Hello, Mr Mafia!

Hello, Mr Mafia!
S2 : Bicara


__ADS_3

Pintu kamar berpintu ganda itu perlahan di buka bersamaan dengan degup jantung Stella yang berdebar begitu kencang hingga rasanya ingin keluar dari dalam sana dan menyembur di tenggorokan. Mulutnya tak berhenti berkomat kamit membacakan mantra kepada dewi. Berharap dewi Fortuna datang membantunya kali ini saja.


Saat manik matanya menangkap sepasang sepatu licin berdiri di ambang pintu kamar segera, Stella memalingkan pandangan, menunduk dan enggan untuk melihat siapa sosok di ambang pintu itu. Telinganya dapat mendengar jelas suara deheman seorang lelaki yang dia yakini milik Reza, dan dengusan kesal Mrs.Wheels.


"Stella, aku akan meninggalkan mu di sini. Ku harap kau tidak terlalu dekat-dekat dengannya, dia bukan lelaki yang baik. Dia kasar, dan dominan."


Kepala Stella hanya mengangguk menjawab ucapan Mrs.Wheels. Tanpa perlu di beritahu, Stella sudah pernah merasakannya. Reza memang kasar, dan dominan. Bahkan untuk membayangkan malam itu saja, Stella nyaris pingsan sekarang. Tidak! Dia tidak mau melakukannya lagi. Lebih baik dia menemani ikan pelihara Jones daripada harus tidur dengan Reza.


Mrs.Wheels pun pergi meninggalkan Stella. Wanita itu tak bergerak sama sekali, tetap diam membatu di tempat dengan tubuh yang mati-matian ia tahan karena bergemetar cukup hebat.


Sedangkan pemilik sepasang sepatu pantofel licin itu kembali berdehem, tapi kali ini dehemannya lebih keras dari sebelumnya.


"Maaf ada perlu apa ya, kamu memanggil aku ke sini?" tanyanya dengan nada terbata dan masih tetap sungkan menegakkan kepala menatap si pemilik sepatu.


"Nona, yang memanggil anda adalah Mrs.Oxley bukan saya."


Suara serak dan dalam milik pria itu seketika membuat, Stella menegakkan kepala berani. Jantungnya seakan baru saja naik rollercoaster di dufan yang bunyi mesinnya lebih creepy terjun dari ketinggian dan di hempaskan tanpa aba-aba. Tubuh Stella lemas setelah melihat orang di hadapannya bukan Reza melain Jones.


"Kau, kenapa kau di sini? Mana Mr.Oxley?" tanyanya sambil dengan memegang dadanya yang berdebar cukup keras.


"Mr.Oxley ada di dalam. Anda di mintanya masuk, karena ada satu perihal yang ingin beliau bicarakan."


Suatu perihal? Apa itu? Stella bermonolog di dalam hati. Apa jangan-jangan, Reza mengetahui dia baru saja mendapatkan telpon dari Chris. Sungguh, entah mengapa pikiran tentang Reza selalu saja kotor dan tak baik di otak Stella. Padahal, dia sedang hamil muda seharusnya dia tak boleh berpikir seperti itu kalau tidak mau wajah dan sifat anaknya menurun ke Reza.


"Perihal seperti apa?" Alis Stella naik turun, menatap Jones dengan mata menelisik.


"Lebih baik anda masuk, Mr.Oxley telah menunggu."


Sembari berdecak kesal dan menghentak kaki, Stella berjalan masuk ke dalam. Tapi sebelum, dirinya benar-benar masuk ke dalam kamar Reza, dia sempat berhenti sejenak tepat di depan Jones kemudian mendengus kesal melirik Jones dan kembali berjalan masuk ke dalam kamar.


Melihat tingkah Stella yang aneh, Jones hanya mampu menggelengkan kepala dan menyemangati dirinya sendiri untuk tetap bersabar menghadapi wanita hamil yang moodnya suka berubah-ubah. Ini bukan kali pertama untuknya, dia sudah pernah melewatkan masa di mana harus ekstra sabar dan tahan banting menghadapi wanita hamil yang sangat meresahkan dan kadang menyebalkan.


Pemandangan pertama yang, Stella dapati ketika masuk ke dalam kamar adalah sebuah ruangan kecil di mana di depannya ada dinding pemisah dan pintu kecil untuk menuju ke ruang lainnya. Di pojok dinding terdapat sebuah meja besar berwarna hitam yang terlihat kosong melompong tanpa di isi sesuatu di atasnya. Sedangkan di atas dindingnya terdapat sebuah foto hitam putih cukup besar yang menampilkan seorang tentara berbadan tidak terlalu kekar yang sedang menggendong senjata laras panjang.


"Siapa dia?" tanya Stella kepada Jones yang kini berada tepat di belakangnya.


"Mr.Oxley Senior."


Ya, foto tentara yang di pajang itu adalah Emmanuel Oxley ayah baptis dari kakak beradik Reza dan Chris. Jujur, Stella baru tahu sekarang jika ternyata Emmanuel bukan hanya seorang dokter ahli beda seperti Chris tetapi juga seorang tentara angkatan darat sekutu. Itu terlihat dari pakaian dinas yang dia kenakan. Kalau di lihat-lihat entah mengapa, Stella seperti sedang melihat Chris yang memakai seragam tentara. Sungguh, tuan Emmanuel memiliki wajah yang begitu mirip dengan Chris. Matanya, rambutnya, dan cara memandang benar-benar sama bak sebuah duplikat berbentuk manusia.


"Dia mirip, Chris." Komentar Stella.


"Aku juga merasa seperti itu," seru Jones seraya membukakan pintu kecil untuk Stella.


Stella masuk ke ruangan selanjutnya. Kali ini sebuah ruangan besar menyambut. Ruangan dengan designer lelaki banget, warna dinding putih, langit kamar hitam dengan sebuah lampu tempel besar menghias, alas yang terbuat dari kayu kualitas terbaik, gorden Navy tebal yang menutupi jendela dan balkon, ranjang empuk dengan sprei polos berwarna senada dengan dinding kamar, rak-rak buku yang tertata rapi, dan meja kecil di sebelah kiri ranjang yang berisikan banyak sekali berkas-berkas yang Stella yakini pekerjaan Reza.


Setelah puas melihat sisi ranjang, kini mata Stella beralih ke ruangan yang berada di depan ranjang masih menyatu dengan ruangan ranjang. Tak berbeda dengan kamar Stella, di sisi depan ranjang terdapat sebuah sofa panjang meja penuh dengan buah dan minuman kaleng dan televisi layar datar yang menempel di dinding. Juga ada sebuah bupet kecil di bawah televisi yang menyatu dengan perapian.


Kepala Stella menoleh ke arah Jones yang berdiri di sebelah Stella.


"Di mana, Mr.Oxley?"


Baru hendak menjawab, tiba-tiba seseorang keluar dari ruangan walk in closet yang letaknya di sebelah kanan perapian, sedangkan di sebelah kiri perapian terdapat pintu kaca geser yang langsung membawa kita ke balkon kamar.

__ADS_1


Stella menengguk saliva saat melihat yang keluar dari dalam ruangan adalah Reza yang hanya menggunakan celana tidur panjang tanpa menggunakan baju. Lagi-lagi pikiran kotor menyergap otaknya. Kepingan-kepingan memori tentang kejadian malam itu kembali teringat, refleks Stella beringsut mundur dan terjungkal hingga terduduk di sisi ranjang.


Melihat, Stella terjungkal seketika kedua lelaki itu menolah dan menatap Stella binggung. Wajah, Stella bersemu malu ketika di tatap oleh dua lelaki tampan itu.


"Wajah mu kenapa? Seperti udang rebus." Reza berjalan menghampiri meja, mengambil salah satu minuman kaleng dan membukanya.


Mata Stella berbinar, lagi dia menengguk salivanya ketika melihat tangan kekar Reza yang masih basar karena air sedang membuka tutup kaleng. Kekar.


"Tidak. Aku tidak apa-apa," kembali memalingkan wajah tak mau mengotori matanya dengan pemandangan di depan.


Bawah alam, Stella mengerutu kesal. Bisa-bisanya, dia terpana dengan Reza yang bertelanjang dada di depannya. Sungguh merasakan.


"Jadi untuk apa kau memanggil ku kemari?"


Reza berjalan kembali masuk ke dalam walk in closet, memilih baju yang nyaman untuk dia gunakan dan memakainya.


"Jones bilang dia tidak dapat menemukan sate padang keinginan mu, besok pagi akan ada koki dari London yang akan membuatkan mu sate padang."


Kening Stella terangkat. Ada rasa lega yang menyelimuti dirinya sesaat setelah Reza yang mengatakan alasannya memanggil dirinya hanya untuk memberitahu jika Jones tidak mampu menemukan makanan keinginannya. Tapi mendatangkan koki dari London, apa itu perlu?


"Mr.Oxley, kau tidak perlu memanggil koki dari London hanya untuk menghujudkan keinganan ku. Tak masalah jika sate padang yang ku minta tidak ada, aku mengerti ini di Inggris bukan di Jakarta yang hanya keluar apartemen aku sudah menemukan tukang sate padang yang lewat."


"Tak masalah. Kata Jones, dan Mrs.Wheels saat wanita hamil tidak di turuti keinginan ngidamnya, bayi yang akan lahir nanti berpotensi mengeluarkan..." menunjuk ujung bibirnya. "Liur."


Seketika mata Stella menerawang ke arah Jones, menatapnya dengan tatapan amigu.


"Kau percaya?"


"Ya. Hanya untuk jaga-jaga, aku tidak mau anakku seperti itu. Tidak lucu, bukan?"


"Ok. Terserah kau saja."


"Dan satu lagi. Tolong panggil aku Reza, just Reza."


"Baik, Reza."


"Good. Kau boleh keluar dari sini."


Tapi Stella tak menjawab, dia masih terdiam di sisi ranjang tempat tidur Reza. Duduk dengan menundukkan kepala seperti orang linglung. Termenung dan melamun.


"Hei, kau tak dengar atau kau mau tidur dengan ku malam ini?"


Stella tersadar dengan perkataan Reza langsung menggelengkan kepala cepat. Kepalanya melengos ke arah Jones yang mematung tanpa berkata sedikitpun.


"Boleh aku berkata sesuatu?" tanya Stella kepada Reza.


"Apa?"


"Uhm... Beberapa menit lalu, Chris menghubungi ku."


Byur...


Reza tersentak mendengar perkataan Stella, seketika minuman yang ia minum keluar lagi. Matanya memicing ke arah Stella, menelisik dalam-dalam pada wanita itu untuk mencari kebenaran akan ucapannya.

__ADS_1


"Apa katanya?" Tiba-tiba nada bicara Reza terdengar begitu dingin. Dia juga meletakkan kembali kaleng minuman di genggamannya ke atas meja dan berjalan mendekati Stella.


Reflek Stella beringsut mundur melihat Reza yang terlihat menahan gejolak emosi.


"Uhmm, dia... Dia mengatakan sesuatu hal penting mengenai Anne." Meski takut dan ragu, tetapi Stella tetap berusaha mengatakan sejujurnya kepada Reza.


"Jones, keluarlah. Aku ingin bicara empat mata dengan nona jurnalis ini."


"Yes, sir."


Jones berbalik badan, berjalan dan meninggalkan mereka berdua di dalam kamar.


Tubuh Stella berguncang hebat, dia semakin beringsut ke tengah ranjang sejurus dengan derap langkah Reza yang semakin mendekat.


"Za, ka... kamu mau apa?" tanya Stella gugup ketika Reza sudah ada tepat di sisi Ranjang. Mencondongkan tubuhnya ke arah Stella hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa sentimeter saja.


Kepala Stella menunduk dalam, tak berani menatap wajah Reza sedekat itu. Harum semerbak yang begitu khas tercium dari tubuh Reza ke indra penciuman Stella. Tubuh Reza terasa begitu nyaman sekaligus menakutkan.


"Ceritakan kepada saya apa saja yang dikatakan Chris kepada mu?" Bisik Reza di telinga stella sukses membuat wanita itu bergedik.


"Ta... Tapi kita tidak perlu sedekat ini."


Tangan kekar Reza meraba sisi ranjang, mata Stella melirik. Tangan dengan tatto buah persik itu terus meraba ke belakang bahu Stella, hingga sebuah benda pipih di angkat Reza dan di perlihatkan ke hadapan Stella.


"Saya mengambil ini." Kembali berdiri setelah mengambil ponsel yang berada tepat di belakang bahu Stella.


Stella menghela napas panjang. Sekali lagi dia Menggerutuki pikiran hatinya yang di penuhin pikiran kotor. Seperti, Stella harus mandi kembang tujuh rupa untuk menghilangkan aura dan pikiran negatif pada tubuhnya.


"Bicaralah."


"Chris sudah mengetahui segalanya, tentang Anne yang menikahinya karena dendam kepada mu. Dia juga mengatakan virus yang ku buat di modifikasi ulang oleh seseorang untuk tidak menemukan BUG sama sekali ketika program di jalankan, dan lebih menyebalkan lagi, Anne juga mengetahui jika aku mencoba menghubungi wolfman sebelum memasukkan virus ke sistem perusahaan mu."


Reza tak bergeming, dia hanya berkacak pinggang memperhatikan Stella dalam-dalam.


"Chris juga bilang jika dia tahu dimana posisi, Anne sekarang."


Kali ini Reza bereaksi, tetapi hanya sebuah helaan napas panjang saja. Seperti orang yang baru saja membuang beban berat di hati dan pikirannya.


"Dia bilang, Anne ada di Manchester. Chris akan memancing Anne keluar dari persembunyiannya, tapi tentu dengan bantuan mu."


"Bantuan ku?"


"Kita harus mencari adik kandung Anne yang selama ini dia sembunyikan dari dunia. Kita harus menculiknya. Dengan cara kita menculik adik Anne, Chris yakin itu akan memancing Anne keluar. Aku akan membawa adik Anne ke festival tahunan kota Manchester. Kita akan segera bertemu Anne di sana."


"Kau gila?! Festival tahunan kota akan di laksanakan lusa. Bagaimana caranya aku menemukan adiknya hanya dalam kurun waktu 24 jam?"


"Aku akan melacak keberadaan melalui internet. Chris akan mengirimkan ku beberapa berkas yang mungkin bisa menjadi petunjuk di mana keberadaan Keira adik Anne."


Alis Reza terangkat, sejenak dia menimbang-nimbang ucapan Stella.


"Kau yakin bisa?"


"Ya. Kenapa tidak? Ini satu-satunya jalan kita untuk menemukan Anne."

__ADS_1


"Baiklah. Akan ku persiapkan segala keperluan mu disini. Bersiaplah kau harus bekerja ekstra malam ini."


TO BE COUNTIUNE....


__ADS_2