah ia lakukan dulu, melepaskan seseorang yang mencintainya begitu dalam hanya untuk sebuah materi yang tak abadi.
__ADS_1
TO BE COUNTINUE....